Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Artikel YAKDI

Sabtu, 05 Februari 2011

Shalat dengan Komitment Kepasrahan

Shalat yang didirikan dan dibangun dengan dasar komitment kesetiaan kepada sang khaliq, akan terasa lebih indah dari pada shalat sekedar menggugurkan kewajiban! silakan dicoba!

Setiap program aplikasi ibadah yang digariskan Tuhan dalam Al-kitab, pasti memiliki banyak manfaat bagi kehidupan manusia. Tentang shalat misalnya, Allah menggunakan pengungkapan “dirikanlah shalat” (aqimisshalaat), bukan kerjakanlah shalat (ifa’lisshalaat). Kata mendirikan mengandung maksud lebih jauh dari sekedar melaksanakan. Ibadah shalat sarat dengan makna. Maka sejatinya tingkahlaku para peshalat mestinya seirama sejalan dengan ajaran kehidupan yang terkandung dalam shalat itu sendiri. Kalau dianalogkan dengan sebuah bangunan. Maka shalat yang dikehendaki Tuhan adalah ibarat sebuah bangunan yang berdiri dengan kokoh kuat, luar dalamnya.

Fungsi manfaat bangunan seperti itu tentu akan diperoleh penghuninya; melindungi, mententramkan penghuninya. Sebaliknya jika bangunan tersebut asal berdiri, penghunipun marasa tidak nyaman. Dihantui perasaan takut kalau sewaktu-waktu bangunan itu runtuh menimpa dirinya. Perkiraan saya, mungkin pengelola bangunan ini terlalu banyak bermain markup, sehinga proyek ini terkesan asal selesai, asal dilaksanakan. Hasilnya pun jadi asal-asalan. Boleh berdiri, tapi asal jadi. Atau malah akibat terlalu ngasal sehingga belum sempat samasekali “berdiri”. Baru mau diresmikan, bangunan sudah roboh duluan!

Kembali ke masalah shalat, saat sudah berdiri tegak, segera berlatihlah menepis segala masalah. Jangan biarkan terus menerus, bahkan hingga saat takbir pun sudah berkumandang, berkali-kali sudah ruku dan sujud ditempuh, tapi persoalan masih tergenang mendekam dalam ingatan, mendera pikiran! Shalat yang sejatinya menggring seluruh anggota tubuh untuk berhadap-hadapan dengan Alloh(dzikir) justru pikiran ini tak mau hinggap. Masih saja terus “melayang” entah kemana. Ia lebih dahulu pergi berkilo-kilo meter jauhnya, padahal sahalat belum sampai satu rakaat.

Tulisan ini sengaja mengajak pembaca juga penulisnya sendiri, kembali berlatih melibas semua godaan. Setelah itu, rasakan kebanggaan menjadi pemenang! Bagi yang lulus, reguklah nikmatnya bergumul dengan Tuhan menemukan manisnya Iman dalam kehidupan.

Ini lagi-lagi memang soal keyakinan. Yakinkah Anda bahwa Tuhan tidak pernah menjalimi hambanya? Yakinkah Anda, Tuhan tidak pernah berbuat tidak adil sesaatpun kepada mahluknya? Yes or No? Jika jawabannya tidak, atau kurang yakin, kepada Anda saya sarankan, jangan dulu beragama, jangan dulu akui adanya Tuhan! untuk apa bertuhan jika Tuhan yang kita sembah toh malah menyakiti. Iya kan?

Sekarang, bagaimana? jika anda sudah betul yakin, sepenuhnya, bahwa Tuhan tidak pernah curang, tidak pernah pilihkasih. Sedikitpun Tuhan tidak pernah mengabaikan hambanya, maka jangan tunda lagi, segera iqrarkan kembali syahadatain! Nyatakan dengan segenap hati (pengisiannya): “Hamba bersaksi bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Allah, tempat hamba menggantungkan segala persoalan dan urusan di dunia maupun di akhirat. Hamba beraksi bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Allah tempat hamba memohon bantuan, pertolongan dan perlindungan dalam segala hal, di dunia maupun diakhirat kelak. (lebih lengkap lihat uraian iqrar seorang muslim!di www.yakdi.blogspot.com atau www.yakdi.or.id).

Mengaflikasikan amalan ini dalam kehidupan, dengan keyakinan yang tinggi akan kebesaran Allah SWT, akan menggiring manusia memasuki “kuasa Tuhan”, bahwa Anda senantiasa sudah ada dalam backingannya, dalam genggaman perlindunganNya setiap saat. Logikanya, tak mungkin lagi suatu saat Anda salah-arah, salah jalan. Buktikan!

Setelah keyakinan (aqidah) betul sudah tegak lurus, barulah mendirikan shalat! Shalat yang merupakan rukun Islam kedua setelah iqrar syahadatain, adalah instrumen yang Tuhan berikan agar manusia tahan banting dalam mengarungi badai kehidupan. Hal ini, sejalan dengan kalam Tuhan sendiri: meminta tolonglah kalian dengan sabar dan shalat (wasytaiinu bishabri washalaat).

Setidaknya menurut saya ada sejumlah hal yang terlebih dahulu dipersiapkan sebelum pendirian shalat dilakukan.

1. Mempersiapkan mental untuk ikhlas dan senang menerima segala ketentuan Tuhan baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan. Yakinlah bahwa keputusan Tuhan pasti yang terbaik untuk hambanya. Usaha yang maksimal, adalah kewajiban manusia, tapi soal hasil (result) adalah wewenangnya Allah Tuhan Maha Kuasa!

2. Berbeda dengan pemberian setan, iblis dan mahluk bathil lainnya yang seringkali lebih instan dalam pemberian (Ingat: setan dengan kekuatan penuh, amat berambisi memenuhi permintaan seseorang. Tujuannya, menggelincirkan manusia dari kebenaran ), anugrah pemberian Allah, umumnya, justru mensyaratkan kesabaran lebih tinggi bagi penerimanya. Apa hikmah dibalik itu? Allah Maha Baik, rangkaian sabar, membuat manusia akan semakin bijak, jauh dari arogansi, dan lupa diri dalam kurun kemenangan. Sementara itu meskipun keinginan belum dalam genggaman, orang beriman, masih tampil lebih percaya diri, jauh dari prustasi, karena dalam mindset-nya sudah tergurat kuat : bahwa “ Tuhan punya maksud lain. Dengan pengetahuanNya yang Maha dengan segala Maha, Ia berencana memberikan hambanya, sesuatu yang lebih besar dari sesuatu yang dipinta”.

Ah, pemberian Tuhan benar-benar sesuai kapasitas luar dalam hambanya. Orang yang ikhas bersabar, hakikatnya ia sudah disertai Tuhan dalam setiap keputusannya. Tuhan sendiri kok yang bilang ia hanya mau berdekat-dekat diri dengan orang yang sabar! (Innawlaaha ma’as sabirin) Sabar, karena Allah melihat kesiapan kita untuk sebuah pemberian yang lebih berharga.

3. Jujur, mengukur kualitas dan kapasitas. Dengan aspek ini manusia akan ebih realistis mengukur dan mengukir potensi diri. Orang dengan tipe ini, tidak pernah merepotkan diri dengan sesuatu diluar kemampuan dirinya. Apalagi memaksakan kehendak sendiri kepada orang lain.

4. Sebelum shalat, lakukan thaharah dan wudhu dengan tertib, sesuai tatacara ibadah (fiqh) yang diyakini. Lengkapi dengan doa dan harapan dalam setiap gerakan! Jangan lupa baca doa sehabis wudhu. Mau lebih terasa lagi? Akhiri do’a tersebut dengan surat Alqadr!

5. Upayakan shalat sunnah terlebih dahulu sebelum menunaikan yang wajib. Utamanya shalat sunnah Taubat.

6. Terlebih dahulu sebelum takbir, bacalah hadiah al-fatihah untuk nabiyullah Muhammad SAW dan Nabiyullah Musa Alaihissalam. Jasa Nabi Musa, jarang sekali dikenang oleh kaum muslimin termasuk saat hendak shalat. Padahal beliau memiliki andil dalam penetapan kualitas dan kuantitas shalat saat isra-mi'raz bersama Nabi Muhammad SAW.

7. Berdiri tegak, saat lisan melapalkan Allahu-Akbar (ketika takbiratulikhram), balutkan sebuah pernyataan yang terucapkan (di hati) diantara lapadz Alloh dan Akbar tersebut dengan komitmen kepasrahan. Ikrarkan sepenuh hati, saat mulai lisan mengucap Allah (dalam Allahu-akbar) maka mulailah hati melapalkan : Allahu akbar kabiira wal-hamdulilllaahi katsiira wasubhaanawllahi bukratawaahiila dan seterusnya inna shalaatii wanuhhsukimwamahayaya amamamti, dan seterusnya hingga wama ana minal musyrikiin selesai, barulah tutup dengan kata Akbar.

Doa ini lebih popular disebut sebagai doa iftitah. Secara (fiqh) umum, iftitah yang berarti (kalimah penghantar/pembuka) dibaca jutru seusai pengucapan lapadz takbirratulikhram. Dalam tips ini, rangkaian kalimat tersebut bukan sekedar iftitah, sebab (misalnya, dari sisi artinya saja) ia mengandung sebuah pernyataan; buat-bulat hanya kepada Allah tempat menggantungkan seluruh masalah. Dari awal star, dipertengahan hingga di titik akhir lalakon perjalanan manusia, berpulang hanya kepadaNya! Sampai di titik ini, semua godaan duniawi yang bersarang dipikiran, segeralah benamkan! buang jauh-jauh jangan ada yang tersisa!

8. Pada saat tasyahud akhir, ketika pelapalan syahadatain, kembali nyatakanlah komitment awal. Yakni saat Lisan melapalkan kalimah syahadatain, ucapkan dalam hati, uraikan bahwa Tuhan sang penyelesai masalah! (lihat content paragraf ke limakalau bisa dilatih, diupayakan selengkapnya, lihat: ikrar seoarng muslim)).

Aplikasi ini jika dilakukan dengan sungguh-sunguh akan menggiring manusia hanya menjadi “robot”nya Allah. Maukah? Orang yang sudah menyatakan iqrar syahadatain secara benar, lantas meyakini bahwa Tuhan tidak akan pernah menyakiti hambanya, pasti akan sangat senang menjadi robot Allah. Senang bahwa seluruh aspek kehidupannya berjalan sesuai aplikasi yang di program kan oleh sang Khaliq.

Sahabat, pada gilirannya akan lebih terasa, bahwa Shalat yang dibangun dan diawali dengan pondasi kuatnya komitmen, akan terasa lebih indah dari sekedar shalat penggugur kewajiban. Silakan dibuktikan! Tinggal persoalannya adalah, maukah kita selaku hamba bersumpah, berkomitment untuk tetap setia kepada kehendak sang khaliq? Sejatinya syahadatain bukanlah ucapan, ia sebuah pernyataan sumpah setia kepada Tuhan. Tentu dengan segenap konsekwensi dan resiko yang ditimbulkannya. Masihkah mau berkomitment? Jawabannya ada pada masing-masing kita.

“Banyak orang yang shalat tapi tidak shalat,” kata Nabi dalam sebuah hadist. Sejalan dengan ingatan saya akan ucapan Nabi serupa, bahwa “banyak orang yang puasa tapi tak dianggap berpuasa (hanya menahan lapar dahaga saja). Yang lebih hebat lagi, coba tengok pernyataan Tuhan, “celakalah orang yang shalat (fawaylul lilmushalliin). Umumnya orang langsung berkesimpulan, “orang yang shalat saja celaka, apalagi yang tidak shalat”. Benar tentu begitu analisanya. Dengan demikian, usul saya, tetaplah shalat meski baru sebatas menggugurkan kewajiban.

Sesungguhnya, lebih jauh tentang ayat ini menurut saya adalah bahwa orang celaka karena ia “sudah merasa” cukup shalat, sementara ucapan dan kesantunannya, kegalauan kerisauan dalam hidupnya, sungguh jauh dari nilai shalat itu sendiri! Karenanya sudah saatnya kita kembali memperbaharui komitmen keimanan (tazdiidul iman) dan berupaya menghidupkan komitmen itu dalam kehidupan sehari-hari. Selalu bersyukur atas pemberian Tuhan, apapun. Dan sambil tetap bersabar, pandai menyikapi berbagai persoalan yang datang bermunculan. Meyakini bahwa Tuhan sang Penyelesai Masalah, Insyaalah akan menjadikan shalat terasa lebih indah!


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 10.43