Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Artikel YAKDI

Sabtu, 29 Mei 2010

ADZAB ALLAH YANG BELUM MAU BERHENTI....

“Adzab Allah masih akan terus berlangsung di Republik ini, dan belum akan ada gejala berhenti, baik oleh fenemona alam maupun kacaubalaunya tata-kelola pemerintahan yang mengakibatkan pada penderitaan rakyatnya!,” Sejak bangsa ini mengalami bebagai macam krisis, yang memuncak sampai sekarang, pernyataan ini belum terangkat dari segala dialog yang mengemuka pada muhasabah dan mudzakarah di Darul Iman Yayasan Akhlaqul Karimah Indonesia.

Ya, begitulah adanya. Prilaku negatif yang memberikan kontribusi terbesar dari semua derita ini antaralain diakibatkan:

Masyarakat dan bangsa Indonesia hampir sebagian-besarnya adalah musyrikin (menduakan Allah, punya Tuhan lebih dari satu).Lebih mengutamakan Jabatan dan kekuasaan sebagain Ilah (Tuhan), harta benda (kekayaan) juga perburuan kenikmatan, hawanapsu liar. Untuk memenuhi aspek ini, dan atas dasar Hak Asasi Manusia (HAM) serta aktualisasi diri, semuanya jadi segala boleh, segalanya bebas dan kemudiannya wanita sebagai objek sex menjadi bagian dari dunia industri, komiditi yang amat laris. Indikator dari apa yang saya sebutkan antara lain:

1. Kemunafikan luar biasa, terjadi di semua lini. Apa yang disanggahnya justru itulah yang dilakukannya. Nurani tertutup rapat oleh ambisi kekuasaan. Inilah tontonan yang tengah berlangsung di level eksekutif, legisltif dan yudikatif di negeri ini, negeri yang kemerdekaannya diperoleh dari tetesan keringat dan darah para pendahulu kita. Cobalah jujur, tengoklah fakta! Jawabannya pasti; kepentingan rakyat banyak, menjadi nomor urut paling belakang setelah kepentingan politik partai atau kelompok tertentu. Maka ramailah praktek suap, markus dan terbiasa bermian-main dengan anggaran.

2. Mencampurbaurkan antara agama dan adat istiadat, kebudayaan serta hal-hal yang berbau klenik. Kita bersyukur bahwa Bangsa ini memiliki aneka ragam kebudayaan dan adat sitiadat yang menajubkan. Namun ari sisi iman, hendaknya hal-hal tersebut tidak dicampurbaurkan menjadi atas nama ritual agama. Agama, ya agama. Adat istiadat atau kebudayaan ya ada wilayahnya sendiri. Jangan dicampur, dimodif jadi satu! Larung kepala kerbau ke laut misalnya, ya monnggo saja, kalau itu ritual adat, tapi boya jangan pake iringan shalawat. Mencuci keris, misalnya silakan saja kalau itu bagian dari adat atau kebudayaan lokal, tapi jangan diidentikan dengan ajaran tokoh penyiar agama tertentu di Pulau Jawa. Jenis-jenis acara adat yang dibungkus jadi satu dengan praktek ibadah tertentu jelas-jelas syirik/musrik. Mana fatwa MUI terhadap kasus semacam ini ? Enthalah....Yang pasti di sejumah pelosok negeri ini praktek seperti itu sangat mudah ditemukan.

3. Berhubungan dengan “orang pinter”, dukun(kahin). , Dari mulai kepala desa sampai pejabat paling tinggi di negeri ini, juga para eksekutif dan kaum profesional sebagian besarnya hampir bisa dipastikan berhubungan dengan “orang pinter”, ahli spiritual, dukun atau paranormal. Sebagai pelindung, atau antisipasi agar kekuasaannya tidak diambil alih pihak lain. Padahal merekaa tahu hukumnya, padahal mereka shalat dan beroibadah layaknya aturan syariat tapi ya itu masihmengandkankkeutan lain selaion Allah yang maha Berkuasa. Sahabat, tidak ada lagi dosa yang lebih dahsyat selain musyrik! Dosa yag tidal lagi mendapat ampunan dari Tuhan! Nah inilah pangkal utama turunnya adzab di Republik ini.

4. menjadikan ayat-ayat Allah sebagi zimat.Dalam praktek pengobatan alternatif hal seperti ini paling sering terjadi. Anehnya para pelakunya justru mereka yang konon katanya mengerti spiritual atau ahli hukum agama. Tengoklah praktek pengobatan alernatif yang menjamjur di televisi belakangan ini. Kerap kali para ahli terafis masih belum mampu mendeteksi bibit-bibit kemusyrikan dalam praktek pengobatannya. Umumnya ayat-ayat Allah yang terdiri dari huruf-huruf hijaiyah itu dikemas manjadi tulisan-tulisan dan kemudian “dirajahkan” ke badan pasien, untuk membangunkan aura positif juga menolak bala! Ada lagi yang dipasang sebagai sabuk, diikatkan kebadan pasien ada juga yang dibakar dan airnya lalu diminumkan. Akibatnya jika zimat itu tidak terbawa, pasien merasa tidak lagi pede, atau merasa “pasti” akan celaka karena sang zimat lupa tak terbawa.

Sahabatku, saya pastikan itu dusta belaka! Kalaupun diantara Anda ada yang sembuh dengan pola semacam itu, pasti lebih karena faktor sugesti (keyakinan). Sugesti yang ditiupkan secara halus oleh jin, syethan dan iblis. Para mahluk bathil itulah yang membantu kesembuhan anda. Dan juga akibat dukungannya pula, praktek semacam itu tak pernah sepi dari pengunjungnya. Sahabat, untuk sebuah kesembuhan banyak cara bisa dilakukan, tanpa harus merusak keyakinan, ini bukan soal iri dengki atas rizki orang. Saya hanya memastikan, sesuai dalil aqli dan naqlinya bahwa, pertolongan, bantuan dan perlindungan Allah SWT, hanya bisa diperoleh dengan jalan pendakian menuju Allah, yakin, ikhlas pasrah dengan segala ketentuanNya, beribadah serta mujahadah setiap waktu, serta sabar menangkis godaan syetan dan ikhlas menerima ujian Tuhan. Sekali lagi bukan dengan menempel zimat atau ayat kebadan!

5. Praktek lain yang menyimpang adalah pengobatan dengan mengalihkan penyakit kepada binatang tertentu. Orang yang beriman adalah mereka yang berakal dan berakhlak termasuk kepada bintang (rahmatan lil alalimin) Mereka adalah mahluk Allah yang juga mempunyai ruh, dan bagian dari penghuni alam yang menyandang jenis pelayanan sesuai kapasitas dan ketentuan Tuhan sang pencipta! Lalu apa salahnya para hewan itu sehingga harus menjadi korban? Jika ia disembelih sesuai ketentuan, seraya mengembalikan ruhnya kepada sang pencipta, diiringi dengan shalawat penyerahan, para hewan itupun bersyukur kepada Allah SWT. Itulah Ibadahnya mereka! orang yang memakannya pun terbebas dari api neraka. (do’a makan, coba lihat dan renungi artinya!) Maka saya pastikan tidak ada lagi darah tinggi, kolesterol, atau antrak yang menyerang manusia yang mengkonsumsi dagingnya.

Namun jika tidak, jangan heran, jika tidak sedikit manusia yang kemudian berakhlak dengan ahlaknya para hewan. Meskipun pada hewan-hewan yang tidak diharamkan. Sifat hewan melekat menempel pada prilaku manusia. Yakinlah, sebagai juga alam semesta, dan para mahluk Allah yang lain, para hewan itu berhak menuntut keadilan didepan Allah atas kesewenang-wenangan manusia, termasuk dalam praktek pengobatan yang membungkus populeritas dan komersialisme secara apik dengan mengatasnamakan agama. Sahabatku, kesembuhan dari penyakit seperti juga kesuksesan dan kekayaan, bisa diperoleh dengan jalan apa saja! Karenanya, selain para tabib, yang noteabene ustadz atau kiyai, hal semacam itu juga bisa dilakukan oleh tokoh agama lain.

Sahabat, karena dasar-dasar itu, Majeis Dzikir Darul Iman Yayasan Akhlaqul Karimah Indonesia, mengamanahkan kepada kita semua untuk membaca dan mengamalkan SIS, yakni Syahadatain, Istigfar dan Shalawat. Cobalah buktikan sendiri anugrah Allah yang akan diberikan kepada mereka yang mengamalkannya. Minimal masing-masing 100 x. Lebih diutamakan pada malam hari, atau waktu sahalat tahadzud. Syahadatain dilazimkan untuk memperbaharui iman manusia, agar senantiasa terhindar dari segala kemusrikan, baik secara lisan, perbuatan maupun i’tikad (keyakinan). Syahadatain ini (bukan syahadatain sebagai rukun shalat) adalah pengikraran iman seorang muslim; pernyataan kembali manusia kepada jati diri yang sebenarnya, sebagai hamba Allah, bukan sebagai penghamba jabatan, kekuasaan, harta, wanita atau budak-budak lainnya. Hendaknya syahadatain diamalkan sebagi update status kita dihadapan sang Pencipta.

Tahapan berikutnya adalah perenungan makna agar sikap keseharian kita seirama dengan isi pernyataan yang kita ikrarkan sendiri. Ini seolah-olah enteng. “Ach cuma syahadat,” begitu katanya. Tapi cobalah dulu buktikan, ikhlas karena Allah. Setelah itu banyaklah beristighfar sebagai pengakuan dosa yanag telah dilakukan dan shalawat sebagai tanda cintakasih kepada para utusan Allah SWT(Penjelasan, lihat: www.yakdi.blogspot.com)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 01.20