Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Artikel YAKDI

Senin, 17 Agustus 2015

Sekali Lagi Tentang Ber-Zikir

Ber-Zikir artinya adalah mengingat Allah, yang dalam prakteknya bisa dilakukan dengan cara mengulang-ulang kalimat Wirid. Pengulangan kata-kata wirid tertentu dalam ber-Zikir akan menimbulkan efek berupa bangkitnya energi hidup.

Dalam Al-Quran Allah menjelaskan bahwa yang disebut dengan hidup adalah siklus, sebagaimana air hujan maka ia berasal dari uap air laut yang kemudian menjadi awan mendung. Awan tersebut akan dibawa angin ke daratan sehingga apabila butiran uap tersebut sudah menjadi lebih berat maka turunlah hujan. Hujan akan mengairi sawah, ladang, dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan. Dan seterusnya air hujan itu akan mengalir ke sungai, sungai terus mengalir mencapai hilir dan akhirnya air itu kembali ke laut, tempat asalnya semula. Hidup adalah siklus.

Apabila dengan ber-Zikir kita membuat siklus pengulangan kalimat-kalimat wirid, maka energi hidup akan muncul. Besar atau kecilnya energi hidup yang dibangkitkan, tergantung dari seberapa fokus pikiran, perasaan dan bathin yang terlibat dalam mengulang-ulang siklus itu.

Berikut ini adalah tingkatan konsentrasi pengulangan kalimat wirid saat ber-Zikir:
1. Mengulang-ulang kata atau kalimat wirid, baik diucapkan maupun dalam hati, merupakan tingkatan yang terendah
2. Mengulang-ulang arti kalimat wirid tersebut dalam fikiran, memahami Nama dari Yang dipanggil dalam wirid itu
3. Meresapi makna dan rasa dari kalimat wirid, dan mengulang-ulanginya. Memisahkan antara arti kalimat wirid dengan rasa. Misalkan pengulangan kalimat: “Ya Rahman”, maka kita harus dapat memisahkan arti kata “Ya Rahman” (Ya yang Maha Pengasih) dengan rasa Pengasih itu sendiri. Kata-kata “Ya Rahman” adalah Nama (Ismu) sedangkan rasa Pengasih itu adalah Sifat. Apabila kita sudah bisa memisahkan kata dengan rasa Pengasih, maka artinya kita sudah mampu ber-Zikir dengan rasa dalam hati.
4. Apabila sudah mampu memisahkan Nama dari Sifat-Nya, maka ber-Zikir rasa dengan mengulang-ulanginya dalam Qalbu akan menggetarkan energi yang sesuai. Apabila kita meresapi Sifat dan mengulang-ulanginya, maka kata-kata atau kalimat wiridnya itu sendiri akan hilang (sirna atau fana). Apabila anda terus menerus mengulang-ulangi Zikir Rasa ini dalam Qalbu, maka akan tercapailah permulaan dari Hakekat.
5. Permulaan Hakekat dari Zikir itu apabila anda meneruskannya, adalah berupa munculnya Nur atau Cahaya dalam Qalbu. Apabila Allah berkenan maka sedikit demi sedikit akan terbuka rahasia Diri: dimulai dari Nur Insani, yaitu Cahaya dari Ruh anda sendiri.
6. Apabila anda terpesona dengan cahaya Insani itu, maka anda akan berhenti di situ. Akan tetapi apabila anda memutuskan untuk melanjutkan perjalanan Zikir anda lebih dalam lagi maka anda akan kehilangan rasa. Anda tidak bisa lagi memegang rasa Pengasih itu, karena ternyata yang selama ini memberikan rasa itu bukanlah Ruh anda, melainkan ada yang memberikannya. Yang memberikan rasa Pengasih itu adalah sesosok Nur atau Cahaya yang Mulia dan Terpuji. Beberapa ahli dan orang-orang yang berilmu menamakan Cahaya itu adalah Nur Muhammad, itulah cahaya azali yang pertama kali diciptakan Allah sebelum mahluk lainnya diciptakan.
Hanya sampai di sinilah batas akhir dari ikhtiar dan usaha anda untuk dapat menyelam menuju kepada Allah. Tidak ada lagi daya dan upaya yang dapat diusahakan, anda tidak akan mampu untuk dapat mencapai Allah.
7. Hanya dengan pertolongan dari Nur Muhammad itulah anda bisa mencapai kepada hakekat dari Allah, Yang Sejati. Anda sebagai mahluk tidak mungkin bisa mencapai Khalik. Oleh sebab itu maka tanggalkanlah diri anda, hancurkanlah ego dan kedirian anda sehancur-hancurnya sampai anda merasa yakin bahwa anda sudah tidak ada lagi. Saat itulah identitas anda sudah hilang, yang tinggal hanyalah Nur Muhammad saja yang akan membawa dirinya menuju Allah, dan atas perkenan Allah saja maka Nur Muhammad bisa menghadap kepada Nur Sejati, Nur Allah. Itulah saat sedekat-dekatnya antara Pencipta (Rabb) dengan mahlukNya (Nur Muhammad). Tidak ada dan tidak pernah ada yang lebih dekat lagi. Inilah pertemuan yang tidak mampu dan tidak boleh diceritakan, karena ini adalah pertemuan yg paling rahasia dan paling pribadi.
Demikianlah kami terangkan dengan ringkas titian jalan Shiratal Muttaqin yang berupa undak-udakan dalam 7 anak tangga. Yaitu 7 tingkatan dari mahluk menuju Allah azza wa jalla.

Sesuatu yang dimulai dari membangkitkan energi hidup, membangkitkan tingkatan spiritual, sampai akhirnya justru kita harus melepaskan semua itu. Melepaskan segala-galanya, karena ternyata diri ini adalah bodoh dan tidak mengerti apa-apa, lemah dan tanpa daya upaya, tidak memiliki fikiran karena ternyata fikiran kita adalah pemberian saja, bukan berasal dari diri kita sendiri. Tidak memiliki rasa karena ternyata rasa kita adalah pemberian saja, bukan berasal diri diri kita sendiri. Kita ternyata tidak memiliki apa-apa.

Dalam Zikir kita menyadari bahwa diri kita itu sebenarnya bodoh, tidak berdaya dan tidak punya apa-apa. Diri kita sebenarnya tidak ada, fana, nihil. Itulah hakekat diri kita yang sebenar-benarnya.

Yang Ada hanyalah Muhammad dan Allah saja.

Selamat menempuh perjalanan. (AK)



Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 23.55