Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Artikel YAKDI

Jumat, 27 Januari 2012

Membenci Kegelapan, Menghujat Cahaya

Wajib mengingatkan. Itulah salah satu fungsi manusia sebagai mahluk sosial. Dalam Islam dikenal konsep amar ma’ruf nahyi munkar alias menganjurkan berbuat baik dan mencegah terjadinya penyimpangan atau perbuatan jahat. Dalam Alqur’an Allah SWT menyebut kaum muslimin sebagai “umat terbaik” karena konsistensi menjalankan misi tersebut.

Saya mungkin awam. Tapi menurut pengamatan saya, porsi nahyi munkar jauh lebih dominan dari amar ma’rufnya . Kondisi ini seolah menggambarkan bahwa sebagian besar masyarakat kita lebih dominan mengkritik, mengomentari bahkan “menghardik” pihak lain ketimbang mencontohkan menauladani kebaikan itu sendiri. Paradok memang, mengantisipasi munculnya tindak kejahataan, tapi pada saat yang sama memberlakukan pola-pola konplik kekerasan dan pemaksaan.

Berawal dari konplik kepentingan, membuat niai-nilai obyektifitas jadi rancu. Seringkali komentar-komentar sinis bermunculan hanya karena si pengkritik atau pemberi saran, berbeda "aliran" atau beda kelompok kepentingan. Akibatnya kritikan, saran atau tanggapan dianggapnya angin lalu saja. Anjing menggonggong kafilah tetap berlalu. Baru, seseorang misalnya akan lebih memberi keberpihakan lebih, terhadap pihak lain yang dianggapnya sama; sama interes, keyakinannya, termasuk juga sama musuhnya.

Siapa yang menjadi “anjing” siapa pula “kafilahnya”, jadi kurang urgen. Yang penting disadari adalah bahwa tidak akan ada perubahan apapun dari seseorang atau institusi jika jauh-jauh hari ia sudah merasa aman dan memastikan “tak lagi bermasalah”. Inilah alasan pentingnya evaluasi. Bahwa orang bisa berubah karena sadar harus ada yang dirubah.

Sayangnya negeri ini masih teramat miskin dengan kejujuran. Akibatnya, ketauladanan, kian menjadi baranglangka. Tak cukup hanya sekedar menghujat dan mengkritik, seperti juga betapa naifnya, jika waktu habis hanya untuk menutup-nutupi atau siaga membela diri. Janganlah karena kelemahan diri sendiri, menjadi pemicu untuk menghujat orang lain. Membenci kegelapan, menghujat cahaya. Janganlah.


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 07.37