Senin, 11 Desember 2017              Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Inti Ajaran YAKDI

Senin, 16 Maret 2013

DZIKRULLAH dengan Spiritual Islamic System (SIS) dan Tatacaranya

.....Karena itu ingatlah kamu kepadaKu, niscaya aku ingat pula kepadamu, dan bersyukurlah kepadaKu, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)Ku (Al-baqarah: 152)

Dengan dzikir setiap kesusahan akan menjadi mudah. Dan setiap kesulitan akan ada jalan keluarnya. Pada hati manusia terdapat suatu ruangan yang tidak akan terpenuhi kecuali dengan dzikir.

Jika hati mulai berdzkir maka tidak hanya ruangan hati saja yang akan terpenuhi, tetapi seluruh anggota tubuh lainnya. Hidup dengan damai., serta percaya diri yang kuat. Menjadi kaya, walaupun tanpa harta, terhormat, walapun tanpa dukungan masa dan keluarga.

Sebaliknya orang yang lalai dari dizikir, meskipun banyak harta, keluarga dan kekuasaan, namun ia tetap dalam keadaan hina. Ibnu Taimiyah mengatakan dzikir bagi seseorang Muslim seperti pengaruh air terhadap ikan.” Dapat dibayangkan bagaimana ikan hidup tanpa air.

Apa itu SIS ?

SIS singkatan dari syahadat, istighfar dan shalawat. Disebut SIS hanya untuk mudah mengingatnya.

SIS apakah satu kesatuan ?

Tidak mungkin mengenali Allah SWT, tanpa terlebih dahulu mengenali diri sendiri. Itulah alasannya, mengapa SIS penting, yakni agar manusia senantiasa hidup seirama dengan kehendak dan ketentuan Allah. Orang yang telah mengenali dirinya berarti akan selalu waspada dalam menjaga imannya, menyempurnakan akhlaknya terus menerus, serta memperbanyak istighfar atas fitrahnya sebagai manusia yang tak luput dari salah. Berikutnya senantiasa bershalawat kepada Rasulullah. Sebab, mencintai Allah tidak mungkin tanpa mencintai dan mengikuti jejak para Nabi dan Rasul Dengan demikian amalan ini merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.

Apakah Faidah Mengamalkan SIS ?

Tidak ada jaminan seseorang bisa terbebas dari segala kufur dan musyrik setiap harinya. Paket SIS merupakan instrument pembuktian kebenaran firman Allah SWT. Karena itu jika dibaca dengan ikhlas, maka sesuai janji Allah dalam Al-kitabnya, Allah akan mencurahkan berbagai kebajikan pada hambanya—kemudahan hidup di dunia maupun di akhirat, memperoleh bimbinganNya setiap saat, serta diangkatnya berbagai musibah dan rupa-rupa penyakit baik lahir maupun bathin, dan kebajikan lain yang semuanya, kembali kepada wewenangnya Allah—sebagai bukti atas kemaha- besaranNya. Pastinya, dengan SIS seseorang telah mengambil langkah konkret untuk menjaga kualitas Iman, memelihara kesucian dirinya. Dan yang penting memperbaharui iman islamnya!

Apa itu ikrar Syahadatain ?

Ikrar syahadatain atau persaksian Iman merupakan pernyataan membenarkan keberadaan Allah dan Rasulnya bahwa laa-ilaaha ilawlaah Muhammad Rasulullah (kalimah thaibah) ”Tidak ada Tuhan melainkan Allah”. Ketika seseorang meyakini kebenaran kalimah thaibah dan mengikrarkannya, seraya menerima konsekwensi dari sumpah-setianya kepada Ilahi rabbi, maka pengucapan kalimah tersebut akan diawali dengan kata Asyhadu. Maka sejak itu, kalimat thaibah menjadi kalimat persaksian iman. “Asyhadu allaa-ilaaha il-lawlaah wa-asyhadu anna Muhammad-rasuulullah.” Kalimat itulah yang mesti diikrarkan sebagai gerbang awal seseorang menjadi muslim. Dengan demikian sejak saat itu, seorang muslim hanya memiliki satu Tuhan, yakni menggantungkan seluruh persoalan dan urusan hidup dan kehidupannya di dunia maupun di akhirat hanya kepada Allah SWT. (lihat : “Kandungan Makna Syahadat!, syahadat lengkap)

Syahadat mengapa harus dizkirikan?

Syahadat adalah rukun Islam yang pertama. Ia merupakan inti ajaran Iman dan risalah yang dibawa oleh semua para nabi. Ajaran Tauhid tidak mensyaratkan keturunan sebagai dasar imannya seseorang. Seperti keluarga yang non muslim, keturunannya ada juga yang islam, demikian juga keturunan muslim, tidak otomatis syah sebagai pemeluk islam, sebab sebagian dari keluarga muslim ada juga yang non muslim.

Seperti pelaksanaan rukun Islam lainnya tentang yang mensyahkan dan membatalkan ibadah, demikian juga dengan Syahadatain (Iman). Iman seseorang bisa turun naik atau bahkan lenyap dari pemeluknya. Akibatnya, membuat manusia menjadi musyrik atau murtad, seumpamanya, tidak senang diatur oleh ketetapan sang Khaliq,.menduakan Allah dengan jabatan, benda atau azimat yang disakralkan, berburuk sangka kepada Allah, melakukan persekutuan dengan jin, dan lain sebagainya.

Hal-hal demikian antara lain yang membatalkan syahadatain. Karena itulah para ulama Tauhid sepakat menganjurkan tazdiidul-imaan atau memperbaharui (update) Iman setiap saat. Menjadikan syahadat sebagai amalan dzikir(wirid), adalah upaya memelihara iman bagi manusia. Yang demikian hukumnya wajib.

Cukupkah kalimah Thaibah ?

Penyebutan “Kalimah taibah” yang lazim berbunyi la-ilaaha il-lawlaah-- terdapat dalam surat Ibrahim ayat 24-26. Hal ini merupakan pengakuan (itiraf) bahwasanya Tidak ada Tuhan melainkan Allah. Hanya Allah Tuhan sang pencipta, pemilik alam semesta.. I’tiraf dengan mensucikan keberadaan Tuhan (tasbih), atau mentahlilkan dilakukan oleh seluruh mahluk dibumi dan dilangit seperti tumbuh-tumbuhan, hewan, gunung, termasuk juga bangsa jin.(sebagian beriman, sebagiannya lagi membangkang).

Kemudian agar terjadi harmonisasi di alam raya ini, Allah menurunkan Islam sebagai agama untuk manusia. Karena itu ikrar keimanan memang hanya diperuntukkan bagi manusia, sebab berbeda dengan mahluk lainnya, manusia akan diminta pertanggungjawaban atas sepak terjangnya selama hidup di dunia. Dengan demikian, untuk menjadi beriman, manusia dituntut bukan hanya sekedar I’tiraf melainkan mengiqrarkan keyakinan itu sendiri sebagai prosedur keislaman seseorang. Menyatakan kesaksian atas kebenaran yang diyakini (Isyhaadu Biannaa muslimuun). adalah bagian dari rukun syahnya syahadat.

Hadist Aisyah RA menuturkan, maksud ayat 24-26 pada surat Ibrahim diatas adalah kesaksian, “Ketika diajukan pertanyaan terhadap ahli kubur, maka salah satu pertanyaannya adalah: apakah kesaksianmu?: Maka orang beriman akan balas menjawab, Asyhadu allaa ilaahaa il-laulah-wa-asyahadu-anna Muhammad Rasuulullah.(Maulana Muhammad Zakariya : fadhailul amal hal 425) Begitu kuatnya pengaruh tauhid dalam kehidupan orang yang beriman, sehingga kalimah persaksian iman disebut Allah dalam lanjutan ayat tersebut dengan istilah qaulus-tsaabit (ucapan peneguh, yang menetapkan (keimanan).

Mengapa Istighfar diwiridkan ?

Tidak ada manusia dimuka bumi ini yang bebas dari segala dosa setiap harinya baik disengaja maupun tidak. Akibat tindakan sendiri maupun sebab ulah pihak lain. Sebagaimana Rasulullah yang sudah dimaksum (terpelihara) dari tindakan salah, beliau tak kurang 70 x bermohon ampun setiap harinya , maka itu memperbanyak istigfar yang berarti pertaubatan hukumnya wajib.

Mengapa wirid Shalawat ?

Shalawat dimunazatkan sebagai tanda cinta kepada Rasulullah dan para nabi. Sebab tidak mungkin manusia memperoleh perkenan dan kasih sayang Allah tanpa syafaatnya Rasulullah. SAW.. “Allah dan para malaikatnya bershalawat kepada nabi,” demikian disebutkan dalam surat Al-ahzab : 56. Doa yang dimunazatkan seorang hamba tak akan bisa sampai kepada Allah tanpa bershalawat kepada Rasulullah. Jadi hukumnya bershalawat adalah wajib.

Tata Cara Wirid:

  • Didahului dengan sholat wudhu dan sholat taubat.
  • Setiap habis sholat wajib lima waktu, atau membaca dzikir sholat (karena sebaik-baik dzikir, afdhalu dzikri fa’lam annahu :asyhadu anlaa-ilaaha-ilawlaah wasyhadu...) diwiridkan berturut-turut. yakni. Syahadat 100 kali, Istigfar 100 kali, Shalawat 100 kali.
  • Amalan ini, jika dimohonkan sebagai bentengan atas godaan atau ujian kehidupan, sangat diutamakan untuk diwiridkan malam hari yakni pada waktu yang di gunakan sholat malam(tahadzud). Maka hendaknya disertai juga dengan shalat istikharah, ta’atal hazat, dan tahadzud.
  • Diakhiri dengan do’a. Diutamakan do’a permohonan ampunan kepada Allah SWT dan segala perkenannya (ridha) Allah semata (ibtighaa mardhaatillaah).
  • Dianjurkan mengahiri semua rangkaian dengan sholat witir.


  • Diposkan oleh Yayasan Akhlaqul Karimah Darul Iman Indonesia.