Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Selasa, 22 Desember 2015

Bertawakal Kepada Allah

Saudara-saudaraku, meyakini sesuatu adalah suatu keharusan. Kita tidak boleh melakukan suatu ibadah tertentu tanpa didasari oleh suatu keyakinan yang kuat. Apabila ada suatu keragu-raguan di dalam hal sesuatu maka sebaiknya kita tinggalkan perkara tersebut.

Begitulah kiranya pendapat kita dan sebagian besar dari saudara-saudara kita umat Islam dalam berkeyakinan dan dalam hal melaksanakan ibadah. Meskipun sebenarnya dalam hal pelaksanaan ibadah tersebut terdapat tata cara yang berbeda-beda antara satu aliran atau mazhab dengan yang lainnya.

Saudara-saudaraku, sesungguhnya pendapat dan prinsip seperti di atas itu tidak selalu benar. Misalnya saja dalam hal ritual ibadah sholat. Tata cara ibadah sholat antara Muhammadiyah, NU dan Persis agak berlainan satu dengan yang lain. Demikian juga tata cara ibadah sholat antara mazhab Syafi’i dengan Hambali juga berlainan, antara Sunni dengan Syi’ah juga berlainan.

Padahal kita tahu bahwa tata cara ibadah sholat yang benar adalah seperti yang dicontohkan oleh Rasullullah saw. Dan kita juga tahu bahwa tata cara tersebut hanya satu, tidak mungkin berlain-lainan adanya. Jadi kesimpulannya adalah diantara sekian banyak tata cara ibadah sholat, hanya satu yang sesuai dengan tata cara seperti yang dicontohkan oleh Rasullullah saw.

Manakah diantara tata cara sholat itu yang sesuai dengan tata cara sholat Rasullullah saw? Hanya Allah saja yang mengetahuinya, meskipun masing-masing aliran dan mazhab mengklaim bahwa tata cara ibadah sholatnya lah yang sesuai dengan tuntunan Rasullullah saw.

Oleh karena itu, kita sebagai mahluk yang lemah. Sebagai korban dari begitu banyaknya hadis palsu sehingga sangat sulit memilih mana yang benar-benar dicontohkan oleh Rasullullah saw, maka sebaiknya kita mengakui bahwa ada kemungkinan tata cara sholat yang kita lakukan adalah tidak sama dengan yang dicontohkan oleh Rasullullah saw.

Guru mengajarkan murid-muridnya untuk menanamkan rasa rendah diri dan merasa bodoh di hadapan Allah swt. Terhadap tata cara sholat yang kita lakukan semestinya kita berserah diri kepada Allah Yang Maha Mengetahui, bertawakal kepada Allah swt. Itulah mengapa di awal sholat kita mempasrahkan ibadah kita itu dengan perkataan: “Inna Sholati wa Nusukhi wa ma yahya wa ma mati lillahi Robbil Alamiin”.

Rasa percaya diri yang berlebihan dan meyakini hanya kita saja lah yang paling benar adalah sikap yang salah. Karena ternyata kita tidak pernah tahu dan melihat langsung bagaimana Rasullullah saw beribadah. Yakin bahwa hanya kepada Allah saja kita bergantung dan hanya Allah saja yang Paling Benar adalah sikap yang lebih benar dan selamat. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 19.14