Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Senin, 28 Desember 2015

Undangan Haji Bagi Orang Yang Bertauhid

Banyak sekali orang yang salah kaprah dalam mengartikan Tauhid dan Ber-Tauhid kepada Allah swt. Ber-Tauhid bukan saja bermakna percaya kepada Allah saja, akan tetapi makna Ber-Tauhid yang lebih hakiki adalah memper-Tuhankan Allah swt di dalam segenap sendi kehidupan dan pada setiap waktu di kehidupan kita. Ber-Tauhid adalah mempasrahkan diri dan hidup serta kehidupan kita saat ini dan juga nanti hanya kepada Allah swt saja.

Dengan demikian maka dalam menjalani kehidupan ini, seseorang yang benar-benar ber-Tauhid kepada Allah swt akan menekan ego pribadinya dan seseorang tadi benar-benar memposisikan dirinya sebagai hamba sahaya dari Tuhan Allah swt.

Oleh sebab itu maka apabila seseorang itu beribadah, seperti misalnya sholat atau tahajud di waktu malam atau beribadah haji ke tanah suci, kemudian berdoa kepada Allah swt dengan maksud agar supaya Allah swt mengabulkan doanya. Menurut anda maka dalam kasus ini, yang menjadi Subyek adalah ego manusia atau ego Tuhan? Kepentingan manusia ataukan kepentingan Allah yang dikedepankan?

Seringkali terjadi tanpa disadari bahwa manusia sudah mempertuhankan dirinya sendiri, kepentingannya adalah jauh lebih dipentingkan dibandingkan dengan keinginan Allah. Manusia memanjatkan doa di tempat-tempat yang mustajab agar supaya Allah dapat diatur untuk mengabulkan doa manusia. Kasus yang seperti ini sama sekali tidak mencerminkan sikap seseorang yang ber-Tauhid kepada Allah swt.

Nah, dalam praktek berhaji dan umroh kebanyakan umat Islam dewasa ini sering kali dilandasi dengan niat ingin agar supaya bisa memanjatkan doa yang mustajab dan dapat dikabulkan Allah. Dengan memanjatkan doa yang mustajab itu maka Allah didesak agar supaya dapat mengabulkan doanya. Ada yang memanjatkan doa agar supaya terbebas dari masalah yang diciptakannya sendiri, ada pula yang berdoa agar bisa menjadi kaya dan ada juga yang berdoa demi kesuksesan karirnya. Kepentingan manusia yang memanjatkan doa tadi adalah jauh lebih penting dibandingkan dengan keinginan dan kehendak Allah.

Ini adalah contoh dari praktek kemusrikan terselubung yang sering kali tidak disadari dan dipahami oleh umat Islam, mempertuhankan diri sendiri. Ibadah haji sudah seperti layaknya ritual ibadah pesugihan saja.

Sungguh suatu ironi, Ibrahim as adalah Bapak dari ajaran Tauhid, mengajak manusia untuk ber-Tauhid kepada Allah swt, dan kemudian mengundang orang-orang yang ber-Tauhid untuk datang ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji. Akan tetapi pada prakteknya sekarang justru kebanyakan orang-orang yang pergi berhaji adalah untuk tujuan hajat pribadinya masing-masing, bukan untuk memenuhi undangan nabi Ibrahim as dan menjadi tamu Allah swt.

Sekali lagi sejarah berulang, dulu sebelum diangkat menjadi Rasullullah saw di sekitar Ka’bah waktu itu orang-orang kafir datang ke Ka’bah untuk memanjatkan doa kepada berhala-berhala yang ada di sekitarnya, seperti Isaf dan Nailah yaitu berhala yang ditempatkan di pintu Ka’bah mesjid al-Haram dan Hubal berhala yang terdapat di dalam Ka’bah. Kini berhala itu hilang secara fisik, akan tetapi pada hakekatnya berhala itu tetap ada karena manusia telah mempertuhankan dirinya sendiri. Memanjatkan doa di depan Hijr Ismail.

Allah Yang Maha Pengasih memberikan peringatan keras kepada manusia tentang penyelewengan ini dengan cara mendatangkan azab di saat umat Islam mengerjakan ibadah haji di musim haji yang lalu. Agar supaya manusia mau mendengar bahwa: Hanya Kehendak Allah saja yang pasti akan terwujud dan Hanya Keinginan Allah saja yang paling penting. Manusia hanyalah hamba Allah yang sepatutnya menghamba kepada Tuannya. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 12.17