Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Selasa, 29 Desember 2015

Lambang Berhala di atas Mesjid

Tulisan berikut ini hanyalah sekedar sharing dari pengetahuan tentang lambang-lambang yang kebanyakan dari kita mengiranya sebagai lambang dari ajaran Islam, namun sebenarnya adalah lambang dari berhala. Mudah-mudahan tulisan ini dapat dijadikan bahan masukan untuk sebagian umat Islam merenungkan kembali lambang ataupun simbol yang selama ini dipergunakan.

Lambang ataupun simbol memiliki sebuah makna tertentu dan bahkan beberapa simbol sebenarnya memiliki karakteristik dan energi yang berbeda-beda. Lambang atau simbol tertentu akan memiliki sifat yang cenderung untuk dapat membangkitkan ataupun menarik suatu energi tertentu yang sesuai dengan karakter ataupun sifat dari simbol tersebut. Sebagai contohnya adalah lambang swastika nazi yang memiliki arti “dalam keadaan selamat” atau lambang tengkorak pada bendera bajak laut, keduanya memiliki karakter dan sifat yang berbeda-beda.

Gambar Bulan Bintang pada puncak kubah mesjid, kebanyakan dari kita menganggapnya sebagai lambang dari ajaran Islam, namun sebenarnya itu adalah lambang dari berhala. Pada zaman Rasullullah saw dulu tidak pernah ada ajaran atau perintah untuk mempergunakan lambang bulan bintang tersebut. Kalau begitu dari mana asalnya lambang bulan bintang tersebut?

Simbol atau lambang bulan bintang pada mulanya adalah lambang yang dipergunakan oleh rakyat Babilonia untuk menggambarkan dewa bulan. Berikut ini adalah gambar dari Prasasti dari Ur-Nammu, tahun 2200 Sebelum Masehi, bulan sabit digunakan sebagai lambang dewi bulan.

Budaya dari Asyria dan juga dari Roma mempergunakan lambang bulan sabit yang kira-kira sama untuk menggambarkan dewa artemis. Jadi kesimpulannya lambang ataupun simbol bulan sabit adalah simbol dari berhala dari beberapa kepercayaan paganisme.

Dahulu kala, kota konstantinopel (Istambul sekarang) berada dalam kekuasaan kekasiaran Romawi yang mempergunakan simbol atau lambang bulan sabit untuk dijadikan lambang kota konstantinopel sebagai ibukota kerajaan Romawi. Selanjutnya pada tahun 1453 kota Konstantinopel jatuh kepada kekuasaan dari Turki Utsmani, dan setelah itu lambang bulan bintang ini kemudian justru dipertahankan oleh kekaisaran Turki Utsmani dan bahkan dijadikan bendera kerajaan. Dengan luas wilayah kekuasaan kekaisaran Turki Utsmani yang semakin luas, maka negara-negara dibawah kekuasaannya pun menganggap bahwa lambang bulan bintang identik dengan kekaisaran Turki Utsmani yang juga identik dengan kekuasaan Islam.

Dari situlah maka kemudian umat Islam mengadopsi lambang bulan bintang tersebut yang diidentikan dengan Islam. Padahal dari asal-usulnya lambang ini adalah lambang dari berhala untuk menggambarkan dewi bulan. Anehnya kemudian beberapa negara dengan penduduknya mayoritas pemeluk agama Islam juga mengadopsi lambang bulan bintang tersebut, misalnya saja Pakistan, Malaysia, Aljazair, Tunisia dan lainnya. Demikian juga partai politik di negeri ini banyak yang kemudian latah dengan mempergunakan lambang bulan bintang ini sebagai lambang partai, misalnya saja Partai Bulan Bintang, Partai Umat Islam, Masyumi, dan lainnya.

Dalam hal ini kami mengusulkan agar lambang yang sebaiknya dipergunakan di puncak kubah mesjid sebaiknya adalah lambang atau simbol tulisan Allah, seperti halnya gambar berikut ini.

Hal ini dengan jelas mengisyaratkan bahwa umat Islam yang melakukan ibadah sholat di dalam mesjid tersebut adalah penyembah Allah, bukan penyembah dewi bulan. Sehingga lambang atau simbol yang dipergunakannya sudah semestinya adalah tulisan Allah, lebih tepat dibandingkan dengan simbol bulan bintang, simbol dari berhala.

Beberapa kalangan orientalis yang tidak menyukai Islam membuat beberapa tulisan yang menuduh bahwa Tuhannya umat Islam, Allah itu sebenarnya adalah penjelmaan dari dewa bulan. Sungguh suatu tulisan yang dibuat dengan sangat ceroboh dengan menggurui pembacanya menggunakan suatu pendapat yang sama sekali tidak didasari oleh pemahaman dan pengetahuan yang memadai akan ajaran Islam. Hasilnya adalah bukan merupakan suatu tulisan yang berkualitas melainkan hanya berupa persangkaan dari sebuah kedengkian yang rendah.

Kesalahan berikutnya dari penggunaan lambang atau simbol justru terjadi tepat di atas Ka’bah, yaitu lambang bulan sabit di atas menara jam di kota Mekkah.

Lambang bulan sabit seperti itu adalah bukan sama sekali berasal dari ajaran Islam, bahkan itu adalah lambang dari dewa bulan orang-orang Quraish sebelum Islam yang bernama dewa Hubal. Perhatikan gambar tersebut, sungguh suatu lambang yang sepertinya sengaja dijadikan tandingan bagi Ka’bah tempat umat manusia beribadah.

Dewa Hubal adalah nama salah satu dari 360 berhala yang dulu ditempatkan di pintu masuk Ka’bah dan telah dihancurkan semasa Rasullullah saw menaklukan Mekkah dahulu. Kini oleh pemerintah Arab Saudi dibuat kembali dan diletakan di atas sebuah menara yang berada di jantung kota Mekkah. Lambang bulan sabit itu seakan-akan menghidupkan kembali bentuk berhala dewa bulan yang telah dihancurkan itu.

Berikut ini adalah gambar dari dewa Hubal yang mempergunakan simbol bulan sabit tersebut.

Menurut riwayat berhala Hubal itu terbuat dari batu akik merah seperti orang, tangan sebelah kanan telah patah, kemudian setelah menjadi berhala kaum Qurais, mereka membuatkan tangan dari emas sebagai gantinya yang patah itu. Menurut riwayat lain, Hubal ditaruh di dalam Ka'bah dan dijadikan berhala terbesar di dalam dan luar Ka'bah. Sebagai bawahan Hubal dibuat pula berhala Manāt, Latta dan ‘Uzzá yang merupakan berhala penduduk lokal.

Gambar atau simbol tersebut oleh beberapa orang juga dianggap identik dengan tanduk setan seperti yang digambarkan oleh kepercayaan paganisme berikut ini.

Sungguh ironi, berhala-berhala yang berjumlah sekitar 360 buah di sekitar Ka’bah yang telah dihancurkan semasa Rasullullah saw hidup, kini justru mulai dimunculkan kembali berhala baru yang jauh lebih besar dan lebih tinggi lagi.

Kita bukanlah umat yang menyembah Hubal, dewa bulan. Bukan juga penyembah bulan dan bintang, tapi kita adalah murni penyembah Allah swt. Kalau begitu mari kita kembalikan penggunaan simbol dan lambang kepada simbol Allah saja. (AK)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 00.47