Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Rabu, 30 Desember 2015

Cinta Seorang Guru Kepada Murid-Muridnya

Berikut ini adalah tulisan tentang nasehat guru kepada murid-murindnya pada suatu malam pengajian di yayasan kami. Ini adalah bahasa cinta dan sayang seorang guru kepada murid-muridnya agar supaya mereka selamat dalam mengarungi kehidupan di dunia yang penuh dengan cobaan dan penyesatan.

Bahasa Cinta adalah sesuatu yang spesial, berbeda dengan bahasa hukum, adalah suatu ungkapan bahasa dan aturan yang istimewa dan khusus yang hanya diperuntukan untuk seseorang atau beberapa orang yang memiliki hubungan istimewa. Seperti misalnya seorang istri yang mencintai suaminya, maka dia akan melarang suaminya untuk berbicara dengan wanita lainnya meskipun untuk urusan yang sifatnya umum dan jauh dari hal-hal yang bersifat pribadi, dikarenakan oleh rasa cemburu karena cintanya kepada suami.

Begitu juga seorang ibu yang menyayangi anaknya, dia akan melarang anaknya itu untuk mengkonsumsi makanan atau minuman yang manis dan banyak mengandung gula, karena si anak menderita penyakit diabetes.

Dalam hukum Islam tidak ada larangan untuk berbicara dengan wanita lain selain istri atau untuk mengkonsumsi makanan yang mengandung gula. Namun untuk hal-hal tertentu yang sifatnya istimewa dan khusus maka aturan tersebut diterapkan.

Demikian juga apabila seseorang menjalin hubungannya dengan Allah swt, apabila hubungan tersebut sudah semakin dekat, maka rasa sayang antara seorang hamba dengan Sang Khalik akan menjelma menjadi sebuah bahasa cinta dan sayang. Seperti misalnya bahasa cinta antara Allah swt dengan Nabi dan Rasul-Nya, Dia akan melarang mereka untuk meminta upah dan mengambil keuntungan dari dakwah yang mereka lakukan. Tidak ada hukum Islam yang melarangnya, akan tetapi apabila bahasa cinta ini dilanggar maka sama halnya dengan mengkhianati rasa cinta dan sayang dari Allah swt.

Pada pengajian di malam itu, guru berpesan khusus untuk para murid-murid beliau untuk melarang mereka mengambil upah dan keuntungan dari setiap jerih payah yang dilakukan dalam rangka berdakwah. Seperti misalnya mengobati orang yang sakit, memberikan nasehat sampai kepada memberikan khutbah, mereka dilarang untuk menerima upah atau uang.

Guru melarang murid-muridnya untuk ikut dalam organisasi Islam yang dalam kegiatannya mencampurkan dakwah dan bisnis. Guru melarang murid-muridnya untuk melakukan perniagaan yang mempergunakan atau berhubungan dengan riba. Sampai kepada larangan bagi para murid-murid untuk melakukan bisnis dalam bidang perjalanan haji dan umroh, karena mengambil keuntungan dari sesuatu ibadah adalah sesuatu yang tidak layak.

Kesemua larangan tersebut adalah wujud dari bahasa cinta, bahasa sayang, bahasa yang dikhususkan untuk para murid-murid karena rasa cinta dan sayang. Bukan bahasa hukum Islam.

Sebagaimana yang dulu dicontohkan oleh para Nabi dan Rasul, maka hendaknya para murid-murid meniru dan mencontohnya.

Dalam al-Quran Allah swt berfirman kepada Rasullullah saw:
وَمَا تَسْأَلُهُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ إِنْ هُوَ إِلاَّ ذِكْرٌ لِلْعَالَمِينَ
“Dan kamu sekali-kali tidak meminta upah kepada mereka (terhadap seruanmu itu), itu tidak lain hanyalah pengajaran bagi semesta alam.” (QS 12:104)

Tidak ada hukum Islam yang mengharamkan seseorang untuk menerima upah atas usahanya sendiri asalkan itu berdasarkan kepada rasa ikhlas dari masing-masing pihak. Akan tetapi apabila itu dilakukan oleh Rasullullah saw, maka dia akan menjadi seorang ‘Pengkhianat Cinta’.

Rasullullah saw terbukti dalam sejarah tidak pernah mengkhianati bahasa cinta Allah swt, sehingga beliau layak mendapat gelar sebagai ‘Kekasih Allah”. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 23.35