Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Senin, 04 Januari 2016

Awas Teripu oleh Tipu Daya Iblis

Latar Belakang Permasalahan

Doa dan Permintaan adalah bagian dari suatu ibadah dalam ajaran agama Islam, namun beberapa orang menjadikan bahwa doa dan permintaan tersebut sebagai bagian dari karier dan bagian dari hidupnya yang harus dikejar hingga apa yang dimintanya tersebut terkabulkan.

Apabila ada orang tua yang selalu mengabulkan apapun permintaan anaknya itu, apapun yang diminta anaknya itu pasti dikabulkan, bagaimanakah orang tua itu menurut penilaian Anda? Bijak kah orang tua tadi?

Permisalan lainnya adalah: seorang tuan yang mengabulkan apa saja yang diminta oleh budak dan hambanya. Apapun yang diinginkan dan diminta oleh budak tadi akan dikabulkan tuannya. Manakah sebenarnya yang menjadi tuannya? Sang Tuan atau justru sang Budak lah yang menjadi majikan?

Nah, begitu juga apabila ada yang menafsirkan al-Quran surat al-Mu’min ayat 60 sebagai berikut ini:
وَقَالَ رَبُّكُمْ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
“Dan Tuhanmu berfirman, "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS 40:60)

Ada sesuatu yang janggal bukan? pertama adalah tidak bijaksana apabila Allah swt selalu mengabulkan apapun permintaan hambaNya. Kemudian yang kedua adalah bahwa hal ini bertentangan secara akal logika dan kenyataan fakta dalam kehidupan nyata.

Tidak semua doa itu dikabulkan Allah

Barangkali seharusnya penafsiran dari ayat tersebut adalah sebagai berikut ini:
وَقَالَ رَبُّكُمْ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
“Dan Tuhanmu berfirman, "Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku akan memberi jawaban bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS 40:60)

Jadi setiap do’a dan seruan dari tiap-tiap hamba Allah itu pasti akan dijawab Allah, entah responNya adalah berupa permintaan yang dikabulkan ataukah sebaliknya. Dengan demikian maka kedudukan Allah menjadi jelas yaitu sebagai Zat Yang Absolut, sebagai Zat Yang Maha Kuasa yang menentukan apakah suatu permintaan hambaNya akan dikabulkan atau tidak. Coba perhatikan ayat al-Quran yang berikut ini:
لَهُ دَعْوَةُ الْحَقِّ وَالَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ لاَ يَسْتَجِيبُونَ لَهُمْ بِشَيْءٍ إِلاَّ كَبَاسِطِ كَفَّيْهِ
إِلَى الْمَاءِ لِيَبْلُغَ فَاهُ وَمَا هُوَ بِبَالِغِهِ وَمَا دُعَاءُ الْكَافِرِينَ إِلاَّ فِي ضَلاَلٍ

“Hanya bagi Allah-lah (hak mengabulkan) doa yang benar. Dan berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatupun bagi mereka, melainkan seperti orang yang membukakan kedua telapak tangannya ke dalam air supaya sampai air ke mulutnya, padahal air itu tidak dapat sampai ke mulutnya. Dan doa (ibadat) orang-orang kafir itu, hanyalah sia-sia belaka.” (QS 13:14)

Bahkan doa seorang nabi pun belum tentu dikabulkan oleh Allah swt, contohnya adalah tatkala Nabi Ibrahim as memohon doa kepada Allah swt untuk mengampuni ayahandanya, Azar, seorang musyrik pembuat berhala, maka Allah tidak mengabulkan permohonan Ibrahim as itu.

Bahkan Allah pun melarang setiap mukminin untuk mendoakan bagi orang-orang musyrik karena sudah pasti tidak akan dikabulkan Allah.
سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَاسْتَغْفَرْتَ لَهُمْ أَمْ لَمْ تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ لَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ
"Sama saja bagi mereka, kamu mintakan ampunan atau tidak kamu mintakan ampunan bagi mereka, Allah tidak akan mengampuni mereka." (QS 63: 6)

Permohonan yang Terkabul bisa jadi ternyata adalah Tipu Daya Iblis

Ketahuilah bahwasanya iblis dan bala tentaranya dari golongan jin dan manusia, memiliki suatu kekuatan atau potensi untuk menyesatkan manusia melalui tipu dayanya. Mereka memiliki pasukan yang banyak dan teroganisir, mereka memiliki persediaan harta benda dan uang yang melimpah. Diantara pasukannya dari golongan jin ada yang suka mencuri harta kekayaan dan menimbunnya di suatu tempat.

Nah harta kekayaan yang melimpah tersebut akan dipergunakan untuk menyesatkan umat manusia dari jalan Allah. Bisa jadi seolah-olah sesuatu keberuntungan itu dianggap sebagai karunia dari Allah swt, padahal ia adalah suatu bentuk penyesatan dari iblis. Tipu daya iblis terhadap anak cucu Adam as.

Misalnya adalah kasus pemujaan terhadap makam wali dan orang-orang suci lainnya. Beberapa orang berkumpul di depan makam lalu memanjatkan wirid seharian penuh dengan maksud mendapatkan berkah melalui perantara dari wali atau orang suci tadi. Dan memang terbukti kemudian setelah ritual tersebut dilaksanakan beberapa orang memang memperoleh apa saja yang diharapkan sebelumnya. Apakah hal itu, meminta di kuburan, merupakan karunia Allah? Atau kah jangan-jangan itu hanya merupakan tipu daya iblis?

Demikian juga terhadap orang-orang yang meminta di tempat-tempat yang dianggap suci atau keramat lainnya dan terkabulkan. Seperti misalnya di tempat yang dinamakan al-Multazam di sekitar Ka’bah. Semenjak sebelum Muhammad saw lahir pun orang-orang Quraisy di kota Mekkah telah melakukan ritual permohonan doa kepada berhala-berhala di sekitar tempat itu. Dan memang beberapa dari permintaan-permintaan tersebut memang terkabul sesuai dengan apa yang dimintanya. Apakah ini juga merupakan karunia Allah?

Dalam hal ini guru mengingatkan murid-muridnya bahwa sebagian besar dari bentuk-bentuk permintaan yang menyimpang dari tuntunan dan petunjuk Allah tersebut adalah hasil dari rekayasa dan tipu daya iblis. Waspada dan berhati-hati lah. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 23.59