Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Selasa, 05 Januari 2016

Zikir Sesuai dengan Zamannya

Zikir adalah kata yang diambil dari bahasa arab yang berarti "mengingat", dalam hal ini maksudnya adalah “mengingat Allah”. Kata Zikir didalam Al-Qur'an disebutkan misalnya dalam ayat berikut ini:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا
“Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.” (QS 33:41)

Nah, zikir ini berbeda dengan wirid. Kata wirid itu sendiri adalah berasal dari bahasa Melayu yang berarti mengatakan sesuatu dengan di-ulang-ulang. Pada awalnya dulu pemakaian wirid, adalah bahwa pada saat penyebaran agama islam di Nusantara, wirid dipergunakan sebagai sarana untuk menjelaskan tata cara pembacaan kalimat-kalimat Allah yang dilakukan secara berulang-ulang, diwaktu-waktu tertentu, dan dengan tujuan atau hajat tertentu.

Jadi wirid adalah pengulangan kalimat-kalimat Allah dengan maksud tertentu dan memiliki hajat keinginan tertentu, sedangkan zikir tidak memiliki hajat atau keinginan tertentu, semata-mata hanya untuk mengingat Allah swt.

Dalam al-Quran surat al-Ahzab ayat 41 di atas, Allah memerintahkan orang-orang yang beriman untuk melaksanakan zikir sebanyak-banyaknya, tanpa harus ada hajat atau keinginan tertentu.

Mengulang-ulang kalimat zikir, berarti kita menciptakan suatu siklus. Sedangkan rahasia dari siklus adalah suatu syarat bahwa kehidupan akan tercipta. Kehidupan di bumi memerlukan siklus perputaran bumi pada porosnya, siklus perputaran bulan dan planet pada garis edarnya, dst. Siklus pada mesin diesel akan membuat mesin menjadi hidup dan memiliki daya gerak. Siklus peredaran darah, siklus pernafasan dan siklus denyut jantung akan mengakibatkan hewan dan manusia menjadi hidup. Jadi syarat bagi terciptanya kehidupan adalah adanya siklus.

Demikian juga dengan zikir, maka dia akan membangkitkan sesuatu kehidupan yang tak terlihat dan kasat mata, kehidupan spiritual seseorang dengan ditandai oleh bangkitnya aliran energi Ilahiah dan energi Rasullullah.

Sepanjang sejarah manusia telah dibuktikan bahwa zikir itu mampu menciptakan suatu kondisi kehidupan tertentu bagi manusia. Misalkan saja zikir yang dilakukan oleh umat Islam pada abad 12 dan 13 Masehi, kala itu kebanyakan umat Islam melakukan zikir bersumber dari kitab Al Adzkar karya Imam An Nawawi dan Kalimatuth Thayyibah karya Imam Ibnu Taimiyah.

Kemudian pada awal abad 19, Syaikh Hasan Al-Bana membuat kitab Al Ma’tsurat yang berisi pedoman zikir di waktu pagi dan petang yang bersumber dari dalil-dalil hadits Nabi dan ayat-ayat suci al-Quran. Zikir yang dilakukan secara istiqomah oleh banyak umat Islam ini kemudian didengar oleh Allah dan kemudian Allah Yang Maha Kuasa berkehendak untuk memperhatikan nasib umat Islam saat itu. Zikir ini ternyata membawa dampak bagi umat Islam saat itu dalam menghadapi penjajahan dan dominasi bangsa Eropa.

Di awal abad 21 saat ini, kondisi umat Islam sudah sangat berbeda. Justru di alam kemerdekaan saat ini dengan kemakmuran yang melimpah ruah, justru jumlah orang-orang yang beriman diantara umat Islam sedikit sekali. Hal inilah yang kemudian menjadi penyebab datangnya azab dari Allah swt di timur, barat, utara dan selatan.

Penyimpangan dan penyelewengan marak terjadi dimana-mana. Jumlah jemaah haji senantiasa bertambah setiap tahunnya, akan tetapi angka kasus korupsi, kasus-kasus kriminal juga semakin bertambah. Besarnya jumlah umat Islam secara statistik di Indonesia seperti fatamorgana saja, tidak ada artinya apa-apa, karena ternyata jumlah orang-orang berimannya sedikit sekali. Kemudian Allah mendatangkan azab bagi bangsa ini berupa azab dari tanah (gempa), dari udara (polusi asap), dari air (banjir) dan dari api (kekeringan dan kebakaran hutan).

Dalam kondisi yang sedemikian ini, kemudian Allah Yang Maha Pemurah menurunkan tuntunan dan bimbinganNya melalui guru kami, untuk mengajarkan kepada manusia melaksanakan zikir yang sesuai dengan kondisi saat ini. Zikir tersebut adalah mengulang-ulang kalimat Syahadat, Istighfar dan Sholawat atau yang disingkat dengan SIS. Ini adalah zikir yang relevan untuk zaman seperti sekarang ini, mudah-mudahan dengan zikir tersebut Allah berkenan dan meridhoi-nya sehingga akan tercipta kondisi yang lebih baik. Azab akan diangkat dan kemakmuran serta kesejahteraan akan tercipta di negeri ini.

Dalam pengajian di yayasan kami, guru kami berulang kali menegaskan bahwa zikir ini dijamin pasti benar karena berasal dari tuntunan Allah sendiri. Beliau juga lah yang akan menjamin dan mempertanggungjawabkannya di akherat kelak apabila zikir ini dipersalahkan.

Guru juga menjelaskan faedah dan keutamaan dari zikir ini akan mendorong terciptanya pribadi seseorang menjadi Sabar, Jujur dan Ikhlas. Itulah ketiga unsur penting bagi pembentukan karakter orang yang beriman. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 22.47