Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Jumat, 08 Januari 2016

Belajar Beragama Islam

Tahukah anda bahwasanya kebanyakan praktek beragama Islam yang kita lakukan selama ini adalah merupakan bagian dari proses belajar beragama Islam semata. Sebagaimana misalnya seorang anak kecil sedang bermain-main bersama dengan teman-temannya sambil berpura-pura menjadi seorang dokter. Dengan berpura-pura menjadi dokter tidak lantas membuatnya menjadi seorang dokter sungguhan bukan? Setelah lulus TK lalu SD, kemudian SMP dan SMU dia harus melanjutkan studi ke fakultas kedokteran untuk bisa menjadi seorang dokter sungguhan.

Demikian juga halnya dengan cara kita beragama Islam. Kapankah anda mendeklarasikan diri menjadi orang Islam? Sebelum menjadi Islam, apakah anda sudah tergolong menjadi orang yang beriman kepada Allah swt? Sebelum menjadi orang yang beriman, apakah anda sudah mengenal siapa yang anda imani itu, sudahkah anda mengenal Allah?

Barangkali anda sering melihat ulama atau syaikh yang sedang berceramah, kemudian jarinya menunjuk-nunjuk ke atas sebagai tempat Arasy Allah Yang Maha Tinggi? Itu adalah pertanda bahwa orang tersebut sebenarnya belum mengenal Allah swt, karena Allah tidak bersemayam di angkasa.

Jadi seharusnya proses yang benar adalah sebagaimana yang dicontohkan oleh ayahanda kita Nabi Ibrahim as, yaitu mencari Tuhan, lalu mengenal Allah, setelah itu mengimaninya dengan sungguh-sungguh. Hal ini pulalah yang dilakukan oleh Rasullullah saw dan para sahabat terdekatnya pada saat periode Mekkah selama kurang lebih 13 tahun. Sehingga setelah mereka teguh tauhidnya dan kuat imannya dalam melaksanakan segala perintah Allah, maka baru di akhir periode kenabian lah Allah swt menyempurnakan nikmatnya yaitu dengan meridhai Islam menjadi agama mereka.

“.....Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu...." (QS 5:3)

Sejarah telah mencatat bahwa 81 hari sesudah turunnya ayat ini Nabi Muhammad saw pun wafat setelah menunaikan risalahnya selama kurang lebih 23 tahun.

Bagaimana mungkin sholat, puasa, zakat atau ibadah haji dapat memiliki nilai dihadapan Allah apabila seseorang itu belum benar-benar beriman? Kemudian bagaimana mungkin seseorang itu bisa beriman kepada Allah kalau dia belum mengenal Allah?

Akan tetapi apa yang kebanyakan dipraktekan oleh umat Islam sekarang ini adalah proses yang sebaliknya, seseorang langsung diajarkan untuk memeluk agama Islam terlebih dahulu dan mempraktekan ritual ibadah agama Islam. Meskipun seseorang itu belum benar-benar beriman kepada Allah, apalagi mengenal siapa Allah. Inilah yang dimaksud bahwa sebenarnya praktek yang banyak dilakukan oleh kebanyakan umat Islam saat ini adalah belajar beragama Islam. Belum benar-benar beragama Islam.

Guru menjelaskan akibat dari kenyataan praktek beragama Islam seperti ini, maka jumlah orang yang beriman kepada Allah ternyata sangat sedikit sekali. Buktinya adalah kebanyakan orang lebih percaya bahwa ilmu ekonomi adalah jalan keluar bagi bangsa Indonesia untuk keluar dari kebangkrutannya, ketimbang meminta pertolongan Allah. Orang lebih percaya dengan obat dan dokter ketimbang memohon kesembuhan dari Allah swt.

Bahkan kebanyakan orang Islam sering memohon doa kepada Allah adalah untuk kepentingan diri pribadinya, tanpa menyadari bahwa Allah swt lebih mengerti apa yang sebenarnya dibutuhkan. Bahkan dicarinya tempat-tempat dan waktu berdoa yang dianggapnya mustazab, agar supaya Allah mau mengabulkan doanya. Kalau perlu Allah Yang Maha Kuasa itu bisa diatur manusia. Inilah akibatnya orang beragama Islam tanpa mengenal Allah apalagi beriman kepada Allah. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 13:12