Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Senin, 11 Januari 2016

Mengenal Diri Sendiri Sebelum Dapat Mengenal Allah

Upaya dan ikhtiar manusia untuk dapat menemukan Tuhan melalui ilmu dan pengetahuannya sudah gagal, karena bagaimanapun tinggi dan hebatnya ilmu pengetahuan manusia dewasa ini ternyata tidak mampu untuk dapat menemukan Tuhan. Tuhan jauh lebih rumit dan tidak terjangkau oleh ilmu pengetahuan manusia. Beberapa ilmuwan jenius seperti Alan Turing atau Stephen Hawking justru mendeklarasikan dirinya sebagai seorang atheis.

Demikian juga terhadap orang-orang yang berusaha mengenal Tuhan dari kitab-kitab suci atau berdasarkan hadits Nabi. Maka orang-orang tersebut merasa seolah-olah telah mengenal Tuhannya, padahal tidak mungkin dengan cara menghafal dan mempelajari kitab-kitab suci tersebut seseorang dapat mengenal Tuhannya. Sebagai contoh misalnya Nabi Ibrahim as, Nabi Musa as, Nabi Isa as dan Nabi Muhammad saw, mereka mengenal Tuhannya bukan dengan cara mempelajari kitab-kitab suci yang diturunkan sebelumnya.

Berdasarkan sejarah manusia dalam upayanya mengenal Tuhan, maka hanya dengan petunjuk dan bimbingan dari Tuhan itu sendiri lah manusia dapat mengenal Tuhannya. Misalkan contohnya adalah upaya yang dilakukan oleh ayahanda kita Nabi Ibrahim as dalam al-Quran:
فَلَمَّا رَأَى الْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هَذَا رَبِّي فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَئِنْ لَمْ يَهْدِنِي رَبِّي لَأَكُونَنَّ مِنْ الْقَوْمِ الضَّالِّينَ
“Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: "Inilah Tuhanku". Tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata: "Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat." (QS 6:77)

Allah memberikan petunjuk itu di segenap ufuk dan pada diri manusia itu sendiri, sehingga barang siapa yang mengenal diri pribadinya sendiri maka dia akan menjumpai ayat-ayat Allah itu sehingga yang dengannya seseorang dapat mengenal Tuhannya.

سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ
“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Qur’an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?” (QS 41:53)

Dahulu kala semenjak ruh manusia itu ditiupkan ke tubuh jasmaninya, tiap-tiap ruh tersebut telah mengenal Tuhannya, bahkan mereka itu bersaksi kepada Rabb mereka dengan persaksian ruh sebagai berikut:
وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى
شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).” (QS 7:172)

Tetapi sayang sering sekali orang-orang melupakan diri mereka sendiri, sehingga mereka juga melupakan Allah. Sebagian yang lainnya lagi adalah orang-orang yang melupakan Allah sehingga Allah pun akan membuat mereka melupakan diri mereka sendiri.

وَلاَ تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُوْلَئِكَ هُمْ الْفَاسِقُونَ
“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS 59:19)

Siapakah sebenarnya diri anda?

Tangan dan kaki anda bukanlah diri anda, demikian juga kepala, mata dan telinga anda bukanlah diri anda yang sebenarnya. Fisik jasmani anda bukan juga anda yang sebenarnya, karena begitu anda wafat dan jasmani anda hancur tidak berarti bahwa anda menjadi sirna dan tidak ada. Kalau bukan jasmani, jadi dimanakah diri sejati anda?

Diri sejati manusia terdapat di dalam ruhani manusia itu sendiri yang terdiri dari sukma dan ruh dimana ruh juga nanti ternyata akan terbagi-bagi lagi.

Untuk dapat memahami hubungan antara ruhani dengan jasmani anda, maka marilah kita lihat beberapa fenomena berikut ini. Pertama adalah fenomena dalam pertunjukan debus, anda pernah menonton pertunjukan debus bukan? Nah dalam pertunjukan itu jasmani manusia dirasuki oleh sukma dari jin sedangkan ruh manusia tetap ada di tempatnya untuk menjaga hidup orang tersebut. Setelah orang tadi kerasukan oleh sukma dari jin, maka sekonyong-konyong fisik orang tersebut menjadi kebal, tidak mempan dibacok. Bisa memiliki kekuatan di atas rata-rata orang normal lainnya seperti menarik truk, mengangkat beban berat dan lainnya.

Apa yang dapat kita simpulkan dari fenomena tersebut? Artinya adalah bahwa sebenarnya jasmani manusia adalah wadah dari ruhaninya. Wadah tersebut akan mengikuti bentuk dan wujud dari isinya, yaitu ruhaninya. Sarung akan mengikuti bentuk dari kerisnya, bukan sebaliknya. Itulah karakteristik dari diri manusia.

Dengan demikian apabila ruhani manusia sudah dirusak, misalnya dengan cara merasukinya dengan jin seperti misalnya siluman babi ngepet, maka tiba-tiba saja sifat jasmani dan fisik orang tersebut akan berubah dan menjelma menjadi sifat fisik dari siluman babi ngepet tadi. Begitulah sifat dari jasmani manusia yang akan mengikuti apapun karakteristik dari ruhaninya.

Ajaran Tauhid mengajarkan manusia untuk bisa membentuk ruhani dan spiritual seorang manusia untuk menjadi jiwa yang Sabar, Jujur dan Ikhlas. Jiwa yang seperti inilah yang akan membentuk pribadi yang ber-Tauhid dan beriman kepada Allah swt. Dengan iman yang kuat maka jasmani manusia akan mengikuti sifat dari ruhaninya sendiri yaitu ruhani yang beriman kepada Allah.

Apabila ruhani kita berupa jiwa yang beriman kepada Allah, maka fisik akan mengikutinya. Guru memberi contoh dan pelajaran tentang hal ini, seperti misalnya fisik yang akan menyembuhkan dirinya sendiri tanpa harus berobat ke dokter, hanya dengan iman yang kuat kepada Allah: percaya bahwa Allah lah Yang Menyembuhkan. Guru juga memberi pelajaran bagaimana perut manusia dapat menjadi kenyang tanpa harus makan, hanya dengan iman yang kuat kepada Allah: percaya bahwa Allah lah Yang Membuat Kenyang dan Membangkitkan Kekuatan.

Jadi ruhani dengan iman yang kuat kepada Allah akan menghasilkan fenomena fisik jasmani yang luar biasa yang belum pernah dapat dibayangkan sebelumnya.

Begitulah sedikit dari rahasia yang ada pada diri manusia. Apakah anda sudah mengenal diri anda sendiri? (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 23.09