Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Kamis, 14 Januari 2016

Tata Cara Sumpah Menurut Ajaran Islam

Sumpah yang tidak dilakukan dengan sepenuh hati akan mengakibatkan si pelakunya tidak memiliki implikasi dan tanggung jawab apa-apa apabila ternyata si pelaku tadi melanggar janji dan sumpahnya. Bahkan Allah pun tidak akan menghukum yang bersangkutan karena toh sumpah tersebut tidak dilakukan dengan sepenuh hati. Coba kita perhatikan firman Allah swt berikut ini:
لاَ يُؤَاخِذُكُمْ اللَّهُ بِاللَّغْوِ فِي أَيْمَانِكُمْ وَلَكِنْ يُؤَاخِذُكُمْ بِمَا كَسَبَتْ قُلُوبُكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ حَلِيمٌ
“Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Allah menghukum kamu disebabkan (sumpahmu) yang disengaja (untuk bersumpah) oleh hatimu. Allah Maha Penyayang lagi Maha Penyantun.” (QS 2:225)

Sumpah pada hakekatnya adalah ikrar dan janji yang sungguh-sungguh diucapkan oleh seorang manusia kepada Tuhan Yang Maha Esa bahwa dia akan menepati janjinya dan tidak akan melanggar sumpahnya, berdasarkan tata cara agama yang dianutnya. Dengan demikian maka sumpah adalah suatu ikrar janji yang diucapkan manusia kepada Allah, bukan kepada manusia.

Dalam tata cara ajaran Islam sumpah atau pengambilan ikrar itu harus didahului dengan pembacaan ikrar dua kalimat Syahadat, lalu kemudian dilanjutkan dengan pembacaan pernyataan ikrar dan sumpahnya. Misalnya saja pada saat pengambilan ikrar atau sumpah akad nikah secara Islam, maka tata caranya adalah dengan didahului oleh pembacaan dua kalimat Syahadat, baru kemudian diikuti dengan pernyataan akad nikah dan diakhiri dengan do’a. Demikian juga dengan prosesi ikrar seseorang yang baru masuk Islam.

Pengambilan sumpah dengan tata cara berupa pengangkatan mushaf al-Quran di belakang kepala seseorang yang bersumpah bukanlah merupakan ajaran Islam, karena tata cara tersebut tidak pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad saw, maupun oleh Khulafaur Rasyidin sesudah beliau.

Pengambilan sumpah jabatan para pejabat negara termasuk presiden di negara Indonesia ini adalah termasuk dalam kategori tidak menuruti tata cara Islam yang benar. Sumpah jabatan dilakukan tidak dengan didahului oleh pembacaan dua kalimat Syahadat, tapi hanya dengan mengangkat mushal al-Qur’an di belakang kepala pejabat yang disumpah. Dengan demikian maka sumpah tersebut menurut pandangan Allah swt tidak dianggap sah dan tidak ada hukum Allah yang dapat diterapkan atas sumpah tersebut.

Akibat dari praktek tata cara sumpah jabatan di Indonesia yang tidak mengikuti tata cara ajaran Islam, maka akibatnya apabila si pejabat tersebut tidak menjalankan sumpahnya atau bahkan melanggar janjinya maka Allah tidak akan menjatuhkan hukuman atasnya. Lihat ayat al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 225 tadi.

Oleh sebab itu maka tidak mengherankan apabila ternyata dalam prakteknya di Indonesia saat ini banyak sekali pejabatnya yang tidak amanah dan melanggar sumpahnya. Mulai dari pegawai rendah sampai dengan pejabat tingkat menteri banyak yang masuk penjara karena kasus korupsi.

Iblis telah menghasut manusia Indonesia untuk memprakarsai protokol pengambilan sumpah seperti sekarang ini. Tidak ada yang mau mendesak untuk mengubahnya, meskipun tidak sesuai dengan tata cara ajaran Islam. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 11.04