Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Minggu, 5 Juli 2015

Bukan Aku Bersaksi tapi Hamba Bersaksi

Sering kali kita mendengar cara kita mengucapkan syahadat dengan “Aku bersaksi....” atau saat kita mengucapkan doa dan menyapa Allah dengan sebutan “Engkau....”

Penggunaan kata “Aku” dan “Engkau” pada saat mengucapkan syahadat dan memohon do’a akan menempatkan derajat kedudukan yang sama antara “Aku” dan “Engkau”.

Seorang yang telah mengenal lebih dekat lagi dengan penciptaNya, maka dia akan menyadari betapa jauh perbedaan derajat antara seorang mahluk dengan Khaliknya. Sehingga dimanapum dan kapanpun dia berada, maka tidak mungkin dia mengucapkan “Aku” pada saat berhadapan dengan Allah, dan juga tidak akan pantas dia mengucapkan “Engkau” pada saat dia menyeru kepada Rabb-Nya.

Mengatakan “Aku” dihadapan Allah adalah sama dengan perkataan Iblis yang sombong, ketika dia menjawab pertanyaan Allah:
قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلاَّ تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ
“Allah berfiman: Apakah yang menghalangimu untuk bersujud kepada Adam? Di waktu Aku menyuruhmu? Menjawab iblis: Aku lebih baik dari padanya. Engkau ciptakan aku dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.“ (QS 7:12)

Oleh sebab itu maka yang seharusnya kita ucapkan adalah: “Hamba bersaksi bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Allah, dan hamba bersaksi bahwasanya Muhammad adalah Rasul Allah”. Dan serulah Allah saat kita berdoa dengan panggilan: “Paduka...” atau “Baginda...” seraya mengagungkan posisi dan derajat-Nya jauh di atas kehinaan kita sebagai mahlukNya. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 00.10