Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Minggu, 17 Januari 2016

Keinginan Allah dan Kun Fa Yakun

إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ
“Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia.” (QS 36:82)

Begitulah kira-kira apabila Allah Yang Maha Kuasa menginginkan sesuatu maka pasti sesuatu itu terjadi atas kehendak-Nya. Keinginan Allah itu tidak memiliki batasan apa-apa dan tidak ada yang membatasinya, tidak ada kriteria yang membatasinya, juga tidak ada perhitungan atau prediksi yang mampu meramalkannya. Benar-benar murni atas kehendak bebas dari Allah swt.

Misalnya adalah dalam kasus penciptaan khalifah di muka bumi ini, para malaikat sungguh tidak menyangka sama sekali kalau Allah ternyata memilih untuk menciptakan Adam as untuk dijadikan khalifah di muka bumi ini padahal malaikat lah yang senantiasa bertasbih memuji Allah. Namun begitulah kenyataannya, keinginan Allah terwujud dan seluruh malaikat diperintahkan untuk tunduk sujud kepada Adam as.

Contoh lainnya adalah keinginan Allah untuk menganugerahkan nabi Zakaria as seorang anak di usianya yang sudah tua renta. Atau misalnya keinginan Allah untuk memerintahkan Nabi Musa as, Kalamullah, untuk berguru kepada Nabi Khidir as. Dan juga misalnya adalah keinginan Allah untuk menganugerahkan seorang anak pada seorang gadis yang masih perawan dan belum menikah bernama Maryam. Begitulah kiranya keinginan Allah itu tanpa kriteria dan tanpa batasan apa-apa.

Pada saat Nabi Isa as telah diangkat oleh Allah swt ke tempat yang tinggi, kala itu orang-orang suci tengah menunggu kedatangan Rasul terakhir yang akan membawa petunjuk yang menerangi dunia. Mereka kebanyakan berprasangka bahwa Rasul tersebut akan lahir dari kalangan Bani Israil, sebagaimana Allah telah menurunkan beberapa orang Nabi dari kalangan Bani Israil sepeninggal Nabi Musa as dan Harun as.

Petunjuk dan ciri-ciri dari Rasul terakhir itu telah dijelaskan secara mendetil dalam kitab suci Injil, dan mereka sangat hafal dan mengetahui ciri-ciri tersebut. Ternyata kenyataannya sungguh di luar dugaan: Rasul terakhir justru lahir dari kalangan orang Quraisy di Mekkah dan dari seorang yang bukan merupakan seorang terpelajar lagi buta huruf. Begitulah keinginan Allah swt, tak terduga sama sekali.

Seorang bernama Ahmad bin Abdullah diangkat menjadi Rasul terakhir Muhammad saw oleh Allah swt di gua Hira dan menurunkan ayat-ayat pertama dari kitab suci al-Qur’an:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ
خَلَقَ الإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ
اقْرَأْ وَرَبُّكَ الأَكْرَمُ
الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ
عَلَّمَ الإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang Mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS 96: 1-5)

Coba anda bayangkan apabila ada seseorang yang cacat kakinya (seperti Stephen Hawking misalnya) mendatangi anda. Lalu dia mengatakan sebagai utusan Tuhan, dan mengajarkan ayat dari Tuhan yang beebunyi: “Berlarilah dengan menyebut nama Tuhanmu Yang Menciptakan.” Bagaimana kira-kira pendapat anda? Mudahkan anda menerimanya? Seorang cacat mengabarkan kepada anda perintah Tuhan “Berlarilah!” ?

Begitu juga kiranya di saat pertama kali Nabi Muhammad saw menerima wahyu pertama tadi, seseorang yang buta huruf harus mengabarkan kepada manusia: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Menciptakan.” Oleh karenanya maka dakwah yang dilakukan oleh Rasullah saw pertama-tama adalah kepada keluarga dan kerabat terdekatnya dengan cara yang sangat personal agar dapat meyakinkan mereka bahwa dia adalah Rasul Allah.

Begitulah keinginan Allah swt, sungguh tidak masuk akal, tidak mudah ditebak dan tanpa ada kriteria yang membatasinya.

Sepanjang sejarah manusia, ternyata para pengikut setia Nabi dan Rasul adalah kebanyakan orang-orang lemah dan dari kalangan bawah. Karena ternyata merekalah orang-orang yang lebih mudah menerima petunjuk Allah, meskipun petunjuk itu datang dari keinginan Allah yang kadang-kadang tidak masuk akal. Sebagaimana perintah untuk membaca diturunkan melalui Rasullullah saw yang ternyata adalah seorang buta huruf.

Apabila saat ini anda berada dalam suatu kelompok pengajian dan ternyata kelompok anda itu terdiri dari orang-orang lemah dan dari kalangan bawah, maka sadarilah bahwa begitu juga kiranya para pengikut Nabi dan Rasul sebelum ini. Begitulah kiranya keinginan Allah swt. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 22.55