Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Rabu, 27 Januari 2016

Menjual Ayat-Ayat Allah

Dalam al-Qur’an surat Ali Imran ayat 199 Allah swt berfirman:
وَإِنَّ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَمَنْ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِمْ خَاشِعِينَ
لِلَّهِ لاَ يَشْتَرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ ثَمَنًا قَلِيلاً أُوْلَئِكَ لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ

“Dan sesungguhnya di antara Ahli Kitab ada orang yang beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kamu dan yang diturunkan kepada mereka, sedang mereka berendah hati kepada Allah, dan mereka tidak menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit. Mereka memperoleh pahala di sisi Tuhannya. Sesungguhnya Allah amat cepat perhitungan-Nya.” (QS 3:199)

Menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit pada ayat di atas mengandung arti menjual ayat-ayat Allah dengan harga yang murah.

Jual/Beli atau perniagaan adalah sesuatu yang halal dan diperbolehkan dalam aturan Allah swt, akan tetapi dalam konteks seseorang menjual ayat-ayat Allah dengan harga yang murah adalah sesutu yang dibenci oleh Allah swt. Sebagaimana firman Allah swt lainnya di al-Qur’an surat at-Taubah ayat 9.

Sudah menjadi biasa bahwa pada saat melakukan perniagaan, seorang penjual akan melakukan apa saja demi merebut hati para pembelinya. Dengan iklan, dengan bujuk rayu, dengan hiburan, dengan canda dan lawakan jenaka, dengan apa saja asalkan bisa menarik hati pembelinya, sehingga pelanggan tidak lari ke penjual lainnya.

Nah, apa yang sering terjadi pada kebanyakan da’i dan ustadz penceramah masa kini kebanyakan adalah seperti itu. Mereka melakukan apa saja asalkan bisa menarik hati para pelanggannya, mulai dari kata-kata yang menghibur sampai ceramah yang penuh dengan canda dan gelak tawa. Intinya adalah para penceramah itu akan melakukan apa saja asalkan bisa menarik hati para pendengarnya, yang dalam hal ini adalah konsumennya. Menarik hati sebanyak-banyaknya konsumen.

Para pendengar itulah yang kemudian menjadi kontributor utama dalam menghasilkan pendapatan para penceramah tadi. Penceramah di TV, radio maupun di mimbar atau di suatu seminar. Pendengar adalah konsumen dan penceramah adalah penjual.

Namun sayang sekali yang dijual oleh penceramah tadi adalah ayat-ayat Allah yang suci, inilah yang dibenci Allah. Ayat-ayat Allah adalah sesuatu yang harus disampaikan, tidak peduli apakah pendengarnya menyukainya atau tidak. Begitulah perintah Allah kepada para Nabi dan Rasul, Wali dan orang-orang suci pewaris Nabi yang meneruskan tugas Nabi untuk berdakwah.

Dan kebanyakan dari para pendengar tadi, mereka itu tidak menyukai dan bahkan banyak sekali yang membenci isi dari dakwah ayat-ayat Allah yang disampaikan, meskipun pendakwahnya adalah seorang Nabi dan Rasul. Apakah dengan kenyataan ini para Nabi dan Rasul tersebut kemudian mengubah isi dakwahnya sehingga menjadi sesuatu yang disukai atau disenangi pendengarnya ? (seperti yang dilakukan oleh banyak penceramah masa kini). Tidak, mereka sama sekali tidak pernah merubah isi dakwahnya, mereka hanya sekedar menyampaikan ayat-ayat Allah yang harus disampaikan, meskipun tidak disukai pendengarnya. Begitulah para Nabi dan Rasul, mereka itulah penyampai, bukan penjual ayat-ayat Allah. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 23.59