Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Jumat, 29 Januari 2016

Ketika Tangan dan Kaki Menjadi Saksi

Di suatu hari kelak, setiap manusia akan dihadapkan dalam suatu sidang pertanggungjawaban atas segala perbuatan yang dilakukannya selama hidup di dunia. Baik perbuatan yang besar dan keterlaluan, maupun cuma perbuatan yang kecil, semuanya akan diputuskan secara hukum Allah.

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَه
وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَه

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula” (QS Az-Zalzalah: 7-8). Di ayat yang lain Allah juga menegaskan perihal tentang balasan setiap perbuatan yang dilakukan manusia, walaupun hanya sebesar biji sawi, sebagaimana di QS Luqman ayat 16.

Berdasarkan ayat-ayat al-Qur’an tersebut maka menjadi sangat jelas bahwa setiap perbuatan manusia akan diperhitungkan dan ditetapkan hukumnya. Dengan demikian maka hadits-hadits yang mengatakan bahwa apabila seorang manusia di akhir hayatnya mengucapkan dua kalimat Syahadat, maka dia pasti akan masuk surga, patut untuk dipertanyakan keabsahannya. Karena tidak sesuai dengan isi al-Qur’an bahwa nasib manusia di kehidupan akhirat nanti ditentukan oleh semua perbuatan yang telah dilakukannya, bukan oleh perkataan menjelang ajalnya saja.

Contohnya adalah hadits yang berikut ini: Dari Abu Dzar r.a. yang menceritakan bahwa Rasulullah saw bersabda, "Barangsiapa mengucapkan, 'Laa ilaaha illallaah,'kemudian meninggal, maka pasti masuk surga."

Hadits tersebut memiliki pemahaman logika yang bertentangan dengan ayat al-Qur’an di atas dan juga bertentangan dengan azas keadilan. Berdasarkan alasan tersebut lah maka Allah swt tidak mengampuni Firaun meskipun di akhir hayatnya dia mengucapkan Syahadat.

Berkenaan dengan sidang perbuatan manusia ini, maka guru memberikan wejangan kepada murid-muridnya: bahwa mulut, tangan dan kaki bukanlah milik kita. Dia akan menjadi saksi kelak di sidang akhirat nanti.

الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَى أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.” (QS Yasin : 65)

Berapa banyak dari kita yang merasa bahwa mulut, tangan dan kaki adalah milik kita, anggota badan kita sendiri? Sehingga kita bebas mempergunakannya untuk keperluan kita sendiri. Padahal itu adalah suatu pemahaman yang keliru.

Mulut, tangan dan kaki kita adalah milik Allah. Mereka hanya tunduk kepada keinginan dan perintah Allah saja. Sehingga guru mengajarkan kepada murid-muridnya agar meminta maaf kepada anggota badan kita sendiri atas segala penyalahgunaan anggota badan untuk kepentingan kita. Karena kelak mereka akan menjadi saksi dalam persidangan di akhirat.

Sudahkah anda meminta maaf kepada mulut, tangan, kaki dan anggota badan lainnya? Dengan demikian tidak ada lagi perselisihan antara anda dengan mereka. Anda akan hidup lebih damai dengan bermaaf-maafan kepada anggota badan anda.

Begitulah kebanyakan manusia memperlakukan dan menyatakan bahwa anggota tubuh adalah miliknya sendiri. Akibatnya adalah tubuh akan menjadi rusak dan membusuk tatkala manusia tadi wafat. Sebaliknya orang-orang yang memperlakukan dan menyatakan bahwa anggota tubuhnya adalah milik Allah, maka tatkala manusia tadi wafat tubuhnya akan mengeluarkan aroma yang harum dan tidak hancur atau membusuk. Karena anggota tubuh adalah milik Allah dan Allah sendiri tidak pernah mati, senantiasa hidup. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 01.32