Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Selasa, 09 Februari 2016

Revolusi Mental adalah Hijrah

Ketika presiden Republik Indonesia Pak Jokowi mencanangkan gerakan revolusi mental kepada bangsa ini, sayang sekali tidak disertai dengan penjelasan yang rinci tentang mental seperti apa yang harus di-revolusikan, mental seperti apa yang harus dibangun, caranya seperti apa, dsb.

Mental adalah sesuatu yang berkenaan dengan jiwa manusia dan kesadarannya, sikap dan karakternya. Tidak mudah untuk mengubah sifat dan karakter suatu bangsa dan masyarakat, misalnya adalah apabila anda mempunyai seorang anak yang sudah beranjak dewasa, maka untuk merubah karakternya maka semakin dewasa seseorang akan semakin sulit untuk merubah karakternya. Oleh sebab itu maka pendidikan dasar kepada anak-anak hendaknya lebih difokuskan untuk pembentukan karakter dan sifat, karena membentuk karakter seorang anak jauh lebih mudah daripada merubah karakter orang dewasa. Begitu banyak para ahli pendidikan bangsa yang sebenarnya sudah menyadari hal ini, akan tetapi tetap saja pendidikan dasar di Indonesia lebih di titik beratkan kepada pelajaran inteljensi dan pola pikir, bukan kepada pembentukan karakter.

Murid SD umum dididik untuk banyak menghafal, mempelajari pelajaran ilmu alam dan matematika, demikian juga di madrasah dan pesantren, anak-anak banyak dicekoki dengan pelajaran menghafal ayat al-Qur’an dan pelajaran tajwid atau membaca al-Qur’an.

Apakah mental dan karakter suatu bangsa bisa dirubah?

Meskipun sulitnya minta ampun, karakter suatu masyarakat dan bangsa bisa dirubah. Caranya mungkin agak sedikit ekstrim, oleh sebab itu tepatlah kalau istilahnya harus dengan cara revolusi. Merubah karakter suatu bangsa dengan cara yang normal dan bertahap pasti akan memakan waktu yang lama, membutuhkan waktu beberapa generasi lamanya.

Rasullullah saw membutuhkan waktu sekitar 24 tahun untuk merevolusi mental masyarakat Arab Quraisy menjadi suatu masyarakat yang unggul dan superior. Ketika pemahaman dan karakter segelintir orang di Mekkah sudah mantap, maka orang-orang tersebut diperintahkan untuk berhijrah ke Madinah. Segelintir orang tersebut menjadi pionir bagi pembentukan masyarakat baru dengan karakter yang jauh berbeda dengan karakter bangsa Arab waktu itu pada umumnya.

Karakter yang paling utama dan menonjol dari masyarakat muslim Madinah yang dibentuk Rasullullah saw waktu itu adalah: Jujur (tidak korupsi), Sabar (gigih dan teguh pendiriannya) dan Ikhlas (rela berkorban dan suka tolong-menolong). Inilah tiga karakter utama dari akhlak masyarakat muslim yang dibangun Rasullullah saw, tiga pilar akhlak orang yang beriman, sehingga lingkungan menjadi aman, masyarakatnya sejahtera dan damai. Allah pasti akan merubah nasib suatu kaum menjadi lebih baik lagi apabila mereka merubah karakternya menjadi seperti ini, begitulah hukum Allah.

لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ
حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلاَ مَرَدَّ لَهُ وَمَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَالٍ

“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS 13:11)

Hijrah juga merubah karakter umat Islam dari karakter pribumi yang enggan untuk merantau dan berjuang, menjadi karakter perantau yang unggul. Sejarah membuktikan bahwa beberapa gelintir umat Islam menyebar dan menjadi perantau, menaklukan daerah-daerah baru di Afrika dan Eropa, membangun peradaban baru. Menjelajah samudera nan luas sehingga sampai di negeri indah, tanah yang dijanjikan, itulah Nusantara. Islam sudah dikenal semenjak zaman kerajaan Majapahit, apabila anda pergi ke Trowulan maka anda akan mendapati beberapa makam Islam di era jaman kerajaan Majapahit dulu.

Islam merubah dunia dari abad kegelapan menjadi era baru yang terang benderang, membebaskan manusia dari kungkungan dan belenggu dogma menjadi keterbukaan. Ajaran Islam adalah membangun karakter dan akhlak orang beriman kepada karakter Jujur, Sabar dan Ikhlas.

Inilah karakter yang harus dituju, arah dari Revolusi Mental bangsa ini. Karakter dan mental: Jujur, Sabar dan Ikhlas. Inilah perintah dan instruksi Allah swt kepada bangsa ini.

Pak Jokowi tidak lah sehebat Rasullulah saw, boleh jadi akan dibutuhkan waktu yang lama dan perjalanan yang keras untuk merubah karakter bangsa ini. Tapi kita tidak boleh menyerah, percaya bahwa suatu saat nanti karakter bangsa ini pasti akan berubah. “Het Wonder is geschied, Insulinde de schoone slaapter, is ontwaakt. “ (Sesuatu yang ajaib telah terjadi. Insulinde, putri cantik yang tidur sudah terbangun). (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 23.45