Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Rabu, 10 Februari 2016

Apabila Negeri Dipimpin oleh Pemimpin yang Tidak Ber-Tauhid

Indonesia adalah satu-satunya negera di dunia ini yang meng-klaim negaranya sebagai negara Tauhid, yaitu negara yang berlandaskan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa. Dengan sila pertama dari Pancasila ini maka negara Indonesia menyatakan bahwa kekuasaan absolut adalah milik Tuhan Yang Maha Esa, dan kehidupan masyarakat negara ini harus berlandaskan kepada sikap mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Sebagian negara lainnya, mereka mendasarkan kekuasaan negaranya kepada hukum dan syariat Islam. Mereka itu lupa, bahwa hukum Allah itu sangat luas dan tidak hanya yang tercantum di dalam al-Qur’an saja. Dengan demikian maka apabila kekuasaan suatu negara didasarkan kepada hukum Islam yang diterjemahkan dan ditafsirkan oleh sekelompok orang, maka boleh jadi penafsirannya tersebut akan bertentangan dengan hukum dan kehendak Allah itu sendiri. Contohnya ialah kalangan ahli kitab dahulu yang mendasarkan hukum masyarakat di Yudea berdasarkan penafsiran ahli kitab tersebut terhadap kitab Zabur dan Taurat, maka akibatnya adalah justru penafsiran tersebut bertentangan dengan ajaran dan kehendak Allah yang disampaikan melalui Nabi Isa as.

Kitab yang diturunkan Allah dalam kitab Zabur, Taurat, Injil dan al-Qur’an adalah pedoman bagi manusia untuk dapat berinteraksi dan berhubungan langsung dengan Sang Pencipta, Allah swt. Jadi dia adalah perangkat dan sarana, bukan tujuan itu sendiri.

Allah swt memberikan petunjuk-Nya kepada pemimpin yang ber-Tauhid sehingga pemimpin tersebut memiliki pemahaman yang terang dan mampu memberikan petunjuk kepada kaumnya kemana arah tujuan yang harus ditempuh.

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ
“Dan Kami jadikan diantara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (QS 32:24)

Akan tetapi sayang sekali, beberapa pemimpin di negeri ini tidak menyadari bahwa Indonesia adalah suatu negeri Tauhid. Akibatnya adalah kebingungan, kekeliruan dan ketidakmengertian dalam menentukan arah kebijakan memimpin negeri ini. Negeri dipimpin oleh pemimpin yang tidak ber-Tauhid, tidak mengenal Tuhan dan tidak pernah melibatkan Tuhan dalam memimpin negeri ini.

Kekuasaan yang seharusnya dibawah kepemimpinan Tuhan telah dilucuti sedikit demi sedikit menjadi kekuasaan rakyat yang bersifat liberal. Apabila rakyat secara bebas diberikan kesempatan untuk menentukan arahnya sendiri, maka yang terjadi adalah kekacauan, chaos. Contohnya adalah coba saja anda mematikan lampu lalu lintas di suatu perempatan jalan yang ramai, maka tanpa dipandu oleh anggota polantas sudah pasti perempatan tadi itu akan menjadi titik kemacetan dan kekacauan. Begitulah suatu negeri yang melepaskan diri dari bimbingan dan kepemimpinan Tuhan.

Berdasarkan pemahaman ini maka sangat penting kiranya untuk memiliki pemimpin yang ber-Tauhid, beriman kepada Allah swt. Tidak boleh kiranya pemimpin itu dipilih secara acak dan random asalkan disenangi dan dipilih oleh mayoritas rakyat negeri ini.

Harus ada suatu mekanisme memilih pemimpin di negeri ini sehingga akan diperoleh pemimpin yang ber-Tauhid. Oleh sebab itu maka amat bijak kiranya apabila kekuasaan rakyat itu kembali dilaksanakan melalui badan MPR, yang dengannya akan dipilih pemimpin negeri ini dari kalangan orang yang beriman.

Bisa anda bayangkan apabila masyarakat Arab Quraisy diberi kebebasan untuk menentukan pemimpinnya sendiri dan diberikan kebebasan untuk menentukan kebijakannya sendiri, mungkin diperlukan waktu ribuan tahun lamanya untuk dapat menghasilkan masyarakat yang unggul. Dalam sistem kepemimpinan Allah dan Rasul-Nya tidak dikenal sistem demokrasi liberal, sehingga dengan kepemimpinan yang didasarkan pada petunjuk dan kepemimpinan Allah maka dalam waktu sekitar 24 tahun saja lahirlah suatu generasi masyarakat muslim yang unggul, yang belum pernah ada dalam sejarah manusia sebelumnya. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 23.55