Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Sabtu, 13 Februari 2016

Mengaji Realitas dan Fakta

Pada suatu malam di pinggiran kota Mekkah terdapat sebuah gua yang kecil, bernama gua Hira yang terletak di sebuah bukit bernama Jabal Nur. Di gua kecil tersebutlah tengah menyendiri dan merenung seorang penduduk Mekkah yang buta huruf. Kemudian Allah azza wajalla melaui malaikat Jibril menyampaikan wahyu pertama-Nya kepada orang tadi sekaligus mengangkatnya menjadi seorang Nabi dan Rassul. Ayat yang pertama turun berbunyi: “Bacalah!”

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ
خَلَقَ الإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ
اقْرَأْ وَرَبُّكَ الأَكْرَمُ
الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ
عَلَّمَ الإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

“Bacalah, dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Paling Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS al-Alaq: 1~5)

Apa yang harus dibaca? Apa yang harus dibaca oleh seorang yang buta huruf? Allah memerintahkan kepada Muhammad saw untuk membaca keadaan. Keadaan mata hatinya, keadaan dirinya dan keadaan masyarakat di sekitarnya. Begitulah ayat yang pertama kali diturunkan Allah di Mekkah saat itu memerintahkan kepada manusia untuk membaca keadaan dan realitas.

Setelah itu maka Muhammad saw kemudian berdakwah dan menyampaikan pesan Allah swt tadi kepada keluarganya, sanak kerabat dan orang-orang terdekatnya. Isi utama dari dakwah Rasullullah saw saat itu adalah menyampaikan pesan Allah swt, apapun itu isinya, baik sesuatu yang mudah diterima maupun sesuatu yang sulit untuk diterima oleh kebanyakan masyarakatnya pada zaman itu.

Bandingkan dengan isi dan kandungan dari kebanyakan ceramah dan pengajian umat Islam saat ini, baik itu di masjid, radio maupun televisi. Kebanyakan dari tema dan isi ceramah yang disampaikan adalah berupa sesuatu yang ditujukan untuk menghibur, menyenangkan pendengarnya atau jamaahnya dan berisi hal-hal yang bersifat teori agama Islam. Kajiannya adalah kebanyakan tentang isi hadits, isi kitab ataupun kajian tentang cara membaca al-Qur’an. Sedikit sekali pembahasan pengajian itu tentang fakta atau realitas masyarakat saat ini.

Pengajian dan ceramah dikemas agar supaya menarik hati pendengarnya, agar supaya jumlah jamaahnya bertambah-tambah. Bayangkan apabila strategi dan siasat dakwah Rasullullah saw saat itu mempergunakan metode semacam ini. Jumlah pengikutnya mungkin segera bertambah banyak karena memang Muhammad saw terkenal dengan pribadi yang menarik dan jujur, akan tetapi isi dari ajarannya pasti akan bercampur aduk dengan kebatilan.

Syukurlah Rasullullah saw dulu tidak seperti itu, dia konsisten dengan prinsipnya. Begitu juga yang dilakukan oleh Rasul-Rasul Allah sebelumnya. Pengikut mereka hanya segelintir saja dan itu pun termasuk dari golongan masyarakat miskin. Meskipun jamaahnya sedikit, Rasul tetap konsisten menyampaikan pesan Allah meskipun isinya tidak disenangi kebanyakan orang saat itu.

Dalam menyampaikan pesan Allah swt metode dakwah yang dipergunakan oleh Rasullullah saw adalah dengan cara memberi contoh dan tauladan. Itulah cara pembelajaran yang paling baik dan paling efektif untuk merubah suatu masyarakat. Bukan dengan cara ceramah atau pidato. Karena itulah Rasul waktu itu melarang sahabat untuk menuliskan isi ceramah dan pidato Rasul ketika beliau berceramah. Sehingga hingga kini kita tidak mendapati kitab atau buku kumpulan ceramah Rasullullah saw.

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
“Sesungguhnya pada diri Rasulullah ada teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir serta banyak berdzikir kepada Allah.” (QS 33:21)

Isi dan tema dari dakwah Rasullullah saw adalah menjelaskan realitas dan kondisi saat itu dan kemudian menjelaskan petunjuk Allah dalam menghadapi realitas tersebut. Hal ini sangat berbeda sekali dengan isi dan tema ceramah serta pengajian kebanyakan umat Islam saat ini.

Dengan perbedaan tersebut maka dampak dan hasil yang dicapai juga sangat berbeda. Pengajian yang berisi teori dan pembahasan agama akan menciptakan masyarakat yang mengidolakan ulama, kyai atau syaikh. Tidak membawa perubahan dan perbaikan yang signifikan terhadap masyarakatnya. Banjir saat musim hujan tiba masih saja tetap terjadi karena sungai penuh dengan sampah. Lingkungan masyarakat muslim kotor dan jorok, membuang puntung rokok sembarangan, membuang bangkai tikus ke jalan raya, berjualan di trotoar, memacu kendaraan pribadi di jalur busway, dsb. Karena apa? Karena bagi sebagian besar benak umat Islam di Indonesia, hukum agama tidak ada hubungan dan relevansinya dengan menjaga kebersihan lingkungan, menjaga ketertiban masyarakt atau hukum lalu lintas. Tidak ada surat dalam al-Qur’an yang secara spesifik menyatakan itu.

Banyak umat Islam yang tidak mau makan daging babi ataupun bumbu instan atau permen coklat yang mengandung zat derivatif dari babi. Tapi untuk melakukan korupsi, bersekongkol dan tidak jujur dalam usaha atau bisnisnya tidak masalah, karena semata-mata hal itu tidak dibahas secara spesifik dalam al-Qur’an.

Begitulah kalau isi dan tema dari pengajian atau ceramah saat ini jauh sekali perbedaannya dengan isi dan tema dakwah yang dicontohkan dengan suri tauladan Rasullullah saw saat itu. Mengaji itu seharusnya juga membahas tentang realitas dan kondisi aktual saat ini, bukan sekedar teori dan ajaran semata. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 23.44