Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Senin, 6 Juli 2015

Makna Ber-Tauhid

Makna ber-Tauhid bukan hanya sekedar meng-Esakan Allah dengan tidak menyembah berhala, bukan semata-mata seperti itu.

Tauhid adalah pelaksanaan and pengejawantahan dari sumpah seorang muslim pada saat mengucapkan dua kalimat syahadat. Dengan mengucapkan dua kalimat syahadat berarti seorang muslim telah bersumpah untuk menyerahkan seluruh hidup dan kehidupannya hanya kepada Allah. Menjadikan Allah sebagai pemilik dan penguasa bagi diri ini, sehingga segala aktivitas dan kehendak setiap diri ini harus didasarkan pada kehendak Allah.

Melepaskan diri ini dari penguasaan hawa nafsu dan menggantungkan urusan diri ini dan keputusan nasib diri ini hanya kepada Allah. Menjadikan Allah sebagai penguasa dan pengendali diri. Begitulah kira-kira sebagian dari makna ber-Tauhid.

Allah adalah Tuhan yg disembah pada saat kita shalat, Tuhan penguasa pada saat kita mengatur hidup, Tuhan yang menguasai ikhtiar dan kerja kita. Tuhan penguasa dimana pun kita berada dan saat kapan pun, jadi bukan hanya Tuhan saat kita berada di masjid saja.

Percaya bahwa obat yang diberikan oleh dokter adalah penyebab kesembuhan, merupakan salah satu contoh dari gugurnya iman seseorang.

Berdoa di malam hari atau berdoa di al-Multazam (antara Hajar Aswad dengan pintu Ka’bah) untuk meminta dan mengatur Allah agar Dia memenuhi permintaan kita, adalah salah satu contoh dari gugurnya iman seseorang, karena menjadikan kepentingan diri kita sebagai tuhan bagi diri kita sendiri dan menempatkan Allah menjadi objek untuk mengabulkan permintaan kita.

Apabila kita menempatkan ikhtiar dan usaha menjadi penyebab utama, apabila kita menempatkan diri kita menjadi penentu nasib dan jalan hidup kita, apabila kita menuntut Allah untuk mengabulkan permintaan kita, maka saat itu gugurlah sumpah kita untuk menempatkan Allah sebagai tempat untuk menggantungkan segala urusan dalam hidup dan kehidupan ini. Oleh karenanya maka wajib bagi kita untuk senantiasa beristigfar, menyadari kekeliruan ini dan memperbaruhi sumpah syahadat dengan cara mengulangi syahadat sebanyak-banyaknya. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 00.05