Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Minggu, 14 Februari 2016

Siapakah Ulama Pewaris Nabi ?

Pada zaman Rasullullah saw dulu hidup, masyarakat Quraisy Arab terdiri dari beberapa golongan seperti golongan pedagang dan saudagar kaya, para pemuka masyarakat dan bangsawan, kalangan artis dan pembaca puisi serta banyak pula kalangan orang-orang miskin dan para budak. Ketika Rasullullah saw memulai dakwah menyiarkan agama Islam dan menyampaikan pesan Ilahi, maka yang pertama-tama menjadi pengikutnya adalah keluarga terdekatnya, kerabat dan sahabat-sahabatnya. Kemudian berturut-turut ajaran beliau diterima oleh kebanyakan dari golongan orang-orang miskin dan budak.

Sudah menjadi Sunatullah bahwa para Nabi dan Rasul Allah adalah orang-orang terdekat dengan kalangan fakir miskin dan kalangan menengah ke bawah, sebagaimana juga para pengikut Nabi Nuh as.

فَقَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَوْمِهِ مَا نَرَاكَ إِلاَّ بَشَرًا مِثْلَنَا وَمَا نَرَاكَ اتَّبَعَكَ إِلاَّ
الَّذِينَ هُمْ أَرَاذِلُنَا بَادِيَ الرَّأْيِ وَمَا نَرَى لَكُمْ عَلَيْنَا مِنْ فَضْلٍ بَلْ نَظُنُّكُمْ كَاذِبِينَ

“Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya: "Kami tidak melihat kamu, melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu, melainkan orang-orang fakir dan orang-orang lemah serta orang-orang hina di antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apapun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta". (QS 11:27)

Apabila pada zaman sekarang ini ada ulama yang jauh hubungannya dengan orang-orang miskin, maka ulama tersebut tidak sejalan dengan misi Rasullullah saw. Beberapa ulama justru merasa bangga memperlihatkan jamaahnya yang banyak jumlahnya, terdiri dari kalangan menengah ke atas, para artis ataupun kalangan pejabat.

Kadangkala dakwah Islam diselingi dengan gemerlap perhiasan, mulai dari pakaian taqwa, hijab, kosmetika yang Islami sampai pada biro perjalanan umroh. Semua itu merupakan lahan bisnis yang melimpah dan menggiurkan. Para pebisnis gemar sekali menjadi sponsor utama setiap perhelatan atau pun event dakwah Islam.

Tarif sekali ceramah atau menjadi pembicara bagi seorang ulama yang sudah terkenal menjadi mahal sekali. Padahal belum pernah didapati dalam sejarah ada seorang Nabi atau Rasul Allah menerima bayaran dari syiar atau dakwah yang dilakukannya.

وَيَاقَوْمِ لاَ أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مَالاً إِنْ أَجْرِيَ إِلاَّ عَلَى اللَّهِ وَمَا أَنَا بِطَارِدِ الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّهُمْ مُلاَقُو
رَبِّهِمْ وَلَكِنِّي أَرَاكُمْ قَوْمًا تَجْهَلُونَ

Dan (dia Nuh berkata): "Hai kaumku, aku tiada meminta harta benda kepada kamu (sebagai upah) bagi seruanku. Upahku hanyalah dari Allah dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang telah beriman. Sesungguhnya mereka akan bertemu dengan Tuhannya, akan tetapi aku memandangmu suatu kaum yang tidak mengetahui." (QS 11:29)

أُوْلَئِكَ الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ فَبِهُدَاهُمْ اقْتَدِهِ قُلْ لاَ أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِنْ هُوَ إِلاَّ ذِكْرَى لِلْعَالَمِينَ
“Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka. Katakanlah: "Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan (Al-Quran)". Al-Quran itu tidak lain hanyalah peringatan untuk seluruh ummat.” (QS 6:90)

Dalam suatu pengajian guru melarang murid-muridnya untuk menerima bayaran dari ceramah atau pun syiar Islam yang dilakukan. Meskipun amplop uang ceramah itu diberikan tanpa diminta, tetap guru dengan keras melarang murid-muridnya untuk menerimanya. Guru juga melarang murid-muridnya untuk mengambil keuntungan dari setiap bentuk syiar Islam ataupun ibadah, bahkan melarang murid-muridnya untuk menjalani bisnis perjalanan umroh, karena tidak pantas mengambil keuntungan dari orang-orang yang beribadah.

Kalau begitu, di zaman sekarang ini, siapakah ulama pewaris Nabi?

Ulama pewaris Nabi adalah mereka-mereka yang dengan ikhlas berdakwah dan menyiarkan pesan Allah sebagaimana yang dilakukan oleh para Nabi dan Rasul terdahulu. Mereka adalah orang yang dekat dengan kalangan fakir miskin, yang tidak menerima imbalan upah dari setiap dakwahnya itu dan orang-orang yang menyampaikan pesan Allah swt apa adanya, meskipun apa yang disampaikannya itu tidak selalu disenangi pendengarnya.

Saat ini di Indonesia banyak sekali bencana terjadi, mulai dari bencana kebakaran hutan, asap pekat selama beberapa bulan, banjir, gempa bumi, tanah longsor, gunung meletus atau pun bencana dihantam angin puting beliung. Mereka yang tertimpa bencana adalah kebanyakan orang-orang kurang mampu dan orang yang tidak berdosa. Kalau anda bertanya kepada ulama saat ini, mengapa? Mengapa Allah menurunkan azab seperti ini?

Jawaban kebanyakan dari para ulama mungkin sudah bisa ditebak: “ini adalah suatu ujian dari Allah, musibah ini menyuruh kita untuk bertobat dan lebih mendekatkan diri kepada Allah. Oleh sebab itu maka kita semua harus bersabar dalam menghadapi musibah ini.”

Padahal kebanyakan dari para ulama tersebut sebenarnya tidak mengerti bagaimana caranya untuk bisa berhubungan langsung dengan Allah. Mereka tidak mengerti apa sebenarnya pesan Allah untuk umat ini dan mengapa Allah menurunkan azab berupa bencana yang terus menerus itu.

Jadi terhadap kebanyakan ulama-ulama masa kini, bagaimana mungkin kita bisa menyebutnya menjadi pewaris Nabi? Terhadap ulama masa kini, hal apa yang mereka wariskan dari Nabi? Padahal kalau kita mengaharapkan kebangkitan Islam, maka itu harus dimulai dari para ulamanya. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 23.09