Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Jumat, 19 Februari 2016

Melawan Tipu Daya iblis

Iblis adalah mahluk yang dilaknat Allah swt karena menentang perintahnya untuk sujud kepada Nabi Adam as. Kemudian setelah dilaknat dan diusir dari surga, iblis bersumpah untuk menjadi musuh abadi bagi anak cucu Adam as. Sejak itulah iblis dinyatakan sebagai syaithan bagi manusia, yaitu musuh manusia yang nyata.

Banyak sekali orang di zaman sekarang ini yang menganggap keberadaan iblis atau syaithan sebagai takhayul, sesuatu yang tidak perlu dipercayai keberadaannya. Padahal keberadaan iblis atau syaithan itu nyata dan dicantumkan dalam al-Qur’an.

Boleh dibilang hampir setiap manusia digoda iblis, bahkan Nabi dan Rasul sekalipun juga digoda iblis. Manusia dan iblis bisa saling berinteraksi dan berhubungan, misalnya adalah ketika iblis menggoda siti Hawa atau ketika iblis menggoda Nabi Ibrahim as ketika hendak menyembelih puteranya Ismail as. Kisah interaksi antara iblis dan manusia juga banyak diceritakan, misalnya ketika Nabi Isa as digoda iblis, ketika Nabi Ayyub as atau nabi Yahya as atau Nabi Zulkifli as digoda iblis.

Berdasarkan hasil dari penelusuran dan penyelidikan yang dilakukan oleh guru dan sahabat-sahabat dalam pengajian, dari sekian banyak iblis ada diantara mereka yang gemar sekali menyesatkan manusia dengan mengaku menjadi malaikat Jibril atau mengaku menjadi Rasullullah saw. Ketika diinterogasi sang iblis mengaku dialah yang telah menyesatkan beberapa orang di negeri ini seakan-akan mereka mendapat wahyu dari Allah, sehingga kemudian mereka mengaku dirinya sebagai Nabi atau Rasul. Ada juga yang kemudian mengaku menjadi imam Mahdi.

Mengapa orang-orang tadi bisa tersesat oleh tipu daya iblis?

Jawabannya adalah karena kebanyakan dari kita beragama karena dasar dalil dari kitab. Dari kitab al-Qur’an ataupun kitab kumpulan hadits. Oleh sebab itu apabila misalnya datang suatu sinar yang terang yang mengaku sebagai tuhan, ataupun seseorang dengan wajah tampan hadir dalam mimpinya dan mengaku sebagai malaikat jibril, maka sebagian besar dari kita akan lekas percaya. Padahal apa yang datang kepadanya adalah iblis yang sedang melakukan tipu daya.

Begitulah kalau selama ini dasar dari agama kita hanyalah dalil dan fatwa belaka. Maka sulit bagi kita untuk bisa membedakan tipu daya iblis atau memang petunjuk dari Allah swt. Contohnya adalah beberapa orang di negeri kita yang mengaku dirinya sebagai Nabi atau Rasul, karena telah tertipu iblis.

Seharusnya yang benar dasar beragama dari kita adalah iman, iman kepada Allah swt. Seseorang yang telah menyatakan ikrarnya kepada Allah maka dia dituntut untuk berhubungan langsung kepada Allah swt. Sehingga dengan demikian dia akan mengerti dan memahami mana yang petunjuk Allah dan Rasul-Nya, mana yang tipu daya iblis.

Seseorang yang telah memiliki hubungan langsung kepada Allah adalah orang yang telah ber-Tauhid kepada Allah swt. Tidak mungkin lagi bisa digelincirkan oleh tipu daya iblis yang dilaknat Allah. Sehebat apa pun tipu daya iblis, mereka tidak akan mampu untuk menggetarkan qalbu dan nurani orang yang beriman, tidak dapat membangkitkan keyakinan dan iman qalbunya orang yang ber-Tauhid atau bahkan merubah pola pikirnya sekalipun.

Saudaraku, marilah kita luruskan cara beragama kita mulai saat ini. Jangan lah beragama hanya berdasarkan dalil atau kitab saja, karena terbukti hal ini sangat mudah untuk ditipu dan disesatkan oleh iblis. Beragama itu dasarnya adalah iman dan Tauhid yang sudah dibuktikan sendiri sepanjang hidupnya sehingga mengkristal menjadi suatu keyakinan yang kuat kepada Allah swt. Jadikanlah Allah swt dan Rasul-Nya menjadi pelindung, wali dan sumber petunjuk, niscaya tidak akan tersesat selama-lamanya. Berpeganglah pada tali Allah yang kuat tersebut. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 23.47