Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Senin, 22 Februari 2016

Sholat Yang Khusyu

Pada suatu pengajian, guru mengajarkan kepada murid-muridnya untuk melaksanakan sholat dengan khusyu. Yaitu sholat yang benar-benar fokus dan meniadakan perhatiannya kecuali pada penyembahan kepada Allah swt.

Di zaman sekarang ini sedikit sekali orang Islam yang mempedulikan atau menganggap serius pentingnya sholat dengan khusyu. Setiap kali iqomat dikumandangkan sebelum sholat dimulai, maka yang lebih diperhatikan oleh imam adalah meluruskan shaf dan merapatkan barisan, dengan alasan bahwa lurusnya shaf dan rapatnya barisan adalah syarat utama sempurnanya sholat.

Padahal yang jauh lebih penting dari itu adalah meluruskan hati dan fikiran untuk fokus kepada Allah, sehingga dengan demikian sholat akan menjadi khusyu. Dan apabila kita mau memperhatikan ayat-ayat al-Qur’an maka syarat sempurnanya sholat adalah khusyu. Hati yang sebelumnya dipenuhi dengan berbagai urusan duniawi harus diputus sesaat, sehingga hati beristirahat dan menjadi tenang. Fikiran yang mudah mengembara kemana-mana harus dikekang dan dikendalikan agar diam di tempatnya dan tidak pergi kemana-mana.

Barisan sholat yang terlampau rapat justru akan dapat merusak ke-khusyu-an sholat kita, oleh sebab itu tidak apa jika sedikit direnggangkan agar supaya masing-masing diri merasa nyaman dalam sholatnya dan tidak saling mengganggu.

Salah satu ciri dari orang yang beriman adalah khusyu dalam sholatnya.
الَّذِينَ هُمْ فِي صَلاَتِهِمْ خَاشِعُونَ
“(yaitu) orang-orang yang khusyu dalam shalatnya. “ (QS 23: 2)

Untuk dapat menggapai sholat yang khusyu tidak lepas dari tata cara sholat yang benar. Bagaimana tata cara sholat Rasullullah saw yang sebenarnya dahulu? Kita tidak pernah tahu, apakah dengan cara seperti yang digambarkan oleh imam Syafi’i, ataukah seperti yang diajarkan oleh imam Hambali, atau jangan-jangan seperti tata cara sholat yang diajarkan oleh imam Jafar As-Shidiq? Kita tidak pernah tahu. Oleh karenanya guru mengajarkan murid-muridnya untuk membuat pernyataan di awal sholat agar kita mempasrahkan hal ini kepada Allah Yang Maha Tahu.

Guru juga mengajarkan bahwa sholat bukanlah semata-mata kegiatan fisik semata, tapi yang jauh lebih berperan adalah aktivitas kegiatan dari ruh kita. Oleh karenanya yang terpenting dalam sholat bukanlah mulut yang mengucapkan bacaan sholat akan tetapi ruh yang mengisi bacaan sholat dengan pernyataan dan kesungguh-sungguhan.

Bagi kebanyakan orang Islam saat ini dan kebanyakan pendapat ulama tentang sholat yang khusyu, kebanyakan dari mereka adalah menggampangkan arti khusyu. Asalkan sholat itu tidak bermain-main, serius dan melakukan gerakan sholat dengan tertib, bacaan sholat yang sempurna maka itu sudah dianggap sebagai sholat yang khusyu. Padahal kenyataannya sholat seperti itu sangat jauh dari khusyu dan sangat jauh dari hasil yang diharapkan.

Seseorang yang benar-benar khusyu dalam sholatnya maka ruhnya bergetar tatkala mulutnya membacakan bacaan sholat, qalbunya tenang dan hening karena menerima sinar terang dari Yang Sedang Disembahnya. Matanya mengeluarkan air mata meskipun tidak menangis karena silaunya sinar terang dari dalam qalbunya itu. Sungguh sholat khusyu yang dilakukan satu rakaat saja jauh lebih berarti dan bermakna ketimbang sholat wajib seribu rakaat yang dilakukan tidak dengan khusyu. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 22.04