Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Sabtu, 27 Februari 2016

Ajaran Islam Mengajak Manusia untuk BerTauhid

BerTauhid adalah menjalankan hidup ini didasarkan kepada Perintah dan Petunjuk Allah swt, berserah diri sepenuhnya kepada Allah dan menjalankan apapun perintah Allah swt. BerTauhid juga berarti menyingkirkan setiap penghalang dan perantara yang menjadi hijab antara seorang hamba dengan Allah swt, karena hijab itu pada dasarnya adalah berhala.

Telah terjadi suatu kekeliruan fatal selama ini pada ajaran Islam yang diajarkan oleh para kyai dan ulama kita, yaitu ajaran yang mengajarkan bahwa sumber hukum dalam ajaran Islam adalah al-Qur’an, sunnah Rasullullah saw dan ijma para ulama. Memang sepertinya ajaran ini adalah benar, akan tetapi sesungguhnya ini adalah bentuk ajaran yang sesat. Karena ajaran ini meniadakan peran Allah sebagai Tuhan. Menurut ajaran ini Allah sudah tidak memiliki fungsi lagi untuk membimbing manusia atau memberi petunjuk kepada manusia, karena semua hukumNya telah dituliskan dalam al-Qur’an dan dijelaskan oleh hadits Nabi.

Saudaraku, sesungguhnya ajaran yang telah dicontohkan oleh ayahanda kita Nabi Ibrahim as dan seluruh nabi-nabi keturunan beliau sampai dengan Nabi Muhammad saw mengajarkan manusia untuk memperTuhankan Allah secara langsung. Tidak melalui kitab, tidak melalui alim ulama atau melalui pendapat seorang ahli. Manusia didorong untuk mengenal dan berhubungan langsung dengan Tuhannya, yaitu Allah swt. Begitulah inti ajaran Tauhid yang diajarkan oleh Nabi Ibrahim as.

Ketika Nabi Ibrahim as membawa istrinya siti Hajar ke suatu tanah padang pasir yang tandus dan kosong, kemudian atas petunjuk Allah Ibrahim as diperintahkan untuk meninggalkan istrinya yang sedang hamil tua itu sendirian. Menurut hukum fiqh syariat manapun perbuatan Nabi Ibrahim as itu jelas tidak dapat dibenarkan.

Hukum fiqh syariat Islam yang banyak dianut oleh umat Islam saat ini misalnya, sama sekali tidak membenarkan seorang ayah menyembelih anaknya sendiri seperti yang akan dilakukan Nabi Ibrahim as kepada anaknya Ismail as. Atau ketika Nabi Khidir as membunuh seorang anak laki-laki, maka ajaran syariat Nabi Musa as saat itu pun ikut menyalahkan perbuatannya.

Begitulah kiranya apabila dasar beragama seseorang hanya didasarkan kepada sumber hukum fiqh syariat yang didasarkan kepada kitab semata, maka suatu ketika akan tersesat. Seharusnya diberikan pengertian kepada umat bahwa di atas itu semua ada perintah dan petunjuk langsung dari Allah swt yang harus diikuti dan dilaksanakan, walaupun itu tidak sejalan dengan hukum fiqh syariat yang berlaku.

Wahyu dan petunjuk Allah tidak selamanya ditujukan kepada Nabi atau Rasul saja, beberapa orang selain itu juga menerima wahyu Allah dengan berbagai macam cara, seperti misalnya Allah mewahyukan Yokhebed untuk menghanyutkan bayinya ke sungai yang kelak setelah dewasa menjadi Nabi Musa as.

وَأَوْحَيْنَا إِلَى أُمِّ مُوسَى أَنْ أَرْضِعِيهِ فَإِذَا خِفْتِ عَلَيْهِ فَأَلْقِيهِ فِي الْيَمِّ وَلاَ تَخَافِي وَلاَ
تَحْزَنِي إِنَّا رَادُّوهُ إِلَيْكِ وَجَاعِلُوهُ مِنَ الْمُرْسَلِينَ

“Dan kami wahyukan kepada ibu Musa, Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepada-Mu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul.” (QS 28:7)

Begitulah guru mengajarkan kepada para muridnya untuk berTauhid kepada Allah, sebagaimana Nabi Ibrahim dan para Nabi/Rasul sesudahnya, dengan mempasrahkan diri ini hanya kepada Allah swt dengan sepasrah-pasrahnya.

Ayahanda kita Nabi Ibrahim as memberikan contoh yang bagus tentang arti Tauhid, ketika Ibrahim as hendak dilempar ke perapian, sesosok malaikat hadir untuk menawarkan pembebasan Ibrahim as supaya ia dapat melarikan diri dari hukuman kaumnya, namun Ibrahim as berkata "Cukuplah Yang Maha Melindungi yang memberi keselamatan padaku, sebab selama ini Dialah yang melindungi nyawaku dari Maut dan segala penyelamatan hanya berasal daripadaNya. Sekiranya aku harus mati, maka aku bersedia jika itu yang Dia kehendaki" lalu malaikat itu pergi meninggalkan Ibrahim. Allah turut bersaksi dengan para malaikat ketika mendapati bahwa hampir seluruh manusia di muka bumi pada zaman itu memiliki satu pemikiran dari satu sudut pandang terhadap peristiwa perapian ini, maka Allah hendak mengacaukan pemikiran mereka dengan menampakkan hal berbeda di mata mereka, supaya satu umat dan satu bangsa di bumi menjadi berbagai umat dan bangsa-bangsa yang memiliki pendirian dan pola pikir yang berbeda. Ketika Ibrahim melompat ke perapian yang membara, seketika Allah berfirman kepada perapian supaya menjadi keselamatan terhadap Ibrahim, maka api dari Allah hadir dan Ibrahim berjalan secara tenang dari tengah-tengah perapian.

قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلاَمًا عَلَى إِبْرَاهِيمَ
"Kami berfirman: Wahai api jadilah engkau dingin dan membawa keselamatan kepada Ibrahim." (QS 21: 69)

Sekali lagi guru mengajarkan bahwa Islam mengajak manusia untuk berTauhid kepada Allah, bukan menjadikan manusia menjadi budak dari suatu ajaran agama karena ajaran agama, Nabi dan Rasul, para wali dan para ulama pewaris nabi diturunkan Allah swt bukan untuk menjadi berhala baru, tapi untuk mengajarkan manusia agar berTauhid kepada Allah swt saja. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 21.59