Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Selasa, 7 Juli 2015

Ibadah Zikir dan Zamannya

Zikir adalah suatu sarana bagi seorang hamba untuk mengingat Tuhannya, yaitu dengan mengulang-ulang perkataan dan pikiran dan rasa agar bisa fokus untuk mengingat Tuhan. Pada setiap zaman Allah menurunkan tuntunan bagi umatnya dalam hal ber-zikir yang disesuaikan dengan zamannya.

Sebagai contoh, nabi Adam as setelah turun dari surga, maka selama kurang lebih 350 tahun lamanya ber-istigfar memohon ampunan Allah sehingga akhirnya dipertemukan dengan siti Hawa di bukit Arafah, sebagaimana yang dicatat dalam Al-Qur’an:
قَالاَ رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنْ الْخَاسِرِينَ
“Keduanya berkata: Ya Tuhan Kami, Kami telah menganiaya diri Kami sendiri, dan jika Paduka tidak mengampuni Kami dan memberi Rahmat kepada Kami, niscaya pastilah Kami termasuk orang-orang merugi.” (QS 7:23)

Pada zaman Rasullullah dan para generasi sesudahnya hidup, maka kondisi spiritual dan akhlak masyarakat Islam saat itu masih kental dengan sifat: Sabar, Jujur dan Ikhlas yang menjadi landasan beragama. Jauh berbeda dengan kondisi masyarakat Islam saat ini, terutamanya masyarakat muslim di Indonesia: peuh dengan sifat serakah, dengki dan terlalu mencintai dunia.

YAKDI dalam hal ini mengajak kita umat Islam untuk melakukan zikir berupa: Syahadat, Istigfar dan Sholawat sebagai ikhtiar dan upaya kita untuk senantiasa mengingat Allah serta menggapai sifat: Sabar, Jujur dan Ikhlas sebagai balasan hikmahnya.

Berzikir dengan bacaan lainnya yg tidak jelas asal-usulnya, meskipun itu diambil dari ayat al-Qur’an, boleh jadi justru akan membangkitkan energi ghaib yang justru disenangi oleh bangsa jin. Beberapa kasus telah kami alami dan buktikan sendiri hasil dari amalan zikir yg tidak jelas sumber asal-usul dan nasab-nya. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 00.15