Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Sabtu, 26 Maret 2016

Logika Tauhid

Tulisan berikut ini adalah menguraikan suatu pemikiran logika yang mungkin belum pernah Anda dengar atau pelajari sebelumnya, yakni logika Tauhid. Inilah salah satu cara berfikir yang diajarkan oleh guru kami dalam beberapa kali pengajian. Suatu logika atau cara berfikir yang menurut kami baru, dan ini bisa menjadi suatu tambahan bagi khazanah cara berfikir manusia.

Sejarahnya semenjak dahulu kala ketika iblis berhasil memperdaya sebagian besar anak cucu keturunan Nabi Adam as, cara berfikir dan logika manusia adalah didasarkan kepada pola pikir ketidakadaan Allah swt. Logika dan pola pikir manusia telah disesatkan oleh iblis dengan sesesat-sesatnya. Dimulai dari pola pikir mitos, penyebabnya yaitu karena di alam semesta ini banyak sekali fenomena alam yang belum difahami oleh akal manusia. Iblis menciptaka logika mitos sehingga anak cucu Nabi Adam as membuat nama-nama dewa di atas langit sana untuk dapat menjelaskan segala fenomena alam yang terjadi tadi, padahal nama-nama dewa itu tidak pernah ada.

Kemudian setelah itu iblis membuat suatu alur pola pikir baru, yakni dewa haruslah berupa sesuatu yang nyata. Jadi dewa atau tuhan itu harus ada dan syarat agar bisa diterima akal keberadaan tuhan itu harus bisa terlihat mata. Sehingga kemudia iblis menggelincirkan pola pikir manusia saat itu dengan menciptakan banyak sekali tuhan-tuhan palsu yang diebut dengan berhala. Logika manusia saat itu dijungkirbalikan oleh iblis sehingga membenarkan pemujaan patung berhala yang sebenarnya untuk menolong dirinya sendiri pun tidak mampu. Nabi Ibrahim as menentang cara berfikir dan logika manusia saat itu dengan menghancurkan berhala-berhala kecil dan menyisakan satu berhala yang terbesar.

Kemudian setelah itu di zaman Rennaisance dan kebangkitan Eropa, iblis menciptakan logika yang baru lagi, yaitu cara berfikir yang meniadakan tuhan. Setiap kebenaran itu bukan saja harus dapat dilihat oleh mata namun sekaligus juga harus dapat dibuktikan oleh peralatan manusia. Manusia menjadi penentu utama kebenaran dan keberadaan. Berdasarkan logika modern ini maka keberadaan tuhan tidak diakui, bukan itu saja keberadaan jin dan iblis pun tidak diakui.

Jadi semenjak era Nabi Adam as dan Nabi Nuh as, selama ribuan tahun lamanya manusia telah tersesat dengan pola pikir dan logika yang keliru.

Kemudian guru mengajarkan kepada murid-muridnya suatu logika baru, logika sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi Ibrahim as dan Rasul-Rasul sesudahnya, logika Tauhid. Logika Tauhid adalah cara manusia berfikir dan mempergunakan akalnya dengan menempatkan Allah sebagai dasar rujukan kebenaran dan keberadaan sesuatu. Ternyata dengan mempergunakan logika Tauhid ini kita dengan mudah dapat memahami berbagai macam fenomena alam yang sebelumnya tidak dapat dijelaskan, bahkan oleh logika modern sekalipun.

Guru menjelaskan contohnya adalah kasus populasi manusia: Oleh karena manusia berupaya untuk membatasi perkembangbiakannya, maka akibatnya adalah jumlah penduduk di dunia ini justru kian bertambah setiap tahunnya. Lho? Bagaimana logikanya?

Dalam pola pikir modern, iblis menghasut manusia untuk menghambat pertumbuhan dan perkembangbiakan umat manusia dengan alat kontarespsi. Hal ini bertentangan dengan keinginan Allah yang membiarkan manusia untuk berkembang biak di muka bumi ini. Akibatnya adalah Allah menunjukan kekuasaanNya kepada manusia, justru jumlah populasi manusia kian bertambah dan hal ini membuktikan bahwa Kekuasaan Allah adalah di atas kemampuan daya upaya manusia dan iblis.

Saat ini jumlah populasi manusia di dunia adalah sekitar 7,3 milyar jiwa, dan tiap tahunnya terus bertambah sekitar 81 juta. Artinya apabila seluruh bayi yang lahir di muka bumi dalam setahun tadi dikumpulkan maka sudah bisa untuk membentuk satu negara Mesir tersendiri.

Contoh lainnya adalah: logika modern membenarkan manusia untuk saling berperang dan membunuh manusia lainnya. Manusia yang satu menjadi musuh bagi manusia lainnya. Bahkan sebagian dari ulama Islam ekstrem pun membenarkan cara berfikir seperti ini. Akibat dari cara berfikir seperti ini maka kemudian terjadi serangan teroris bertubi-tubi di berbagai penjuru dunia.

Negara-negara Islam seperti Iraq, Afghanistan dan Pakistan menempati urutan teratas kasus terorisme dengan angka korban per tahunnya lebih dari 10 ribu orang. Allah hendak menunjukan dan mengajarkan kepada manusia bahwa musuh manusia sebenarnya itu bukan manusia lainnya melainkan iblis.

Begitulah logika Tauhid diajarkan kepada manusia agar akal manusia bisa memahami segala fenomena di alam ini. Adapun Allah swt sendiri sebenarnya tidak mempergunakan logika dalam menetapkan sesuatu keputusan atau keinginan. Allah Yang Maha Kuasa tidak memerlukan cara berfikir akal karena memang Allah tidak memerlukan akal dalam menjalankan roda pemerintahanNya. Kita manusia lah yang memerlukan penjelasan logika terhadap kebijakan dan ketetapan Allah di alam semesta.

Misalnya adalah Maryam seorang perawan suci yang melahirkan Nabi Isa as, atau kasus lainnya yaitu kelahiran Nabi Yahya dari seorang wanita tua yang mandul. Ketika Nabi Zakaria as bertanya kepada Allah swt bagaimana penjelasan logikanya:
قَالَ رَبِّ أَنَّى يَكُونُ لِي غُلاَمٌ وَكَانَتْ امْرَأَتِي عَاقِرًا وَقَدْ بَلَغْتُ مِنْ الْكِبَرِ عِتِيًّا
“Ya Rabbku, bagaimana akan ada anak bagiku, padahal isteriku adalah seorang yang mandul dan aku (sendiri) sesungguhnya sudah mencapai umur yang sangat tua?” (QS 19:8)

Allah menjawab:
قَالَ كَذَلِكَ قَالَ رَبُّكَ هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٌ وَقَدْ خَلَقْتُكَ مِنْ قَبْلُ وَلَمْ تَكُنْ شَيْئًا
“Dia berfirman: ‘Demikianlah.’ Rabbmu berfirman: ‘Hal itu adalah mudah bagi-Ku, dan sesungguhnya telah Aku ciptakan kamu sebelum itu, padahal kamu (di waktu itu) belum ada sama sekali.” (QS 19:9)

Jawaban Allah swt tersebut tidak menjelaskan tentang cara-caranya atau proses bagaimana kehamilan bisa terjadi pada wanita yang mandul lagi sudah tua, jawaban tadi juga tidak menjelaskan bagaimana logikanya dan apa alasannya sehingga Allah berketetapan untuk menganugerahkan seorang anak kepada Nabi Zakaria as. Allah hanya berkata: “Demikianlah”.

Jadi tanpa logika Tauhid dapat dimengerti bahwa manusia tidak akan mampu untuk memahami dan menjeaskan segala fenomena dan fakta yang terjadi di alam ini. Karena semua yang terdapat dan terjadi di alam ini didasari bukan oleh apa yang dapat dipahami manusia, melainkan murni sepenuhnya berdasarkan ketetapan dan keinginan Allah swt. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 10.56