Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Rabu, 8 Juli 2015

Larangan Mencampur Musik dengan Pujian kepada Allah

Dalam syiar Islam belakangan ini, musik kerap kali dipergunakan untuk melantunkan lagu-lagu Islami yg berisi pujian kepada Allah. Dasarnya seringkali disejajarkan dengan syiar yang pernah dilakukan oleh kanjeng Sunan Kalijaga yang juga mempergunakan musik gamelan jawa dalam melakukan dakwah Islam di masyarakat jawa pada waktu itu.

Tulisan ini dimaksudkan untuk meluruskan sepenggal fakta sejarah yang berhubungan dengan Islam di tanah Jawa.

Sebagaimana kisah penyerangan tentara kerjaan Islam Demak ke kerajaan Majapahit, maka yang perlu diluruskan adalah fakta bahwa saat itu Majapahit telah diserang dan ditaklukan oleh kerajaan Hindu Blambangan dengan dibantu oleh Portugis. Maka menjadi sah dan dibenarkanlah kiranya jika kerajaan Islam Demak saat itu menyerang Majapahit dibawah kekuasaan Blambangan, menyerang benteng dan armada Portugis bahkan sampai ke Malaka sekalipun. Hal inilah yang jarang sekali diungkap sebagai fakta sejarah, bahwa Islam tidak memiliki sifat Ekspansif dan menumpas.

Demikian juga cara Sunan Kalijaga berdakwah adalah dengan cara mempergunakan gamelan dan pertunjukan wayang hanya sebagai sarana untuk memanggil dan mengumpulkan masyarakat jawa saat itu. Isi dan inti dakwah syiar Islamnya sendiri tidak dilakukan dengan mencampurkan musik jawa, tetapi murni dengan wejangan yang santun.

Mencampurkan musik dalam pujian kepada Allah menjadi tidak santun, terlebih lagi bagi mereka yang dekat sekali hubungannya dengan Allah, maka mencampur pujian kepada-Nya dengan musik menjadi sangat tidak sopan dan melanggar etika kesantunan dalam berhubungan dengan Allah. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 00.05