YAKDI - Opini Aktual
Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Senin, 04 April 2016

Allah Membenci Riba

Dunia sekarang ini dikuasai oleh suatu sistem perbankan yang berlandaskan pada sistem riba, yaitu sistem yang memperbolehkan uang dipergunakan sebagai alat untuk melipatgandakan uang melalui bunga bank. Padahal dalam al-Qur’an Allah swt memerintahkan umat Islam untuk menjauhi riba.

Guru menjelaskan dengan lebih rinci lagi, apa yang dimaksud dengan riba itu: yaitu sistem penggandaan nilai uang melalui perhitungan bunga. Pada saat seseorang meminjam modal di bank, maka dia akan dikenai bunga bank untuk pengembaliannya. Dan apabila terjadi kerugian dalam usaha orang tadi, maka resiko kerugian tersebut harus ditanggung sepenuhnya oleh peminjam, bukan oleh bank.

Setiap usaha bisnis, apapun itu jenisnya maka pasti ada resiko yang harus ditanggungnya. Seorang pemilik modal yang meminjamkan modalnya untuk berusaha, maka dalam sistem riba pemilik modal tadi tidak dikenakan tanggungan resiko apa-apa terhadap usaha yang dilakukan oleh peminjam modal. Peminjam modal itulah dengan segala jerih payah tenaga dan pikiran justru harus menanggung seluruh resiko tadi. Begitulah kira-kira bagaimana sistem riba dijalankan di seluruh bank yang beroperasi saat ini.

Akibat dari pemberlakuan sistem seperti ini, maka akibatnya adalah: orang kaya yang memiliki banyak modal maka dia akan semakin kaya dan semakin berlipat ganda kekayaannya. Karena setiap kali modal tadi dipergunakan, maka pemilik modak tidak menanggung resiko sedikit pun, dengan kata lain keuntungannya terjamin. Tidak mungkin bisa rugi.

Sedangkan orang-orang miskin yang tidak memiliki modal akan menjadi kuda tunggangan para pemilik modal usaha. Orang-orang miskin tadi pada saat dia meminjam modal maka dia harus menanggung pengembalian dan bunga pinjaman, sekaligus dia juga harus menanggung resiko usaha. Sehingga amat sangat sulit bagi orang miskin untuk bisa lepas dari jeratan kemiskinan.

Apabila Anda mau ber-eksperimen melakukan sebuah percobaan simulasi: di suatu kota yang berpenduduk ribuan jiwa Anda isolasi, kota itu Anda kunci sehingga tidak ada hubungan penduduknya dengan dunia luar. Kemudian Anda terapkan sistem riba sebagaimana yang berlaku saat ini. Maka setelah bertahun-tahun lamanya, Anda pasti akan menemukan fakta bahwa penduduk miskin di kota tadi tidak akan berkurang jumlahnya, melainkan justru akan semakin banyak. Hal ini sudah dijelaskan Allah dalam al-Qur’an:
وَمَا آتَيْتُمْ مِنْ رِبًا لِيَرْبُوَا فِي أَمْوَالِ النَّاسِ فَلاَ يَرْبُوا عِنْدَ اللَّهِ وَمَا آتَيْتُمْ مِنْ زَكَاةٍ تُرِيدُونَ وَجْهَ
للَّهِ فَأُوْلَئِكَ هُمْ الْمُضْعِفُونَ

“Dan sesuatu riba yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan. (QS 30:39)

Jadi berdasarkan ayat tersebut tadi, sistem riba seperti sekarang ini pada faktanya adalah tidak akan menambah jumlah kekayaan suatu masyarakat. Melainkan dia hanya akan mempertahankan kekayaan para pemilik modal dan membuat rintangan yang hebat bagi orang miskin untuk bisa menjadi kaya.

Contoh simulasi tadi adalah mirip dengan apa yang terjadi di benua Eropa dahulu, sejarah telah membuktikan bahwasistem riba akan menciptakan angka kemiskinan dan kemelaratan semakin bertambah dimana-mana.

Nah, sekarang bagaimana caranya untuk dapat mengurangi angka kemiskinan tadi? Yaitu caranya antara lain dengan membuka kota tadi dengan dunia luar. Melakukan ekspansi ke wilayah lain, sebagaimana bangsa Eropa kemudian meluaskan wilayahnya dan menjajah negara-negara lainnya dengan maksud untuk bisa menghisap kekayaannya.

Ekspansi bisa juga dalam bentuk seperti sekarang ini, yaitu ekspansi modal perbankan dari negara kaya ke negara miskin. Melalui Bank Dunia atau pun melalui bank-bank lainnya, dengan maksud untuk memberikan pinjaman modal tanpa harus menanggung resikonya, alias dijamin pasti untung.

Akibatnya adalah dunia saat ini ternyata tidak bisa mengurangi jumlah orang miskin, dan sekaligus tidak bisa menambah jumlah orang kaya secara signifikan. Negara-negara kaya (bekas penjajah dan penghisap kekayaan negara lain) akan semakin kaya, sedangkan negara miskin justru semakin miskin.

Apabila saat ini Anda menabung di bank dengan maksud hanya sekedar untuk menyimpan uang, maka janganlah Anda nikmati bunga keuntungannya, karena itu adalah riba.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنْ الرِّبَا إِنْ كُنتُمْ مُؤْمِنِينَ
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba, jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS 2:278)

Sungguh, ini adalah sebuah sistem yang tidak adil. Allah swt membenci ketidakadilan seperti ini, Allah swt membenci sistem riba. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 23.09