Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Senin, 04 April 2016

Tidak Ada Istilah Anak Haram

Anak haram adalah sebuah istilah yang dibuat oleh umat Islam untuk menyatakan status seorang anak yang dilahirkan dari perzinahan di luar nikah. Dengan menyandang status anak haram ini maka orang tersebut memiliki status hukum dan perlakuan yang sedikit berbeda dengan anak-anak lainnya hasil dari pernikahan yang sah.

Status anak haram ini sangat merendahkan dan menghina anak tersebut, sehingga seakan-akan dengan panggilan anak haram itu maka si anak tersebut mewarisi hukuman atas kesalahan yang sebenarnya tidak pernah dilakukannya.

Pada era pemikiran kaum Nasrani dahulu, setiap anak yang lahir ke muka bumi ini akan mewarisi dosa yang dibawa oleh orang tuanya, termasuk dosa Nabi Adam as. Sehingga berdasarkan pola pikir yang sama itu pula maka kemudian sebagian besar umat Islam juga ikut-ikutan menghukum anak yang lahir di luar pernikahan yang sah dengan sebutan anak haram. Padahal Allah swt menyanggah pemikiran tersebut dan menyatakan bahwa seseorang itu tidak akan menanggung dosa orang lain.

أَلاَّ تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى
“Bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.” (QS 53:38)

Allah Yang Maha Berkuasa menciptakan janin dari sel sperma dan sel telur yang bertemu dan bersatu. Tidak peduli apakah pertemuan itu didasari oleh suatu ritual pernikahan atau tidak, suatu perzinahan atau perkosaan, tidak peduli. Allah Yang Maha Kuasa berkuasa dan berkehendak untuk menyempurnakan kejadian dari penyatuan antara sel sperma dan sel telur tersebut sehingga kemudian terciptalah janin dan seterusnya sampai seorang anak manusia yang sempurna dilahirkan.

Hal ini disebabkan karena sudah menjadi iradat dan kehendak Allah swt sejak zaman dahulu kala untuk mengembangbiakan anak keturunan Adam di muka bumi ini.

Dimulai dari setetes air yang hina, kemudian Allah menyempurnakan kejadian anak manusia di dalam rahim. Dan kemudian Allah swt meniupkan ruh ke dalam janin tadi, sehingga sempurnalah kejadiannya.

Di dalam rahim ibu, anak dalam kandungan tersebut memperoleh zat-zat yang berasal dari sari pati tanah dan cairan dari ibunya. Belum ada unsur api atau angin masuk ke dalam tubuhnya, sehingga tubuh anak masih lembut dan lunak. Kemudian setelah cukup usia kandungannya, anak tersebut lahir ke dunia, menghirup nafas dan kemudian menangis. Unsur angin dan unsur api kemudian mulai memasuki tubuh anak tadi, sehingga lambat laun tubuhnya semakin mengeras dan semakin kuat.

“Seorang bayi tak dilahirkan (ke dunia ini) melainkan ia berada dalam keadaan fitrah. Lalu dia berkata; Bacalah oleh kalian firman Allah yg berbunyi: '…tetaplah atas fitrah Allah yg telah menciptakan manusia menurut fitrahnya itu. Tidak ada perubahan atas fitrah Allah itulah agama yg lurus.' (QS. Ar Ruum (30): 30). [HR. Muslim No.4804].

Bayi yang baru dilahirkan tadi adalah hasil dari Kehendak Allah swt dan hasil dari Ciptaan Allah swt, bukan hasil dari buatan kedua orang tuanya. Karena kedua orang tuanya, tidak peduli seberapa jeniusnya mereka, tidak mungkin mampu menciptakan seorang anak manusia dari setetes air yang hina, apalagi meniupkan ruh kepadanya.

Di sini, di titik inilah letak perbedaan antara pandangan fiqh Syariat dengan fiqh Tauhid. Dalam fiqh Syariat yang banyak dianut oleh kebanyakan orang Islam, bahwa seorang anak yang lahir ke dunia adalah hasil dari perbuatan orang tuanya. Sedangkan fiqh Tauhid memandang bahwa seorang anak yang lahir ke dunia adalah hasil dari perbuatan Allah swt. Sehingga dengan pandangan yang berbeda tersebut, fiqh Syariat mamandang adanya anak haram, sedangkan fiqh Tauhid memandang bahwa setiap anak yang lahir adalah dalam keadaan Fitrah dan bersih, tidak ada anak haram.

Analogi dari kedua pandangan yang berbeda ini adalah mirip dengan kehidupan manusia di muka bumi ini. Seorang ahli fiqh Tauhid memandang bahwa manusia lahir ke muka bumi ini sebagai perwujudan dari Kehendak Allah swt ketika Dia menginginkan adanya khalifah di muka bumi ini. Tidak peduli dengan peristiwa dan cara apapun, maka manusia pasti akan hidup dan lahir di muka bumi ini karena itu sudah menjadi Kehendak Allah swt.

Adapun orang-orang ahli fiqh Syariat memandang bahwa manusia, anak cucu Adam, hidup dan lahir di muka bumi ini adalah akibat dosa dari Nabi Adam as ketika dahulu memakan buah yang dilarang Allah, sehingga beliau dibuang ke muka bumi ini. Jadi apabila hari ini lahir seorang anak manusia keturunan Adam as di muka bumi ini, maka itu adalah akibat dari perbuatan Nabi Adam as dahulu. Sebagaimana orang-orang Nasrani mengenal dosa turunan, maka sebenarnya faham dari fiqh Syariat tadi sama saja, juga mengenal dosa turunan.

Begitulah kira-kira guru menjelaskan kepada murid-muridnya bahwa menurut pandangan Tauhid anak haram itu tidak ada. Mudah-mudahan Allah swt senantiasa membuka mata hati kita dan membenamkan keyakinan yang kuat untuk selalu bergantung kepadaNya. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 23.09