Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Senin, 11 April 2016

Menjadi Insan Lahir & Batin

Sebagaimana warna di dalam sel darah kita, merah dan putih, begitu juga kiranya warna bendera Indonesia yang juga merupakan warna bendera kerajaan Majapahit dan warna bendera Rasullullah saw.

Manusia itu terdiri dari 2 hal, yaitu lahir dan batin, jasmani dan rohani. Kendati semua orang sudah mengerti hal ini, tetapi justru kebanyakan orang seringkali melupakan aspek batin atau rohaninya. Kebanyakan orang tadi lebih mengutamakan aspek lahiriah, jasmani atau aspek materi. Oleh sebab itu maka tidak salah bahwa kebanyakan orang saat ini adalah penganut paham materialisme.

Diskusi, ceramah dan pengajian umat Islam saat ini kebanyakan diisi dengan berbagai hal tentang aspek lahiriah dari agama Islam. Dimulai dari membaca kalimat Syahadat (bukan mengikrarkan Syahadat), Sholat, Berpuasa, Membayar Zakat sampai kepada Pergi ke tanah suci Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Kesemuanya itu adalah ibadah dalam aspek lahiriah. Melaksankan ibadah secara lahiriah semata, belum tentu selalu dibarengi oleh ibadah batin dari seseorang. Dengan demikian maka semua amal ibadah lahiriah tersebut, belum tentu memiliki nilai di hadapan Allah Yang Maha Tahu.

Boleh jadi seseorang yang raganya sedang melaksanakan sholat, tapi ternyata pikirannya mengembara ke tempat lain. Boleh jadi seseorang yang sedang berpuasa dari makan dan minum, tapi ternyata hatinya dipenuhi dengan nafsu amarah, nafsu makan, nafsu syahwat atau nafsu bermalas-malasan. Di hadapan Allah ibadah yang seperti ini tidak memiliki nilai, begitu juga terhadap orang tersebut yang melaksanakannya, ibadah tadi tidak memiliki makna apa-apa.

أَلاَ يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ
“Apakah (pantas) Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan atau rahasiakan)? Dan Dia Mahahalus lagi Maha Mengetahui.” (QS 67:14)

Jadi diperlukan pembinaan terhadap kedua aspek tadi, aspek lahir dan aspek batin. Di dalam hal ini, guru ‘menggembleng’ murid-muridnya untuk secara lahir bisa memiliki akhlak yang mulia (Akhlaqul Karimah), dan secara batin bisa menjadi orang yang beriman (dalam naungan Darul Iman). Itulah mengapa yayasan kami bernama Akhlaqul Karimah Darul Iman, jadi mencakup aspek lahir dan batin.

Ada ibadah lahir, ada juga ibadah batin. Demikian juga ada hukum-hukum Allah yang ditujukan untuk aspek lahiriah manusia dan ada hukum-hukum Allah yang ditujukan untuk aspek batinnya.

Pada zaman Rasullullah saw dulu, para sahabat dididik batinnya pada periode Mekkah sehingga mereka benar-benar menjadi orang yang beriman kuat. Setelah itu di periode Madinah baru Rasullullah saw memperkenalkan pembinaan lahiriah, seperti penataan aturan sosial masyarakat Islam dan pelaksanaan hukum-hukum Syariat sampai terbentuknya pemerintahan yang Islami di Madinah.

Akan tetapi kebanyakan dari kaum muslimin saat ini melihat bahwa titik akhir dari perjuangan Rasullullah saw adalah terbentuknya khilafah Islam. Ini adalah pandangan materialisme, mementingkan aspek lahir. Padahal bagi Allah justru yang terpenting adalah iman, tauhid seseorang terhadap Allah swt. Jadi seharusnya titik akhir dari kesempurnaan perjuangan umat Islam adalah bukannya mendirikan khilafah, akan tetapi yang jauh lebih penting adalah bagaimana menjadi insan kamil, seorang hamba yang sempurna secara lahir dan batin.

Bukan khilafah atau kekuasaan, bukan juga jumlah. Bagi Allah Rasul-Rasul terdahulu itu tidak ada yang gagal karena tidak bisa memiliki umat yang banyak atau tidak bisa mendirikan suatu khilafah. Allah berkehendak untuk membimbing manusia menjadi insan yang sempurna lahir dan batin, meskipun itu sedikit sekali jumlahnya. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 01.19