Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Jumat, 15 April 2016

Dilarang Memaksakan Keyakinan Kepada Orang Lain

Keyakinan adalah suatu pegangan, pegangan yang kita genggam sendiri. Suatu pegangan hidup yang akan menjadi tuntunan dan panduan bagaimana kita menjalani hidup, kemana kita mengarahkan hidup kita dan apa yang hendak dicapai dalam hidup. Jadi keyakinan adalah benar-benar milik pribadi kita sendiri.

Boleh jadi meskipun sama-sama menganut agama yang sama, tetapi keyakinan seseorang akan berbeda dengan orang lainnya. Misalnya saja seperti pergi berobat ke dokter, seorang muslim yang satu memiliki keyakinan bahwa dengan obat yang diberikan oleh dokter itulah yang menyembuhkan penyakitnya, sedangkan muslim yang satunya lagi berkeyakinan berbeda, justru yang menyembuhkan penyakitnya itu adalah Allah swt. Cara Allah menyembuhkan penyakit bisa dengan cara ikhtiar pergi kedokter, atau bisa juga dengan cara lainnya seperti sholat atau berwudhu saja, atau bahkan bisa juga tidak dengan ikhtiar sama sekali.

Keyakinan ini adalah wujud nyata di dalam ruhani manusia yang lahir dari keimanan orang tersebut. Setelah melalui berbagai macam peristiwa dalam hidupnya, maka benih keimanan dalam qalbu akan melahirkan keyakinan.

Oleh karena keimanan tiap orang itu berbeda-beda, begitu juga dengan keyakinan, maka guru mengajarkan kepada murid-muridnya untuk tidak pernah sekali-kali memaksakan keyakinan tersebut kepada orang lain. Keyakinan dan iman itu adalah merupakan hak mutlak dari Allah swt untuk ditanamkan kepada siapa saja yang Dia kehendaki, sebagaimana juga petunjuk. Allah akan memberikan petunjuk kepada siapa saja yang Dia kehendaki.

إِنَّكَ لاَ تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS 28:56)

Dalam satu keluarga pun guru melarang murid-muridnya untuk memaksakan keyakinan ini, misalnya kepada istri atau suami atau juga kepada anak-anak kita sendiri. Karena keyakinan itu adalah pemberian Allah kepada masing-masing pribadi. Bahkan seorang Nabi dan Rasul sekalipun tidak bisa memaksakan keyakinannya kepada keluarganya. Seperti Nabi Nuh as yang tidak bisa memaksakan keyakinannya kepada anaknya, atau Nabi Luth as kepada istrinya.

Bahkan bisa jadi diantara anak dan istri kita ada yang menjadi musuh bagi kita, sebagaimana tercantum dalam surat at-Taghabun ayat 14. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 19.47