Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Minggu, 17 April 2016

Agitasi Budaya dan Sejarah

Kebanyakan dari kita saat ini apabila membaca sejarah umat manusia, maka sejarah tersebut kebanyakan berasal dari kitab suci Taurat, Zabur, Injil dan al-Quran, dimana sejarah kebanyakan difokuskan di sekitar daerah timur tengah semata. Seakan-akan sejarah umat manusia di luar timur tengah itu tidak ada, gelap dan tidak nyata.

Saudaraku, sadarilah bahwa ini adalah sesuatu yang tidak benar. Kebanyakan dari kita telah menjadi korban pemikiran, bahwa sejarah hanya ada di tanah timur tengah saja. Ini adalah agitasi sejarah.

Nusantara dan beberapa negara di sekelilingnya adalah juga keturunan anak cucu Adam as, bahkan di dibeberapa daerah di Indonesia mereka masih memegang teguh ajaran leluhur manusia tersebut sampai sekarang, walaupun jarak waktunya sudah melampaui waktu 16 ribu tahun lamanya.

Dahulu kala, penduduk Nusantara adalah keturunan dari putra Nabi Adam as yang bernama Nabi Syits as. Penduduk di Nusantara mula-mula merupakan orang-orang yang beriman kepada Allah swt dan kemudian lambat laun iblis telah menggelincirkan iman tersebut sehingga Allah mengazab mereka dengan banjr besar di zaman Nabi Nuh as. Penduduk Nusantara musnah. Lalu salah satu keturunan Nabi Nuh as dari Yaphet bin Nuh merantau ke Nusantara dan membentuk kembali masyarakat di Nusantara.

Penduduk di Nusantara adalah orang-orang yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, kemudian atas keimanannya tersebut Allah mengaruniai bangsa di Nusantara dengan kekayaan yang sedemikian melimpah ruah. Sumber alam mineral mulai dari alumunium, bauksit, titanium, uranium sampai dengan emas melimpah ruah. Ini adalah sesuatu yang sudah menjadi sumpah dari Allah swt.

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنْ السَّمَاءِ
وَالأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS 7:96)

Masyarakat du Nisantara adalah cinta damai dan gemar sekali bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, setiap kali selesai panen, sebelum acara pernikahan, atau setelah mendapat kenikmatan dalam bentuk apapun, masyarakat di Nusantara senantiasa memanjatkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sampai sekarang praktek seperti itu masih dapat dilihat di beberapa daerah di Nusantara.

Sebagai wujud pelaksanaan ajaran dan syariat dari Nabi Adam as, Nabi Idris as dan Nabi Nuh as, masyarakat di Nusantara ini melestarikan pengabdian kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam bentuk berkurban, yaitu mempersembahkan sesaji dan memotong hewan ternak yang terbaik kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sedemikian taatnya bangsa ini kepada Tuhan Yang Maha Esa, maka wajar jika kemudian Allah menganugerahkan bangsa ini dengan kekayaan alam yang melimpah ruah.

Pada saat ajaran Islam yang dibawa oleh Rasullullah saw sampai ke negeri ini, ajaran syariat agama yang baru itu mudah sekali diterima oleh masyarakat di Nusantara. Leluhur kita menerima ajaran syariat dan agama tersebut dengan damai karena memang tidak bertentangan dan sejalan dengan isi ajaran Tauhid yang dulu pernah dibawa oleh Nabi dan Rasul terdahulu. Raja Majapahit Brawijaya V dengan suka rela masuk Islam dan memberi kebebasan bagi rakyatnya untuk memilih agamanya masing-masing. Semua dilakukan secara suka rela, damai dan tanpa peperangan.

Perang antara kerajaan Demak dengan Majapahit adalah cerita bohong dan karangan dari penjajah Belanda, karena ternyata tidak sesuai dengan fakta sejarah yang ditemukan dari hasil penelusuran sejarah. Raden Fatah raja Demak adalah putera dari Brawijaya V. Kerajaan Majapahit hancur karena diserbu oleh kerajaan Blambangan atas bantuan dari Portugis, oleh sebab itulah maka armada kerajaan Demak kemudian balas menyerbu benteng portugis, meskipun itu terletak di Malaka yang jauh sekali jaraknya.

Apabila di tanah Arab sendiri Rasullullah saw harus mempertahankan ajaran agama Islam melalui 19 kali peperangan, karena orang-orang musyrik di sana tidak mudah menerima ajaran tersebut. Sebaliknya di Nusantara ini ajaran Islam diterima dengan damai tanpa melalui satu pun peperangan.

Inilah negeri yang disebut sebagai Baldatun Thoyibatun war Robbun Ghofur, negeri yang kaya makmur loh jinawi. Negeri para wali, dimana tidak ada pernah ada satu pun negeri sepeninggal Rasullullah saw memiliki sedemikian banyak wali Allah dibandingkan dengan negeri ini.

Ketika orang-orang Eropa mencari harta karun kekayaan peninggalan Nabi Sulaiman as ke seluruh pelosok Timur Tengah dan Afrika, mereka tidak menemukan apa-apa di sana. Harta karun peninggalan Nabi Sulaiman as itu ada di sini, di Nusantara. Mereka tersimpan rapi dalam jumlah yang melimpah ruah demi kejayaan anak cucu nanti. Sebagian kecil darinya saat ini masih tersimpan di bank Federal Reserve Amerika Serikat berupa 4,6 milyar ton emas.

Ketika dahulu bangsa Babilonia membangun menara babel dengan maskud untuk menantang Allah, maka di Nusantara bangsa ini justru membangun tempat ibadah yang sangat besar dan menjulang tinggi untuk memuji dan menyembah Tuhan Yang Maha Esa, seperti di gunung padang dan di tempat-tempat lainnya yang masih tertutup tanah dan belum ditemukan.

Apabila kita menggali akar dari bahasa, maka bahasa Arab sebenarnya bukanlah bahasa yang tua. Sebelum itu Nabi Ibrahim as, Nuh as, Idris as dan Nabi Adam as tidak mempergunakan bahasa Arab. Oleh sebab itu apabila masyarakat di Nusantara ini tidak mempergunakan bahasa Arab maka itu bukan berarti mereka tidak beriman. Demikian juga syariat Islam yang dibawa oleh Rasullullah saw juga merupakan syariat yang datang belakangan, sebelum itu telah berlaku syariat-syariat dari Nabi dan Rasul sebelumnya seperti syariat Nab Sulaiman as, Ibrahim as, Nuh as, Idris as dan Nabi Adam as. Dengan demikian apabila para leluhur di Nusantara dahulu menjalankan syariat Nabi Adam as, maka itu bukan berarti mereka menjalankan agama non-samawi.

Mudah-mudahan selanjutnya akan ada ahli sejarah yang akan meluruskan perjalanan sejarah negeri ini lebih jelas lagi, membuka tabir gelap sejarah lampau Nusantara. Bahwa bangsa yang kaya raya ini tidak serta merta keluar dari batu, tapi suatu bangsa yang dilahirkan oleh nenek moyangnya yang merupakan anak cucu keturunan Adam as, seorang Nabi dan Rasul Allah dan salah satu penegak ajaran Tauhid. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 14.37