Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Sabtu, 23 April 2016

Tafsir al-Quran Lewat Kaca Mata Tauhid

Kitab suci al-Qur’an berisikan firman Allah swt yang mengandung ilmu yang sangat dalam dan luas, karena memang diucapkan oleh Tuhan Yang Maha Mengetahui. Sedemikian dalamnya ilmu yang terkandung dalam al-Quran sehingga tidak mungkin seluruh kandungan isi al-Quran itu dapat ditafsirkan atau disingkap makna yang paling terdalamnya.

Jadi sebenarnya kitab suci al-Quran itu hanyalah semacam rangkuman dari sebagian ilmu Allah swt yang diturunkan kepada umat manusia. Sedangkan keseluruhan dari ilmu Allah swt itu sendiri tidak mungkin dapat dituliskan seluruhnya secara mendetil dalam al-Quran.

وَلَوْ أَنَّمَا فِي الأَرْضِ مِنْ شَجَرَةٍ أَقْلاَمٌ وَالْبَحْرُ يَمُدُّهُ مِنْ بَعْدِهِ سَبْعَةُ أَبْحُرٍ
مَا نَفِدَتْ كَلِمَاتُ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan lautan (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh lautan (lagi) setelah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat-kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (QS 31:27)

Dalam menafsirkan sesuatu yang dikandung dalam ayat-ayat al-Quran, secara umum terdapat dua metode, yaitu tafsir secara harfiah dan tafsir secara maknawiyah. Pada zaman Rasullullah saw dahulu, umat Islam menafsirkan ayat al-Quran ini dengan merujuk pada ayat al-Quran lainnya atau dengan cara meminta penjelasan kepada Rasullullah saw.

Tetapi setelah Rasullullah saw tersebut wafat maka kemudian terjadi banyak sekali versi dalam penafsiran al-Quran. Terlebih lagi pada era lahirnya mazhab-mazhab, maka masing-masing mazhab tersebut membuat suatu kitab tafsir al-Quran yang sejalan dengan pemahaman masing-masing mazhab tadi.

Adapun kebanyakan orang umum dilarang untuk menafsirkan al-Quran. Syarat untuk menafsirkan al-Quran antara lain adalah:
1. Sehat Aqidahnya
2. Terbebas dari hawa nafsu
3. Menafsirkan al-Quran dengan merujuk pada al-Quran
4. Menafsirkan al-Quran dengan Sunah Rasul
5. Merujuk kepada perkataan Sahabat Rasullullah saw
6. Merujuk kepada perkataan Tabi’in
7. Menguasai bahasa arab, ilmu dan cabang-cabangnya seperti sastra dan budaya masyarakat arab
8. Menguasai cabang-cabang ilmu tafsir seperti asbabun nuzul, nasakh-mansukh, al-‘aam wal khash, dll.
9. Pemahaman yang mendalam tentang fiqh dan syariat Islam
Begitulah kira-kira persyaratan yang sedemikian ketat untuk menafsirkan ayat-ayat al-Quran, sehingga tidak boleh sembarang orang menafsirkannya.

Namun amat disayangkan sekali bahwa metodologi penafsiran al-Quran yang selama ini dipraktekan dan persyaratan yang disebutkan di atas melupakan satu hal yang justru merupakan hal yang terpenting. Yaitu keberadaan Allah swt.

Manusia telah melupakan peran Allah sebagai Penafsir al-Quran, Allah swt selama ini telah dipinggirkan dari perannya untuk dijadikan Sumber untuk menafsirkan al-Quran. Padahal kalau kita membuka ayat suci al-Quran, kita akan dapati ayat-ayat berikut ini:
لاَ تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ
إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ
فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ
ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا بَيَانَهُ

“Janganlah kamu gerakkan lidahmu (untuk membaca Al Quran) karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya. Sesungguhnya Kami yang akan mengumpulkannya (di dadamu) dan membacakannya. Apabila Kami telah selesai membacakannya[4] maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian sesungguhnya Kami yang akan menjelaskannya.” (QS 75:16-19)

Dari ayat tersebut diatas maka Allah swt menyatakan bahwa Dia yang akan menjelaskan maknanya, jadi mengapa selama ini tidak ada yang mempergunakan metode ini? Mengapa umat Islam sering kali melupakan peran Allah ? apakah kita ini mencontoh apa yang sudah dilakukan oleh orang-orang yahudi dan nasrani, menjauhkan diri dari Allah? Padahal dalam kenyataannya Allah ada di tengah-tengah kehidupan kita.

Orang-orang yang beriman dan ber-Tauhid kepada Allah swt, senantiasa meminta petunjuk kepadaNya dalam berbagai hal, lalu Allah menunjuki mereka lewat hatinya. Inilah yang kemudian kami namakan penafsiran al-Quran lewat kaca mata Tauhid, yaitu penafsiran yang disandarkan kepada petunjuk Allah swt yang diilhamkan kepada qalbu orang yang beriman.

Begitulah kiranya cara kita untuk dapat menjelaskan suatu fakta, bagaimana seorang yang buta huruf seperti Rasullullah saw dahulu bisa menafsirkan al-Quran. Bagaimana mungkin seorang yang tidak berpendidikan bisa menafsirkan ayat al-Quran. Kecuali bahwa mereka menerima pemahaman tersebut dari Tuhan Yang Men-firmankan al-Quran itu sendiri. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 23.04