Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Minggu, 01 Mei 2016

Malam Lailatul Qodar Antara Mitos dan Fakta

Puasa di bulan Ramadhan selama sebulan penuh adalah suatu ibadah yang dinanti-nantikan oleh umat Islam di seluruh penjuru dunia. Di bulan tersebut umat Islam berpuasa menahan lapar dan haus dahaga sepanjang hari selama satu bulan penuh.

Ada beberapa hal yang mestinya kita tingkatkan, sehingga pribadi kita menjadi pribadi yang lebih baik lagi dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Pertama, puasa itu bukan hanya menahan lapar dan dahaga semata, tetapi juga menahan nafsu amarah, nafsu syahwat terhadap lawan jenis dan nafsu untuk bermalas-malasan. Karena menuruti salah satu nafu tersebut adalah termasuk yang membatalkan puasa.

Kedua, hendaknya kita telah mempersiapkan ibadah puasa itu pada bulan-bulan sebelumnya, sehingga bulan Ramadhan adalah titik puncak dari usaha kita selama bulan-bulan sebelumnya.

Bagaimana cara mengetahui apakah puasa kita ini diterima oleh Allah swt atau tidak? Ternyata caranya bukanlah dengan bertanya kepada kyai, ustadz atau syaikh. Tidak perlu merujuk kepada dalil dari kitab atau pun hadits. Guru mengajarkan cara yang mudah dan praktis untuk mengetahui apakah puasa kita diterima Allah swt atau tidak, yaitu cukup dengan bertanya kepada hati nurani sendiri. Apakah setelah Ramadhan kita menjadi pribadi yang jauh lebih baik dari pada sebelumnya? apabila jawabannya ya maka artinya puasa kita diterima Allah swt. Simple bukan?

Puasa dan menahan hawa nafsu itu tidak hanya di bulan Ramadhan saja. Justru di sebelas bulan lainnya itulah kita diuji apakah pada saat melihat orang lain dengan lahapnya menyantap makanan yang kita sukai, apakah kita mampu menahan hawa nafsu kita? Pada saat orang lain melakukan suatu kesalahan atau kezhaliman pada diri kita, apakah kita mampu untuk menahan amarah?

Apakah kita sanggup berpuasa ditengah-tengah masyarakat yang tidak berpuasa? Sekali lagi, puasa adalah menahan hawa nafsu, bukan sekedar menahan lapar.

Semenjak dari bulan Rajab guru telah mengajari kita untuk memulai ibadah puasa, sampai akhirnya tiba bulan Ramadhan. Nah, di bulan Ramadhan nanti, guru mengajak murid-muridnya untuk melakukan ibadah zikir/wirid di malam hari berupa Syahadat sebanyak 6666 kali. Hal ini dilaksanakan mulai dari malam tanggal 10 Ramadhan sampai dengan tanggal 17 Ramadhan.

Pada tanggal 17 Ramadhan itulah malam yang kita songsong, malam dimana pertama kali dulu al-Quran diturunkan ke dunia. Itulah malam yang sangat istimewa.

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنْ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ
شَهِدَ مِنْكُمْ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمْ
الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمْ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat inggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS 2:185)

Bagi hamba-hamba Allah yang istimewa menurut pandangan Allah, maka mereka menerima anugerah berupa malam Lailatul Qodar. Yaitu malam yang lebih baik dari pada seribu bulan, pada malam itu ribuan bahkan jutaan malaikat turun ke dunia ini.

Inilah malam hening, malam yang sering ditunggu-tunggu dan dicari-cari oleh kebanyakan umat Islam. Kapan tanggal dan datangnya malam itu? Selama ini yang banyak berkembang adalah mitos dan cerita yang sering dibicarakan di pengajian atau khutbah di bulan Ramadhan. Ada yang bilang menurut hadits adalah di sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan, terutama di malam-malam tanggal ganjil. Benarkah demikian?

Begitulah kiranya pemahaman dan praktek beragama sebagian besar umat Islam saat ini, penuh dengan dalil dan ketidakpastian. Adalah akan jauh lebih baik apabila umat Islam merasakan sendiri dan membuktikan sendiri malam Lailatul Qodar itu. Sehingga dalam beragama ini tidak hanya percaya oleh cerita atau konon katanya semata. Kalau Anda sudah membuktikan dan merasakannya sendiri maka Anda akan mengerti dan memahami betapa selama ini Kita sudah tertipu oleh kebanyakan mitos dan dalil palsu tentang malam istimewa itu.

Al-Quran dan Sunnah adalah petunjuk jalan yang lurus, maka jalanilah apa yang ada di dalamnya. Maka pasti Anda akan sampai kepada tujuan Anda. Jangan sebaliknya, menjadikan al-Quran dan Sunnah sebagai tujuan, dan Anda tidak pernah berjalan kemana-mana. Hanya berkutat pada dalil dan kitab semata, tidak pernah beranjak.

وَمَا يَسْتَوِي الأَعْمَى وَالْبَصِيرُ
وَلاَ الظُّلُمَاتُ وَلاَ النُّورُ

“Dan tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang melihat. Dan tidak (pula) sama gelap gulita dengan cahaya.” (QS 35:19-20)

Tidaklah sama antara orang yang merasakan sendiri dengan yang menurut konon katanya. Sebagaimana tidak sama antara orang yang mendapat Cahaya dengan orang yang dalam kegelapan. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 17.23