Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Rabu, 04 Mei 2016

Rasullullah SAW Bukan Orang Kaya

Rasullullah saw bukanlah orang kaya, dia tinggal di emperan masjid Nabawi di kota Madinah. Luas rumahnya kira-kira hanya sekitar 5m panjangnya dan 3m lebarnya. Dindingnya terbuat dari tanah liat dan atapnya dari pelepah pohon kurma. Didalamnya tidak banyak perabotannya, bahkan tidak ada kasur atau bantal sebagai tempat tidurnya. Benar-benar rumah yang sangat sederhana.

Meskipun demikian Rasullullah saw tidak pernah berdoa meminta kepada Allah swt untuk dikaruniai banyak harta. Beliau merasa cukup dan bahkan apa-apa yang sudah dikaruniai Allah kepadanya dirasakannya sudah lebih dari cukup. Itulah keadaan beliau apa adanya. Hidup yang penuh dengan kesederhanaan dan kebersahajaan.

Ketika beliau wafat, maka tidak ada satu dirham pun yang diwariskan kepada ahli warisnya, bahkan baju besinya pun dalam keadaan digadaikan.

Demikian juga guru mengajarkan kepada murid-muridnya: inilah yang disebut sebagai Sunnah Rasullullah saw itu. Hidup dalam kesederhanaan dan tidak terlalu mengejar kekayaan dunia. Hidup lekat dan dekat dengan orang-orang miskin, mengerti dan memahami apa itu kesederhanaan hidup dan betapa tidak berharganya hidup jika hanya dihabiskan untuk mengejar kekayaan dunia semata.

Guru mengajarkan bahwa kita semua harus berani untuk hidup dalam keadaan miskin dan penuh dengan kesederhanaan. Sebenarnya tidak ada kewajiban untuk menjadi orang kaya. Jadi berapa pun rezeki yang dikaruniai Allah swt, syukurilah. Jangan terlalu berambisi untuk mengejar kekayaan duniawi yang menipu dan tidak mampu mendatangkan kebahagiaan.

Lantas kemana perginya harta Rasullullah saw ? Harta beliau telah dibelanjakan habis untuk keperluan dakwah beliau dan begitu juga yang dilakukan oleh sahabat-sahabat beliau. Bahkan Abu Bakar As-Shidiq menyerahkan seluruh hartanya kepada Rasullullah saw untuk kepentingan dakwah agama Islam.

Guru kemudian menjelaskan lagi: inilah Sunnah Rasul itu, yaitu menyerahkan seluruh harta benda untuk keperluan perjuangan. Apabila tidak bersedia menyerahkan seluruhnya, maka Allah memerintahkan kita untuk menyerahkan sebagian saja dalam bentuk zakat.

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلاَتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS 9:103)

Guru menegaskan bahwa dalam ayat di atas disebutkan bahwa zakat itu adalah dari sebagian harta, bukan dari sebagian kecil harta. Berapakah sebagian harta itu? Tidak ada angka yang memastikan kadarnya akan tetapi guru menegaskan seharusnya lebih dari 2,5% karena nilai itu termasuk sebagian kecil dari harta, bukan sebagian dari harta sebagaimana ayat tersebut tadi.

Selama ini kita telah mempergunakan fasilitas umum seperti jalan aspal, lampu penerangan jalan, udara yang kita hirup atau keamanan yang kita nikmati melebihi orang lain. Padahal seharusnya semua fasilitas umum dari Allah tersebut harus bisa dinikmati secara merata kepada semua orang. Oleh karena itulah sehingga sangat mungkin bahwa dari setiap harta yang kita peroleh sebenarnya berasal dari hasil memanfaatkan fasilitas umum tadi. Jadi dalam harta yang kita peroleh terdapat hak orang lain yang kita renggut secara tidak sengaja.

Menyerahkan harta tersebut dalam bentuk zakat berarti membersihkan diri kita dari memakan hak orang lain. Dan Allah menyukai orang-orang yang membersihkan diri. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 10.58