Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Sabtu, 11 Juli 2015

Perayaan Maulid Nabi dan Sholawat

Tiap-tiap tahun umat Islam di seantero dunia ramai memperingati perayaan maulid nabi yang jatuh setiap tanggal 12 Rabiul awal. Di Jawa peringatan ini dulunya dijadikan sebagai perayaan bagi masyarakat Jawa yang baru masuk Islam dengan mengucapkan Syahadatain (Dua Kalimat Syahadat), oleh karena itu perayaan maulid Nabi sering juga disebut sebagai perayaan Syahadatain yang kemudian oleh bahasa Jawa diplesetkan menjadi Sekaten.

Pada perayaan Sekaten biasanya diperingati dengan cara menggelar jamuan besar yang kemudian akan dibagi-bagikan kepada masyarakat. Di beberapa musholah, masjid dan pesantren perayaan ini juga sering dibarengi dengan pembacaan kitab Barzanzi secara bersama-sama. Kitab Barzanji ditulis oleh Syeikh Ja’far al-Barzanzi dari tanah Arab yang berisi kisah perjalanan Rasul dari lahir sampai dewasa dan wafatnya.

Perayaan maulid nabi pertama kali diprakarsai oleh Sultan Sholehuddin Al-Ayyubi pada sekitar tahun 1184M. Perayaan ini sejatinya tidak pernah dicontohkan dan dirayakan oleh Rasul dan para sahabat serta generasi sesudahnya. Tujuannya pada saat itu adalah untuk menggalang persatuan umat Islam dalam merebut kembali Yerusalem pada saat perang salib.

Pada perkembangannya saat ini perayaan maulid Nabi telah kehilangan makna sejatinya dan hanya dijadikan sebagai acara seremonial saja. Kebanyakan dari umat Islam memang mengenang Nabi Muhammad saw pada hari itu, tetapi pada hari-hari lainnya sepanjang tahun banyak sekali dari umat Islam yang melupakan Nabi Muhammad saw.

Dalam rangka mengenang dan menauladani Nabi Muhammad saw sepanjang tahun, maka tuntunan yang dicontohkan dan diajarkan bagi umat Islam adalah dengan cara banyak membaca Sholawat.

Allah dan malaikat-malaikatNya juga semuanya bersholawat kepada Nabi, maka begitulah seharusnya umat Islam juga harus memperbanyak bacaan sholawat kepada Nabi.

Senantiasa ber-Sholawat kepada Nabi setiap saat akan jauh lebih utama kedudukan dan lebih kuat dasarnya dibandingkan dengan sekedar mengadakan perayaan maulid Nabi. Perayaan Maulid Nabi karena tidak berdasarkan contoh dan tuntunan dari Allah melalui RasulNya, maka diwajibkan bagi kita untuk waspada, karena iblis seringkali ikut untuk menggelincirkan anak Adam dengan membumbui perayaan maulid Nabi dengan persembahan dan sesajen kepada selain Allah. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 23.46