Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Selasa, 10 Mei 2016

Jauh Lebih Penting Gerakan Nusantara Ber-Sholawat dari pada Mengaji

Yang dimaksud dengan gerakan Nusantara mengaji adalah mencanangkan suatu gerakan masyarakat Islam untuk membaca al-Quran sebanyak-banyaknya pada tanggal 7 – 8 Mei 2016 yang lalu. Menurut keponakan Gus Dur (Muhaimin Iskandar, Ketua umum PKB) ,Gerakan Nusantara Mengaji ini adalah upaya untuk bermunajat meminta pertolongan kepada Allah SWT agar Bangsa ini dijauhkan dari segala bala’ dan cobaan serta diberi kekuatan untuk mampu mengatasi seberat apapun persoalan yang dihadapi Indonesia.

Koordinator Nasional Nusantara Mengaji, H Jazilul Fawaid, mengatakan, gerakan Nusantara Mengaji merupakan gerakan nasional untuk menggemakan dan mensyiarkan Al-Quran dengan mengkhatamkan 300.000 kali khataman. Menurutnya, “Gerakan ini diselenggarakan secara serentak dan terstruktur, dari bagian paling timur Indonesia sampai bagian paling barat Indonesia, sehingga pada detik yang sama tidak ada bagian di kepulauan Nusantara ini yang tidak mengaji. Oleh karena itu, gerakan ini merupakan satu-satunya gerakan pertama yang bakal terjadi secara empirik di dunia," kata Jazilul dalam keterangan tertulisnya.

Akan tetapi sayangnya ternyata hasil dari gerakan ini belum seperti yang diharapkan oleh penggagasnya. Kita masih harus mencari upaya berikutnya. Hal ini dikarenakan bahwa kondisi bangsa Indonesia dewasa ini adalah masih dalam keadaan diazab oleh Allah swt. Jadi bukan lagi sekedar mendapat bala’ dan cobaan seperti yang disangka oleh ketua umum PB NU tersebut, tetapi memang sudah dalam keadaan diazab oleh Allah swt.

Mengapa sampai seperti itu? Karena jumlah orang yang beriman di negeri ini sedikit sekali. Meskipun jumlah orang yang mengaku dan menyatakan dirinya sebagai orang Islam banyak sekali, bahkan yang terbanyak di seluruh dunia, akan tetapi jumlah orang yang berimannya sedikit sekali. Sehingga dengan demikian dapat juga disimpulkan bahwa jumlah orang Islam yang sejati juga sedikit sekali.

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنْ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ
وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS 7:96)

Jadi berdasarkan ayat tersebut di atas maka jawaban terhadap segala jenis azab yang menimpa negeri kita belakangan ini adalah karena penduduknya yang tidak beriman. Sama sekali bukan karena kurang membaca al-Quran.

Kegiatan membaca al-Quran adalah sesuatu yang baik, akan tetapi sayangnya ini tidak ada hubungannya dengan iman. Seseorang yang membaca al-Quran sampai khatam berkali-kali tidak akan secara otomatis bisa meningkatkan imannya.

Selain itu kegiatan membaca al-Quran juga tidak ditemukan perintahnya di dalam al-Quran itu sendiri, dan meskipun kegiatan ini adalah baik akan tetapi masih menjadi pertanyaan tentang nilai ibadahnya. Sebab Rasul sendiri adalah seorang yang tidak bisa membaca atau menulis, begitu juga sebagian besar dari umat pengikut Rasul-Rasul terdahulu adalah kebanyakan dari kaum yang buta huruf.

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الأُمِّيِّينَ رَسُولاً مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمْ الْكِتَابَ
وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلاَلٍ مُبِينٍ

“Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS 62:2)

Jadi berdasarkan keterangan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kegiatan membaca al-Quran dalam gerakan Nusantara Mengaji tidak lah efektif sebagaimana seperti yang diharapkan. Apabila Anda mengenal seorang yang arif dan bijaksana serta dekat hubungannya dengan Allah, maka silahkan ditanyakan sendiri kepada beliau untuk memeriksa apakah memang benar demikian.

Lantas guru mengajarkan kepada murid-muridnya sesuatu ibadah yang lebih bermakna dan bernilai dalam pandangan Allah dibandingkan dengan membaca al-Quran, yaitu ber-Sholawat. Mengapa tidak kita canangkan saja gerakan Nusantara ber-Sholawat?

إِنَّ اللَّهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bersholawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS 33:56)

Jadi berbeda dengan sekedar membaca al-Quran, ber-Sholawat kepada Nabi Muhammad saw adalah kegiatan yang dilakukan oleh Allah swt dan para malaikatnya. Sekaligus Allah swt memerintahkan ibadah ini kepada orang-orang yang beriman.

Dengan ber-Sholawat maka seseorang akan bertambah imannya kepada Allah swt dan juga kepada RasulNya. Inilah jenis ibadah atau kegiatan yang sudah terjamin diterima oleh Allah swt.

Guru menjamin bahwa apabila ibadah ini banyak dilakukan oleh masyarakat kita, maka sudah pasti Allah swt akan mengangkat azab dari negeri ini dan menganugerahi berkah dari langit dan dari bumi. Inilah rupanya salah atu kunci solusi terhadap permasalahan negeri ini.

Akan tetapi dalam ber-Sholawat, guru juga mengingatkan agar supaya kita menghormati etika dan adab atau tata krama yang benar. Guru melarang kita ber-Sholawat dengan diiringi musik atau dengan cara mendendangkannya seperti kita menyanyikan lagu. Karena Sholawat kepada Nabi bukanlah merupakan lagu atau pun nyanyian. Dalam tulisan lainnya telah dijelaskan bahwa lagu atau nyanyian memiliki karakteristik untuk menghanyutkan dan membuat lalai manusia. Sehingga secara alami, iblis sangat menyukai nyanyian. Mendendangkan Sholawat dengan nyanyian sama halnya dengan mencampur al-Haq dengan iblis, mencampur kebenaran dengan kebathilan. Jadi tidak boleh.

Mudah-mudahan setelah menyadari bahwa gerakan Nusantara Mengaji tidak membuahkan hasil apa-apa, bangsa ini akan segera sadar dan melanjutkan upayanya dengan gerakan Nusantara ber-Sholawat. Ini akan jauh lebih bermakna. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 21.39