Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Rabu, 11 Mei 2016

Sholat 50 Waktu Dalam Sehari

Menurut hadits Nabi tentang kisah perintah Sholat bagi umat Nabi Muhammad saw diceritakan bahwa Allah swt memerintahkan umat beliau untuk melaksanakan sholat sebanyak 50 waktu dalam satu hari satu malam. Mengapa Allah Yang Maha Mengetahui memerintahkan yang demikian? Dan bagaimana cara mencapainya? Guru menjelaskan kepada murid-muridnya di suatu malam pengajian.

Allah swt memerintahkan agar supaya manusia senantiasa berhubungan dengan Allah di setiap waktu, dan sarana untuk membangun hubungan tersebut adalah melalui sholat. Sholat tidak selalu harus dilakukan dalam posisi berdiri, ruku’, sujud dan duduk saja, akan tetapi tergantung dari kondisi dan suasananya, sholat juga bisa dilakukan dalam posisi duduk atau sembari tiduran. Esensi yang paling penting dari sholat adalah meluruskan perhatian dan perasaan hanya kepada Allah. Jadi sholat adalah sarana manusia untuk mengingat Allah swt. Allah swt menghendaki agar aktivitas ini dilakukan oleh manusia sebanyak-banyaknya.

إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمْ الصَّلاَةَ لِذِكْرِي
“Sungguh, Aku ini Allah, tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Aku, maka sembahlah Aku dan laksanakanlah shalat untuk mengingat Aku.” (QS 20:14)

Kira-kira seperti itulah keinginan Allah yang ditujukan untuk dilaksanakan oleh umat Nabi Muhammad saw. Kemudian bagaimana caranya agar kita, umat Nabi Muhammad saw mampu melaksanakannya?

Guru memberikan salah satu contoh praktis yang dapat dilakukan oleh murid-muridnya, yaitu misalnya pada saat makan. Biasanya kita diajarkan untuk membaca doa sebelum makan dan membaca hamdallah sesudahnya. Akan tetapi guru mengajarkan kepada murid-muridnya untuk lebih dari itu.Dan memang ternyata ada suatu proses ibadah yag luar biasa yang dapat dilaksanakani pada saat makan.

Mengingat Allah bukan hanya sebelum atau sesudah makan saja, akan tetapi selama proses mengunyah makanan pun kita harus tetap mengingat Allah. Jadi doa makan harus tetap kita baca dalam hati pada saat kita mengunyah makanan. Sehiggga proses mengingat Allah adalah di sepanjang waktu.

Makanan adalah sesuatu yang lain, bukan bagian dari diri kita. Namun setelah masuk ke dalam mulut kita maka makanan tadi akan menjadi bagian dari tubuh kita, bagian dari diri kita sendiri. Bayangkan sesuatu yang semula adalah orang lain kemudian setelah masuk mulut menjadi bagian dari diri kita. Artinya adalah pada saat sebelum makan kita harus berdoa dalam rangka ‘meminang’ makanan tersebut, karena sebentar lagi setelah masuk mulut akan menjadi bagian dari diri kita.

Makanan kemudian menyerahkan dirinya secara suka rela setelah menerima ‘pinangan’ kita, sehingga setelah masuk mulut dan menjadi bagian dari diri kita makanan tersebut akan membawa manfaat bagi kita, bukan membawa penyakit. Di dalam tubuh kita, makanan tadi akan melepaskan seluruh unsur yang dimilikinya kepada tubuh kita, unsur sari pati tanah, air, angin dan api.

Rupanya bukan hanya itu saja, seluruh kejadian dan pengalaman yang pernah dialami oleh makanan pun akan dilepaskannya dan diserahkannya kepada kita. Misalnya yang kita makan adalah daging sapi, maka seluruh pengalaman hidup sapi sebelumnya akan terekam dalam sekeping daging yang kita makan itu, dan pengalaman tersebut akan dilepaskannya di dalam tubuh kita. Dengan tetap membaca doa dalam hati saat kita mengunyah makanan, maka itu berarti bahwa kita sedang menyempurnakan segala hal yang tengah dilepaskan oleh makanan tadi kepada Allah swt.

Makanan pun bisa merasakan rasa syukur yang luar biasa, karena beban hidup sebelumnya telah dilepaskan dan disempurnakan oleh kita. Semuanya berasal dari Allah, makanan dan segala peristiwanya adalah berasal dari Kehendak Allah swt, kemudian di dalam tubuh kita disempurnakan oleh kita dengan melepaskannya kembali kepada Allah swt. Rasa syukur yang dipanjatkan oleh makanan kepada kita inilah yang kemudian akan mendatangkan hidayah Allah kepada kita.

Akhirnya makanan tadi menjadi bagian dari diri kita yang tidak dapat lagi dipisahkan. Menjadi daging, urat, tulang atau darah kita. Begitulah seharusnya tubuh kita tersusun, yaitu tersusun dari makanan yang bersyukur, dan sari patinya yang mendapat hidayah Allah. Sehingga tubuh seorang mukmin akan sangat berbeda dengan tubuh seorang kafir. Tubuh seorang mukmin penuh dengan berkah dan hidayah dari Allah, sehingga tubuh ini akan bersih dan bercahaya.

يَوْمَ تَرَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ يَسْعَى نُورُهُمْ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ بُشْرَاكُمُ
الْيَوْمَ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“(yaitu) pada hari ketika kamu melihat orang mukmin laki-laki dan perempuan, sedang cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, (dikatakan kepada mereka): "Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, yang kamu kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang besar.” (QS 57:12)

Jadi aktivitas makan pun bisa mendatangkan kebaikan yang banyak bagi kita apabila kita paham dan mampu menyadarinya. Tapi jangan berlebihan dalam makan, karena Allah tidak menyukai sesuatu yang berlebihan. Guru mengajarkan bahwa sebenarnya apabila kita sudah mampu mengontrol kesadaran kita pada saat makan, maka makan satu kali saja sudah cukup untuk kebutuhan tubuh kita selama tiga hari lamanya.

Demikianlah antara lain wejangan dari guru bahwa pada saat makan pun kita bisa melaksanakan sholat dengan mengingat Allah swt dan menyempurnakan makanan yang kita makan. Dengan sikap hidup seperti ini maka pada hakekatnya kita bisa melaksanakan sholat sepanjang waktu dalam hidup kita. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 12.33