Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Kamis, 12 Mei 2016

Bahkan Seorang Rasul pun Memiliki Dosa

Tidak benar bahwa seorang Nabi atau Rasul tidak mempunyai dosa, karena Nabi dan Rasul pun manusia maka sudah pasti mereka memiliki dosa ataupun kesalahan, sama seperti halnya manusia lainnya. Misalnya saja Nabi Adam as memiliki kesalahan ketika beliau melanggar larangan Allah untuk mendekati pohon quldi, tetapi kemudian malahan beliau memakan buahnya. Nabi Yunus as pun memiliki kesalahan yaitu meninggalkan kaumnya terlalu dini dalam keadaan kecewa dan marah sebelum diperintahkan Allah swt. Nabi Musa as juga pernah melakukan kesalahan yakni membunuh seorang manusia hingga Rasullullah saw sekalipun juga pernah membuat kesalahan yaitu bermuka masam ketika didatangi oleh seorang buta untuk meminta nasehat beliau.

Akan tetapi para Nabi dan Rasul tersebut tadi, mereka sangat cepat menyadari kesalahannya dan kemudian mereka ber-Istighfar memohon ampunan dari Allah atas segala khilaf dan kesalahannya. Atas Istighfar mereka dan permohonan ampun yang tulus serta sungguh-sungguh, maka Allah swt kemudian mengampuni dosa dan kesalahan mereka baik yang telah berlalu maupun yang akan datang.

Itulah yang dinamakan sebagai orang suci. Jadi orang suci bukanlah orang yang tidak memiliki dosa, akan tetapi orang suci adalah orang yang cepat menyadari kesalahannya dan kemudian ber-Istighfar kepada Allah swt. Jadi dengan demikian orang suci adalah orang yang dimaafkan segala dosa dan kesalahannya oleh Allah swt.

Oleh karena manusia memiliki hawa nafsu dan beberapa kelemahan lainnya, maka tidak ada manusia yang tidak mempunyai dosa dan kesalahan. Atas alasan inilah maka apabila ada manusia yang tidak mau ber-Istighfar dan meminta ampun kepada Allah, maka dia adalah orang yang lupa diri. Tidak merasa bahwa dirinya adalah manusia, bukan malaikat.

Para Nabi dan Rasul terdahulu adalah orang-orang yang gemar ber-istighfar dan memohon ampun kepada Allah. Baik itu memohon ampun untuk dirinya sendiri maupun memohon ampun untuk umatnya.

Nabi Adam as memohon ampun kepada Allah selama lebih dari 600 tahun lamanya, hingga akhirnya setelah beliau menerima wahyu kalimat permohonan ampun dari Allah barulah Allah menerima taubatnya.

فَتَلَقَّى آدَمُ مِنْ رَبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
“Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS 2:37)

Demikian juga Nabi Dawud as yang tersungkur memohon ampun kepada Allah swt di hadapan dua orang malaikat yang menyamar menjadi pemuda. Atau Nabi Yunus as yang berdoa memohon ampunan Allah dari dalam perut ikan. Dan kemudian Allah Yang Maha Pengampun mengampuni kesalahannya.

فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنْ الْغَمِّ وَكَذَلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ
“Maka Kami telah memperkenankan doanya (Nabi Yunus) dan menyelamatkannya dari pada kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.” (QS 21:88)

Memohon ampun dan ber-Istighfar adalah suatu aktivitas yang harus dilakukan secara rutin setiap hari, jadi bukan suatu kegiatan yang sifatnya insidental atau sewaktu-waktu saja. Hal ini sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasul-Rasul terdahulu tadi. Jadi ber-Istighfar adalah suatu kegiatan rutin setiap hari. Setiap hari, siang maupun malam.

Dari al-Aghar bin Yasar al-Muzani r.a berkata, Rasulullah Saw bersabda, “Wahai manusia bertaubatlah kamu kepada Allah dan mintalah ampunan kepada-Nya, karena sesungguhnya aku bertaubat dalam sehari seratus kali.” (diriwayatkan Muslim)

Dengan ber-Istighfar inilah maka manusia menjadi mahluk yang lebih sempurna dibandingkan dengan mahluk lainnya, bahkan malaikat sekalipun. Malaikat yang senantiasa beribadah memuji dan mensucikan Allah adalah merupakan mahluk yang tidak mempunyai hawa nafsu dan kehendak, oleh karenanya maka wajar apabila mereka tidak mempunyai dosa dan kesalahan. Akan tetapi lain halnya dengan manusia yang memiliki hawa nafsu dan keinginan, maka dengan ber-Istighfar memohon ampun kepada Allah inilah manusia memiliki kedudukan yang lebih tinggi di hadapan Allah dibandingkan dengan malaikat.

Sungguh ada suatu korelasi atau hubungan yang erat antara ber-Istighfar dengan kesucian dan kemuliaan kedudukan di hadapan Allah swt. Inilah suatu ciri khusus pada mahluk Allah yang bernama manusia, bahwa manusia itu ada yang cepat menyadari kesalahannya dan cepat ber-Istighfar memohon ampun kepada Allah. Ciri yang seperti ini tidak dijumpai pada mahluk Allah lainnya seperti malaikat, jin ataupun iblis.

Ber-Istighfar inilah yang menjadikan manusia diangkat Allah menjadi khalifah di muka bumi ini. Sehingga karenanya seluruh binatang dan pohon yang hidup dan tumbuh di muka bumi inipun mengikuti sifat dari pemimpinnya yaitu gemar meminta ampun. Apabila Anda memiliki indera pendengaran yang cukup senistif, niscaya Anda dapat mendengar bagaimana bumi atau pohon atau binatang memohon ampun kepada Allah bagi manusia.

Jadi sekali lagi guru mengingatkan kepada murid-muridnya, karena kita adalah manusia, karena kita bukanlah malaikat, maka ber-Istighfar lah. Sangat logis bukan? (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 19.29