Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Senin, 16 Mei 2016

Kehidupan Hanya Ada di Akhirat Saja

Hampir semua manusia sudah mengerti bahwa kita hidup di dunia ini hanyalah sementara saja, dan kehidupan setelah kematian akan jauh lebih kekal dibandingkan dengan hidup di dunia ini. Akan tetapi meskipun demikian hanya segelintir saja dari manusia yang mau menyadarinya. Kebanyakan dari manusia mengerti akan hal tersebut tadi dan kemudian melupakannya.

Demikianlah rupanya iblis telah menghiasi pandangan manusia tentang dunia ini, menghasut seakan-akan manusia bisa hidup selama-lamanya.

Padahal kehidupan dunia ini dibandingkan dengan kehidupan di akhirat nanti hanyalah sekejap saja. Bahkan guru menegaskan bahwa sedemikian singkatnya maka tidak bisa dikatakan bahwa kehidupan dunia itu ada, yang ada hanyalah hidup di dunia. sedangkan yang namanya kehidupan adalah nanti setelah di akhirat. Jadi yang ada adalah hidup di dunia (yang hanya sekejap saja) lalu dilanjutkan dengan kehidupan akhirat (yang jauh lebih kekal).

Gambar di atas adalah ilustrasi gambar galaksi Bima Sakti, tempat sekumpulan bintang dan planet dimana matahari, bumi dan seluruh anggota tata surya ada di dalamnya. Sebagai sekumpulan titik kecil saja, laksana butiran debu.

Gambar tersebut mudah-mudahan dapat memberikan suatu gambaran bagaimana singkatnya kehidupan manusia di bumi ini. Semenjak Nabi Adam as turun ke bumi sampai dengan hari ini, bumi dan anggota tata surya lainnya baru mengelilingi pusat galaksi Bima Sakti kurang dari 0,01o saja. Dibandingkan dengan putaran seluruh bintang mengelilingi pusat galaksi 225 – 250 juta tahun lamanya, maka sungguh usia hidup manusia di bumi ini hanya sekejap saja. Nabi Adam as turun ke bumi lalu wafat, anak-anaknya lahir lalu wafat, cucu-cucunya lahir lalu wafat, dan demikian seterusnya lahir lalu wafat sampai dengan hari ini, tidak lebih dari putaran kurang dari 0,01o saja. Sungguh sangat singkat bukan?

Usia manusia saat ini yang hanya beberapa puluh tahun lamanya adalah masa yang sangat singkat sekali, hanya sekitar 0,00015o saja. Hampir-hampir tidak bisa terlihat perputarannya, sungguh sangat singkat. Lahir, menjadi besar, kemudian dewasa dan akhirnya wafat. Hanya sekitar 0,00015o saja.

قَالَ إِنْ لَبِثْتُمْ إِلاَّ قَلِيلاً لَوْ أَنَّكُمْ كُنتُمْ تَعْلَمُونَ
“Allah berfirman: "Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui.” (QS 23:114)

Hidup di dunia yang sangat singkat ini adalah laksana drama yang singkat saja. Anda, saya dan kita semua adalah para pemain di dalamnya. Apabila ada seorang sutradara menetapkan seorang aktor menjadi pemeran suatu tokoh, maka tidak ada seorang aktor pun yang akan menolaknya, karena tidak peduli seperti apapun peran yang akan dimainkannya semua itu hanyalah pura-pura dan sementara saja. Tidak mungkin akan selama-lamanya menjadi pemeran tokohnya.

Ketika Anda menonton acara lawak komedi, pertunjukan yang sangat lucu, Anda tertawa terpingkal-pingkal dibuatnya. Sadarkah Anda bahwa yang baru saja Anda tertawakan itu sebenarnya identik dengan hidup Anda sendiri di dunia ini. Pelawak yang baru saja Anda tertawakan adalah pura-pura saja, dan pertunjukan itu hanya sementara. Kehidupan sang pelawak yang sesungguhnya bukanlah yang Anda tonton tadi, itu hanyalah sementara saja. Nah, begitu juga hakekatnya kehidupan Anda.

وَمَا هَذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ لَهْوٌ وَلَعِبٌ وَإِنَّ الدَّارَ الآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ
“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.” (QS 29:64)

Ayat di atas tersebut adalah fiman Allah yang sebenar-benarnya, bukan kalimat atau kata kiasan belaka, atau suatu ungkapan hiperbola. Tetapi memang benar-benar suatu kebenaran yang hakiki. Sesuatu yang sesungguhnya terjadi.

Kalau begitu mari kita menertawakan diri kita sendiri, ternyata sebenarnya apa yang hari ini kita lakukan adalah suatu drama singkat saja. Bahkan teramat singkat, bukan kehidupan kita yang sebenarnya. Jadi mengapa terlalu kita pusingkan? Mengapa kita megap-megap dibuatnya? Mengapa kita menjadi uring-uringan, kesal dan sangat khawatir? Cobalah anda berusaha menonton diri Anda sendiri. Bukankah sangat lucu jadinya?

Pernah melihat anak-anak kucing yang saling berebutan makanan? Makanan yang cuma satu diperebutkan beramai-ramai. Melihat tontonan seperti itu lucu sekali bukan?

Ya itulah kita, manusia apabila ditonton oleh Allah Tuhan Yang Maha Melihat. Seperti sebuah tontonan yang menggelikan dan membuat tertawa. Hanya saja Allah Maha Bijaksana, Dia memaklumi kebodohan mahlukNya. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 23.49