Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Minggu, 22 Mei 2016

Tidak Cukup Hanya al-Quran dan as-Sunnah Saja, Orang Masih Bisa Tersesat

Tidak cukup hanya dengan berpegang teguh pada al-Quran dan as-Sunnah saja, seseorang masih bisa tersesat. Buktinya adalah para ahli kitab dari Bani Israil dahulu, mereka berpegang teguh pada kitab-kitab sebelumnya, tapi tetap saja diantara mereka ada yang kafir dan kebanyakan dari mereka adalah orang-orang fasiq. Jadi tidak semuanya beriman kepada Allah swt.

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنْ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ
بِاللَّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمْ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمْ الْفَاسِقُونَ

“Kamu adalah umat yang terbaik yang ditampilkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh berbuat yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS 3:110)

Demikian juga dengan umat Islam sekarang ini, tidak cukup hanya dengan berpegang teguh pada al-Quran dan as-Sunnah saja. Ada banyak contoh kasus dimana akibat penafsiran yang salah maka seseorang atau beberapa orang dari umat Islam bisa juga tersesat. Mulai dari kaum Mu’tazilah, Inkaru Sunnah, Ahmadiyah sampai dengan penyelewengan sebagian kaum Syi’ah. Bahkan kaum orientalis yang nyeleneh pun merujuk pada dalil al-Quran dan Hadits.

Jadi semua itu berdasarkan kepada penafsiran, penafsiran manusia itulah yang menentukan apakah seseorang itu tersesat atau tidak.

Guru sering kali mengatakan bahwa apabila umat Islam atau ulama hanya mendasarkan diri pada penafsirannya terhadap al-Quran dan Hadits semata maka mereka itu tidak ubahnya seperti ahli kitab. Ya, ahli kitab al-Quran dan ahli kitab Hadits. Tdak ada jaminan bahwa semua ahli kitab tidak akan tersesat.

Pada beberapa kali pengajian, guru selalu menegaskan bahwa semua hal dalam hidup ini harus didasarkan pada ketentuan dan kehendak Allah swt. Ketentuan adalah hal-hal yang telah ditetapkan Allah swt, baik itu yang tercatat dalam kitab al-Quran, dijelaskan dalam Hadits Nabi, maupun ketetapan Allah swt yang tidak tercatat dalam al-Quran, yaitu ayat-ayat Qauniyah. Adapun kehendak Allah adalah kehendakNya yang diilhamkan kedalam hati orang yang beriman.

Apakah seorang manusia biasa tapi dia beriman kepada Allah bisa mendapat petunjuk dari Allah langsung ?

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلاَّ بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
“Tidak ada suatu musibah yang menimpa seseorang, kecuali dengan izin Allah; dan barang siapa beriman kepada Allah niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS 64:11)

Hanya dengan petunjuk Allah inilah maka seseorang dijamin tidak akan tersesat selama-lamanya. Dijamin oleh Allah sendiri. Ini adalah wasiat Allah kepada Nabi Adam as ketika Dia memerintahkan mereka untuk turun dari surga. Jadi tidak cukup hanya dengan penafsiran al-Quran dan as-Sunnah semata.

قَالَ اهْبِطَا مِنْهَا جَمِيعًا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنْ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلاَ يَضِلُّ وَلاَ يَشْقَى
“Dia (Allah) berfirman, "Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, maka ketahuilah barang siapa mengikut petunjuk-Ku, dia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” (QS 20:123)

Pada saat ini kebanyakan dari umat Islam telah meninggalkan Allah. Kebanyakan dari kita telah merasa cukup dengan berpegang teguh kepada al-Quran dan kitab Hadits. Padahal apa yang kita pegang teguh itu hanyalah penafsiran kita dan penafsiran para ulama semata. Bukan sejatinya petunjuk Allah. Buktinya adalah adanya perbedaan penafsiran terhadap kitab itu, sehingga saat ini terdapat banyak sekali aliran dan golongan dalam umat Islam.

Kalau memang umat Islam mengikuti satu petunjuk yang sama dari Allah, maka tidak mungkin terjadi perbedaan penafsiran seperti itu bukan? Tidak mungkin apabila suatu umat mendapat petunjuk dari satu Tuhan yang sama kemudian umat tersebut terpecah menjadi beberapa aliran dan golongan.

Sangat disayangkan bahwa dengan kitab al-Quran dan Hadits, saat ini kebanyakan umat Islam meninggalkan Allah. Tidak memerlukan Allah lagi untuk memberikan petunjuk. Al-Quran dan as-Sunnah adalah terang cahaya, sayang sekali kalau umat Islam buta karena tanpa petunjuk Allah seterang apapun cahayaNya tidak akan terlihat. Tidak ada bedanya dengan umat-umat terdahulu. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 12.44