Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Minggu, 22 Mei 2016

Pancasila Tidak Bertentangan Dengan Islam

Menurut Sejarah ada sekitar 19 kali Rasullullah saw melakukan peperangan demi untuk mempertahankan keyakinan dan agama yang diajarkannya. Sedemikian kerasnya permusuhan orang kafir quraisy terhadap keyakinan baru sehingga untuk mempertahankan kebenaran keyakinannya umat Islam saat itu harus mempertahankannya dalam banyak peperangan yang mengorbankan banyak nyawa.

Bukan itu saja, bahkan anggota keluarga Rasullullah saw pun banyak yang mati terbunuh demi mempertahankan keyakinannya, seperti menantunya Ali bin Abi Thalib dan cucu beliau Hasan dan Husain.

Adapun hal yang sangat berbeda terjadi di Indonesia, agama Islam diterima dengan damai dan tangan terbuka. Semenjak kerajaan majapahit, banyak masyarakatnya yang sudah memeluk agama Islam, dan sama sekali tidak ada pertentangan dalam hal itu. Tidak ada peperangan atau permusuhan. Masyarakat Indonesia tetap hidup rukun dan damai, penuh toleransi meskipun banyak dari anggota masyarakatnya waktu itu yang ‘murtad’ dari agama Hindu/Budha ke dalam agama Islam.

Perbedaan agama dan keyakinan sudah ada di Nusantara semenjak dahulu kala, bahkan sebelum agama Islam masuk. Masyarakat Nusantara sudah terbiasa menerima perbedaan keyakinan agama, sehingga kerajaan Hindu tidak akan memberangus keyakinan agama Budha, dan sebaliknya kerajaan Budha juga tidak akan memberangus keyakinan agama Hindu. Mereka hidup rukun dan damai, tidak ada paksaan dalam beragama.

Dengan kerukunan seperti itulah maka kemudian masyarakat Nusantara mampu membangun suatu kerajaan yang sangat besar pada zaman dahulu. Kerajaan seperti Sriwijaya bahkan pengaruhnya sampai ke kepulauan madagaskar di seberang Afrika. Kerajaan Majapahit luasnya meliputi Asia Tenggara dan berbatasan langsung dengan China. Luas kerajaan-kerajaan tersebut jauh lebih besar daripada kerajaan Romawi dan Persia jika digabungkan sekaligus.

Nusantara adalah sebuah negara besar, yang kebesarannya diakui oleh seluruh bangsa-bangsa di dunia. Tidak mungkin sebuah negara besar seperti ini dapat terbentuk tanpa landasan yang kokoh dan maju dari masyarakatnya.

Hal inilah yang kemudian digali kembali oleh Bung Karno pada saat beliau diasingkan di pulau Flores, Ende. Ketika duduk berteduh di bawah sebuah pohon sukun bercabang lima, beliau mendapatkan ilham tentag dasar negara Indonesia setelah merdeka nanti, yaitu Pancasila. Pokok-pokok dasar negara Pancasila ini kemudian dijadikan inti sari pidato beliau pada tanggal 1 Juni 1945.

Pancasila adalah dasar negara, bukan dasar agama. Kehidupan bernegara bangsa Indonesia didasari oleh Pancasila, sedangkan kehidupan beragama masyarakatnya diatur oleh hukum agama masing-masing pemeluknya. Pancasila sama sekali tidak merubah atau meng-intervensi aturan agama masing-masing pemeluknya, karena yang diatur dan dijadikan pedoman adalah untuk kehidupan berbangsa dan bernegara.

Di dalam Pancasila ditegaskan dalam sila pertama bahwa bangsa Indonesia mendasarkan diri kepada Ketuhanan Yang Maha Esa. Ini artinya Indonesia adalah satu-satunya negara di dunia yang mendasarkan negerinya kepada Tauhid, kepada Tuhan Yang Maha Esa. Bukan kepada Agama.

Agama bisa saja dipolitisir dan disalahgunakan untuk kepentingan kekuasaan, karena agama dapat ditafsirkan sesukanya oleh penguasa yang zalim. Agama bisa dibelokan artinya oleh ulama yang ‘keblinger’. Tetapi Tuhan tidak bisa dipolitisir, Tuhan tidak bisa ditafsirkan sesukanya atau dimanfaatkan seenaknya oleh penguasa. Karena Tuhan Maha Melihat dan Maha Berkuasa, Dia senantiasa mengawasi dan bertindak apabila penguasa bertindak durjana.

Jadi sudah tepat bahwa Indonesia mendasarkan negaranya kepada Tuhan, bukan kepada agama. Apabila negeri ini didsarkan kepada agama, agama menurut yang mana? Bahkan dalam agama Islam pun terdapat banyak sekali aliran dan golongan yang tidak persis sama, demikian juga dalam agama Kristen maupun agama lainnya. Hanya Tuhan saja yang Esa, tidak dua atau tiga, tapi Esa. Tuhan adalah milik semua manusia dari segala macam suku, ras dan agama karena pada hakekatnya Tuhan kita semua adalah sama.

Keseluruhan sila-sila dalam Pancasila tidak ada satupun juga yang bertentangan dengan Islam. Coba periksa kembali satu per satu, tidak ada yang bertentangan dengan Islam. Demikian juga dengan agama-agama lainnya, tidak ada satupun yang bertentangan dengan aturan agamanya. Hal ini disebabkan karena Pancasila digali dari warisan luhur bangsa Indonesia semenjak zaman dahulu kala. Bahkan sebelum Islam lahir di tanah Arab, masyarakat Nusantara telah menerapkan kehidupan Pancasila.

Ketika bangsa Arab masih dalam zaman kegelapan dan kebodohan, masyarakat Nusantara sudah maju dan berpikiran modern. Ketika anak-anak perempuan di tanah Arab masih dikubur hidup-hidup oleh orang tuanya, masyarakat Nusantara telah berfikiran maju dengan menjunjung tinggi harkat wanita, bahkan beberapa mengangkat pemimpin negara dari golongan wanita. Ketika Rasullullah saw bertahun-tahun berjuang menghapuskan perbudakan di tanah Arab, maka di Nusantara sudah tidak ada lagi perbudakan. Ketika Rasullullah saw memperkenalkan ibadah qurban di tanah Arab, maka masyarakat Nusantara telah melakukan qurban dan upacara bersyukur kepada Tuhan semenjak zaman Nabi Adam as. Kehidupan Pancasila di Nusantara telah membawa bangsa ini menjadi bangsa yang adil, makmur, tenteram dan damai selama ratusan tahun lamanya. Bangsa yang senantiasa bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Bangsa yang beriman kepada Tuhan semenjak dahulu kala. Bangsa yang besar dan negeri yang pernuh berkah. Sejarah dan kondisi alamnya telah membuktikan itu.

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنْ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, .....” (QS 7:96)

Jadi terhadap hal menjalani kehidupan menurut agama Islam, bangsa ini memiliki sejarah yang berbeda dengan umat Islam lainnya di seantero dunia ini. Bangsa ini memiliki titik awal yang berbeda, kita sudah jauh lebih maju. Kita tidak harus bergerak mundur ke belakang. Bergeraklah ke depan, itu yang benar untuk dilakukan. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 23.55