Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Sabtu, 28 Mei 2016

Apa Kabar Islam Sebagai Rahmat Bagi Seluruh Alam ?

Sebentar lagi kita akan memasuki bulan suci Ramadhan, dimana umat Islam di seluruh dunia akan menunaikan ibadah puasa. Maka dalam bulan tersebut pertanyaan dan perhatian utama yang sering kali diajukan umat Islam dalam banyak pengajian antara lain adalah: berapa rakaat kita harus sholat tarawih? Apakah sholat tarawih sebaiknya dilakukan berjamaah di masjid ataukah sendiri di rumah? Adakah sholat tahajud dalam bulan Ramadhan? Jam berapakah yang paling afdhal untuk makan sahur? Apa jenis makanan yang baik untuk berbuka puasa? Dan lain sebagainya.

Coba Anda perhatikan sekali lagi dan sadari, bahwa kesemua perhatian umat Islam selama ini adalah hampir keseluruhannya ada pada aspek ibadah pribadi, yaitu praktik beragama untuk diri sendiri. Bukan untuk orang lain, apalagi untuk binatang, pohon ataupun gunung. Kita ini selama ini lebih banyak mengurusi diri pribadi sendiri saja.

Apakah Anda pernah mendengar pertanyaan umat Islam misalnya yang seperti ini: “tetangga saya yang beragama Hindu saat ini sedang sakit keras. Saya ingin mendoakannya, berapa rakaat sholat tahajud yang harus saya lakukan untuk mendoakannya?” sungguh sesuatu seperti ini adalah hal yang hampir tidak pernah kita jumpai bukan?

Padahal andai saja Rasullullah saw saat ini masih hidup, maka begitulah kira-kira perilaku beliau yang akan dilakukannya. Membantu orang miskin, menolong menyuapi orang tua, tidak peduli dari agama mana pun orang tersebut.

Saat ini kebanyakan umat Islam lebih sibuk untuk mengurusi dirinya sendiri, tidak peduli terhadap orang lain, apalagi terhadap agama lain. Dulu sewaktu terjadi musibah tsunami di Aceh yang menewaskan banyak sekali korban, maka yang pertama kali datang membawa bantuan justru dari negara non-muslim. Ketika banyak jemaah haji asal Indonesia yang menjadi korban tragedi crane yang jatuh menimpa jamaah haji, maka sampai sekarang belum terealisasi janji bantuan donasi dari pemerintah Arab Saudi.

Ada apa ya? Kemana perginya ajaran bahwa Islam adalah untuk Rahmatan lil alamin, rahmat bagi alam semesta?

Saat ini ajaran Jujur, Sabar dan Ikhlas sepertinya sudah lenyap sirna. Tidak banyak lagi yang masih mengamalkannya. Padahal ini adalah intisari dari ajaran Rasullullah saw dulu yaitu untuk menyempurnakan akhlak manusia. Karena agama bagaimana pun bagusnya tidak ada manfaatnya sama sekali apabila akhlak dari pemeluknya bobrok.

Untuk itulah kemudian guru mengajarkan murid-muridnya untuk berbuat ikhlas, yaitu tidak saja berbuat baik untuk diri sendiri akan tetapi guru juga mengajarkan murid-muridnya untuk belajar keluar dari diri sendiri, yaitu misalnya dengan mendoakan seluruh keluarga, para tetangga dan seluruh lingkungan di sekitar kita secara rutin. Tidak peduli dari golongan dan agama manapun mereka kita diajarkan untuk senantiasa mendoakan mereka. Jadi berdoa itu bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi yang terpenting adalah belajar ikhlas untuk mendoakan orang lain di sekitar kita.

Bukan hanya mendoakan saja, tetapi guru juga mengajarkan murid-muridnya untuk menebarkan kasih dan sayang kepada segenap manusia di sekeliling kita dan di lingkungan kita. Tidak peduli dari golongan mana dan penganut agama yang mana mereka itu. Karena tak dapat dipungkiri lagi bahwa Allah pada dasarnya menyayangi seluruh umat manusia.

Dengan demikian guru mengajarkan bahwa kita bukanlah hanya yang terdiri dari kepala, badan, tangan dan kaki semata. Kita adalah jauh lebih luas dan lebih besar dari itu, kita adalah lingkungan di sekitar kita, kita adalah juga pohon dan gunung. Apabila mereka dalam kesusahan maka begitu juga dengan kita. Guru mengajarkan begitu, bahwa kita manusia ini bukanlah mahluk yang diciptakan Allah untuk bersifat egois. Kita adalah rahmat bagi alam semesta.

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS 21:107)

Inilah ajaran yang diamanatkan Allah swt kepada Rasullullah saw bahwa beliau diutus demi untukmenebarkan rahmat bagi semesta alam. Bukan hanya untuk diri dan keluarganya sendiri, bukan hanya untuk umat Islam saja, akan tetapi rahmat bagi seluruh alam.

Jadi apabila saat ini kebanyakan dari umat Islam hanya sibuk mengurusi dirinya sendiri, sibuk menghitung pahala dan amal catatan untuk pribadinya sendiri. Tidak peduli dengan orang lain, dengan umat dari agama lain, dengan pohon dan hewan atau dengan pegunungan dan hutan. Maka sebenarnya ajaran siapakah yang sebenarnya sedang diikuti? Karena Rasul tidak demikian.

Rasullullah saw adalah pelindung dan pembawa rasa aman bagi seluruh manusia, hewan, pohon dan pegunungan. Beliau adalah pribadi yang santun, ramah dan murah senyum, toleran dan tidak menyeramkan bahkan bagi umat non-muslim sekali pun. Bukan pribadi yang egois yang hanya mementingkan kepentingan pribadi dan kelompoknya saja. Beliau adalah pribadi yang layak untuk dicintai oleh segenap mahluk. Beginilah contoh dan tauladan dari Rasullullah saw.

Tanpa kita sadari sebenarnya banyak sekali umat Islam zaman sekarang meninggalkan contoh tauladan Rasullullah saw tersebut dan lebih mengedepankan hadits dan perkataan yang belum tentu itu benar dari Rasullullah saw. Maha Benar Allah yang mengingatkan umat Islam, bahwa yang harus dicontoh adalah suri tauladan Rasullullah saw, bukan hadits atau perkataannya. Karena hadits belum tentu benar keluar dari perkataan beliau, sedangkan suri tauladan beliau itulah yang tidak mungkin dapat dipalsukan.

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS 33:21)

Jadi mengapa sekarang setelah banyak sekali ulama besar dan berilmu tinggi kita umat Islam menjadi seperti ini? Tidak toleran, beringas dan senang menghakimi kelompok lainnya serta egois dan hanya memikirkan amal pahala dirinya sendiri. Kapankah waktunya kita menebarkan kasih sayang dan rahmat ke segenap manusia dan seluruh penjuru alam?

Jadi apa khabar Islam sebagai Rahmatan lil Alamin? (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 20.51