Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Jumat, 3 Juni 2016

Berapa Banyak yang Berharap Pada Pertolongan Allah ?

Pada zaman sekarang ini, sungguh jumlah orang yang beriman kepada Allah swt sedikit sekali. Memang banyak manusia yang percaya pada keberadaan Allah, tetapi kebanyakan dari mereka tidak yakin dengan Allah. Tidak yakin bahwa Allah benar-benar akan memberikan pertolongan.

Buktinya adalah seberapa banyak orang saat ini yang mereka mendasarkan hidupnya hanya pada pertolongan Allah? Apabila Anda ditimpa sesuatu cobaan, misalnya seperti sakit maka apa yang pertamakali terlintas dalam pikiran Anda? Dokter, rumah sakit ataukah pertolongan Allah? Ya, kebanyakan dari alur berfikir manusia saat ini adalah begitu mendapatkan suatu cobaan atau masalah maka jawaban spontannya adalah ikhtiar. Jadi rumusnya adalah: cobaan -> ikhtiar manusia.

Ini adalah alur berfikir yang tertanam di kebanyakan umat Islam saat ini, bahwa ikhtiar manusia adalah hal nomor satu yang harus diupayakan setiap kali ada masalah. Misalnya adalah dalam kasus permasalahan yang menimpa negeri ini, mulai dari masalah ekonomi, politik, bencana alam, wabah penyakit, atau masalah kejahatan, maka apabila Anda memperhatikan dialog wawancara antara seorang pakar dengan seorang pembawa acara: “Apa yang harus diupayakan untuk menanggulangi beban masaalah ini?” pakar tersebut tadi pasti akan menjawab dengan jawaban berupa langkah strategi untuk menanggulangi masalah-masalah tersebut. Tidak pernah mereka menjawab bahwa untuk menanggulangi setiap permasalahan tersebut kita harus senantiasa bergantung pada pertolongan Allah swt.

Padahal negara ini adalah berdasarkan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa. Mengapa tidak ada yang meminta pertolongan Tuhan?

Pernahkah Anda berfikir bahwa segala persoalan yang menimpa Anda saat ini, dan seluruh masalah yang akan menimpa kehidupan Anda kedepan tergantung pada pertolongan Allah?

Pertolongan Allah tampaknya sudah menjadi hal yang klise, sesuatu yang untung-untungan dan tidak banyak orang mendasarkan harapannya lagi pada pertolongan Allah. Kebanyakan orang lebih percaya bahwa setiap permasalahan hanya bisa dipecahkan oleh ikhtiar. Setiap hasil adalah akibat dari kerja keras dan daya upaya kita sendiri. Dengan demikian maka pada hakekatnya kita tidak ada ubahnya dengan orang-orang kafir kalau begitu.

Memang banyak orang yang percaya pada keberadaan Allah, tetapi kebanyakan orang tidak yakin bahwa Allah benar-benar akan menolong mereka. Sehingga saat ini tidak banyak orang yang berharap sepenuhnya pada pertolongan Allah.

Guru menjelaskan kepada murid-muridnya, bahwa apa yang dilakukan oleh para wali dahulu adalah sebaliknya. Mereka sangat yakin dengan Allah dan kemudian Allah menurunkan pertolonganNya kepada mereka dalam setiap masalah kehidupan.

Apabila Anda memperhatikan isi dari ayat-ayat al-Quran, maka yang akan Anda dapati adalah ayat-ayat yang menyatakan: Sesembahan < -> Pertolongan. Kepada siapa Anda menyembah atau beribadah, maka kepadanya lah Anda harus mengharapkan pertolongan, dan begtu juga sebaliknya. Kepada siapa Anda mengharapkan pertolongan, maka pada hakekatnya kepada dialah Anda sedang beribadah dan menyembah.

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
“Hanya KepadaMu lah Kami menyembah, dan hanya kepadaMu lah Kami meminta pertolongan.” (QS 1:5)

Sebagian besar manusia pada zaman dahulu menyembah patung dan berhala, padahal patung dan berhala itu tidak dapat memberikan pertolongan kepada mereka. Begiitulah logika berfikir yang diajarkan Allah, bahwa Anda menyembah sesuatu yang bisa mendatangkan pertolongan kepada Anda.

Saat ini kebanyakan manusia mengharapkan pertolongan pada upaya kerja keras dan ikhtiar manusia itu sendiri. Artinya kebanyakan dari manusia saat ini menyembah dirinya sendiri, mempertuhankan nafs dan hawa nafsunya (ambisinya) sendiri.

أَرَأَيْتَ مَنْ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ أَفَأَنْتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلاً
“Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?” (QS 25:43)

Demikian lah rumus praktisnya: sesembahan <-> pertolongan. Kepada siapa Anda mengharapkan pertolongan, maka pada hakekatnya kepadanyalah Anda menyembah. Demikian juga sebaliknya. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 02.49