Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Rabu, 8 Juni 2016

Pelajaran Penting Dari Sejarah Para Rasul Terdahulu

Sesungguhnya dalam lembaran sejarah para Rasul terdahulu terdapat pelajaran yang sangat berharga, karena ternyata seluruh peristiwa besar yang pernah terjadi di muka bumi ini adalah karena ketentuan Sunatullah yang tetap dan tidak pernah berubah. Sehingga kalau kita membaca sejarah tersebut sepertinya senantiasa berulang-ulang mengikuti suatu hukum dan aturan yang sama dan berlaku selamanya, yaitu aturan Tauhid.

Dengan membaca dan menilik sejarah masa lampau para Rasul tersebut, maka sebenarnya kita dapat memprediksi perjalanan sejarah manusia yang akan menimpa kita di kemudian hari. Karena memang berdasarkan kesimpulan sejarah masa lampau para Rasul tersebut, ternyata tidak ada yang baru, sejarah senantiasa berulang-ulang.

Pada suatu malam pengajian guru menceritakan kepada murid-muridnya sekilas tentang sejarah para Rasul terdahulu, sejarah Nabi Nuh as. Banyak sekali kesimpulan yang dapat kita jadikan pelajaran penting dari kisah para Rasul terdahulu tersebut.

Sejarah manusia selalu menunjukan kecenderungan yang sama, yaitu bahwa lambat laun jumlah orang-orang yang beriman semakin sedikit dan akhirnya habis tak bersisa. Pada saat itulah Allah mengutus seseorang untuk mengemban tugas kerasulan yaitu mengingatkan manusia untuk kembali kepada Allah menjadi orang yang beriman. Inilah tugas dan misi pertama dari ajaran Tauhid.

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ إِنِّي لَكُمْ نَذِيرٌ مُبِينٌ
أَنْ لاَ تَعْبُدُوا إِلاَّ اللَّهَ إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ أَلِيمٍ

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, (dia berkata): "Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang nyata bagi kamu. agar kamu tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab (pada) hari yang sangat menyedihkan". (QS 11:25-26)

Misi kedua dari ajaran Tauhid adalah memberi peringatan kepada manusia akan datangnya azab Allah swt apabila mereka mendustakan peringatan Allah. Jadi pelajaran penting berikutnya adalah apabila di suatu negeri pada suatu zaman penduduknya tidak beriman kepada Allah, atau jumlah orang yang beriman sedikit sekali, maka pasti Allah akan menurunkan azabNya. Inilah ketentuan Allah yang berlaku sepanjang zaman dalam seluruh rentang sejarah manusia di muka bumi. Tidak pernah berubah dan akan selalu berlaku demikian hingga saat ini.

وَيَاقَوْمِ لاَ أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مَالاً إِنْ أَجْرِيَ إِلاَّ عَلَى اللَّهِ وَمَا أَنَا بِطَارِدِ الَّذِينَ آمَنُوا
إِنَّهُمْ مُلاَقُو رَبِّهِمْ وَلَكِنِّي أَرَاكُمْ قَوْمًا تَجْهَلُونَ

“Dan (dia berkata): "Hai kaumku, aku tiada meminta harta benda kepada kamu (sebagai upah) bagi seruanku. Upahku hanyalah dari Allah dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang telah beriman. Sesungguhnya mereka akan bertemu dengan Tuhannya, akan tetapi aku memandangmu suatu kaum yang tidak mengetahui.” (QS 11:29)

Inilah mengapa guru mengingatkan kepada murid-muridnya untuk tidak pernah menerima upah dalam menyampaikan ajaran Tauhid. Guru juga menyampaikan hal ini kepada para ulama, syaikh atau ustadz yang saat ini sudah menjadi selebriti untuk mencontoh apa yang dilakukan oleh seluruh Rasul terdahulu, tidak ada satu pun dari mereka yang meminta upah bagi tugas dakwah yang dilakukannya.

Sehingga setelah semua peringatan dan himbauan tersebut telah disampaikan kepada kaumnya, dan ternyata kaumnya itu mendustakan ajaran Tauhid, maka datanglah ketetapan yang sudah menjadi ketentuan pasti dari Allah yaitu azab yang pedih.

حَتَّى إِذَا جَاءَ أَمْرُنَا وَفَارَ التَّنُّورُ قُلْنَا احْمِلْ فِيهَا مِنْ كُلٍّ زَوْجَيْنِ اثْنَيْنِ وَأَهْلَكَ
إِلاَّ مَنْ سَبَقَ عَلَيْهِ الْقَوْلُ وَمَنْ آمَنَ وَمَا آمَنَ مَعَهُ إِلاَّ قَلِيلٌ

“Hingga apabila perintah Kami datang dan dapur telah memancarkan air, Kami berfirman: "Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing binatang sepasang (jantan dan betina), dan keluargamu kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan terhadapnya dan (muatkan pula) orang-orang yang beriman". Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit.” (QS 11:40)

Guru menceritakan bahwa sebagian dari bentuk Kasih Sayang Allah swt adalah perintah untuk memuat binatang masing-masing sepasang kedalam bahtera Nabi Nuh as. Karena binatang pun juga beriman kepada Allah swt, dan mereka menyembah Allah swt dengan caranya masing-masing.

Dan akhirnya setelah berlayar selama beberapa waktu lamanya, Nabi Nuh as beserta segelintir kecil pengikutnya yang terdiri dari orang-orang yang beriman diselamatkan Allah dari azab besar tersebut.

قِيلَ يَا نُوحُ اهْبِطْ بِسَلاَمٍ مِنَّا وَبَرَكَاتٍ عَلَيْكَ وَعَلَى أُمَمٍ مِمَّنْ مَعَكَ وَأُمَمٌ سَنُمَتِّعُهُمْ ثُمَّ يَمَسُّهُمْ مِنَّا عَذَابٌ أَلِيمٌ
“Difirmankan: "Hai Nuh, turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkatan dari Kami atasmu dan atas umat-umat (yang mukmin) dari orang-orang yang bersamamu. Dan ada (pula) umat-umat yang Kami beri kesenangan pada mereka (dalam kehidupan dunia), kemudian mereka akan ditimpa azab yang pedih dari Kami". (QS 11:48)

Guru menjelaskan bahwa sudah menjadi ketentuan Allah swt yaitu Dia pasti akan menyelamatkan para Rasul dan orang-orang yang beriman dari azab yang besar. Inilah yang terjadi juga pada Nabi Nuh as, Nabi Hud as, Nabi Shaleh as, Nabi Luth as hingga pada Nabi Isa as.

Apakah ketentuan seperti ini hanya berlaku bagi mereka yang hidup di zaman lampau itu saja? Tidak, guru menjelaskan bahwa ketentuan ini berlaku abadi sepanjang sejarah manusia hingga saat ini. Sehingga guru memberi petunjuk kepada murid-muridnya bahwa banyak sekali tulisan sejarah saat ini yang berbeda dengan realita sebenarnya yang terjadi. Bahwa seorang pejuang yang beriman pasti diselamatkan Allah dan memiliki kesudahan yang baik, sebagaimana Allah telah menyelamatkan Nabi Isa as dahulu dari tiang salib.

Guru memberi contoh beberapa nama pejuang yang beriman pada zaman ini dan bagaimana kisah sejarah mereka yang sebenarnya. Bahwa Allah pasti akan menyelamatkan orang-orang yang beriman, sebagaimana Dia juga menyelamatkan para pemuda Ashabul Kahfi.

Kira-kira begitulah isi dari kisah Nabi Nuh as tadi, yang kemudian ternyata sejarah yang sama terulang kembali pada kaum ‘Aad, kaum Tsamud, kaum Sodom, bala tentara Firaun, dan seterusnya sepanjang masa. Tidak ada yang berubah pada sejarah manusia, dan tidak ada yang berubah pula dari ketentuan Allah. Inilah garis besar rangkuman dari misi Tauhid yang diajarkan oleh guru, sebagai penerus dari seluruh misi Rasul-Rasul terdahulu, agar supaya diantara manusia ada segelintir orang yang menyampaikan dan mengingatkan peringatan Allah tersebut. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 23.19