Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Selasa, 14 Juni 2016

Ilmu Yang Wajib Dipelajari

Sebagaimana halnya seorang bayi yang baru dilahirkan, maka tidak perlu semua hal yang ada harus difikirkan dan dilakukannya. Seorang bayi yang baru lahir maka yang menjadi fokus perhatiannya hanyalah bagaimana caranya agar dia bisa memulai hidupnya, yaitu menjaga agar tubuhnya mendapat cukup nutrisi minuman dan cukup untuk beristirahat. Selain dari itu adalah sesuatu yang tidak penting baginya.

Demikianlah awal mula kejadian setiap manusia dalam perkembangan hidupnya, dimulai dari mempelajari setiap sesuatu untuk pertama kalinya agar dapat dipergunakannya untuk meneruskan perkembangan fisik dan keterampilan tubuhnya. Seperti belajar untuk makan dan minum, belajar untuk mengucapkan kalimat bahasa ibunya, belajar untuk memperhatikan keadaan sekelilingnya, belajar untuk berdiri dan berjalan, dan seterusnya. Setiap waktu dan keadaan ada sesuatu fokus perhatian yang harus dipelajarinya pada saat itu. Selain dari itu adalah sesuatu yang tidak penting.

Hingga menjadilah manusia itu dalam suatu kejadian yang sempurna, hingga tubuhnya menjadi seimbang, tidak terlalu besar dan juga tidak terlalu kecil. Tubuh mungil yang semula dalam keadaan lemah itu kemudian tiba-tiba menjadi sempurna dan seimbang, bisa berdiri dengan tegak dan seimbang serta bisa berlari dengan cepat. Benar-benar sempurna secara lahir dan bathin, mulai dari ujung kepala sampai dengan ujung kaki seorang anak manusia jauh lebih unggul dibandingkan dengan segala jenis mahluk Allah lainnya. Bentuknya sempurna, proporsional, lentur, tidak terlampau kuat tapi juga tidak terlampau lemah, stabil dan dinamis sekaligus. Cerdas dan cekatan.

الَّذِي خَلَقَكَ فَسَوَّاكَ فَعَدَلَكَ
“Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang,” (QS 82:7)

Nah, setelah sempurna kejadiannya, maka selanjutnya apakah yang harus dipelajari oleh setiap manusia? Manusia itu selain mempelajari mana saja yang termasuk hal-hal yang baik dan mana saja yang termasuk hal-hal yang buruk, juga diwajibkan untuk meneruskan perkembangannya dengan mempelajari aturan serta nilai-nilai luhur semenjak kanak-kanak.

Aturan dasar perilaku, sikap, aturan etika di rumah dan di lingkungan masyarakat sampai kepada aturan dasar agamanya.

Kemudian setelah beranjak dewasa, setelah manusia itu mulai sempurna akal dan fikirannya, maka setelah manusia mengenal dan mempraktekan segala aturan serta ajaran agamanya, maka selanjutnya apakah yang harus dipelajari oleh setiap manusia? Apakah setiap manusia itu harus mempelajari ilmu Syariat Islam? Apakah setiap manusia harus ikut mengaji sehingga mengerti Hukum Fiqh? Apakah setiap manusia harus belajar tajwid dan ilmu membaca al-Quran?

Nah, pada tahapan inilah kemudian berkembang berbagai macam fikiran dan pola pendidikan yang beragam. Yang sebenarnya semua keragaman tadi adalah sesuatu yang tidak penting bagi perkembangan seorang manusia untuk mencapai derajat kesempurnaannya.

Setelah akal dan fikiran manusia sudah sempurna. Pengetahuan dasar dan kecerdasan serta kematangan pemikiran sudah mencukupi, maka ilmu yang harus dipelajari oleh setiap manusia adalah ilmu Tauhid. Yaitu ilmu yang mewajibkan manusia untuk mengenal dan menemukan siapakah Tuhannya. Dengan mengenal Tuhannya maka manusia tidak akan tersesat selama-lamanya, serta tidak akan terjerumus kehidupannya. Sebagai bekal yang cukup baginya untuk menempuh perjalanan hidupnya kemudian. Ilmu Tauhid akan mendatangkan suatu ikatan aqidah yang mendasar, yang akan dijadikan pedoman bagi manusia untuk melangkah. Inilah ilmu Tauhid yang merupakan ilmu wajib bagi setiap manusia.

Dengan mengenal Tuhannya maka manusia tidak akan menjadi seperti Firaun, yang tidak mengenal Tuhan Alam Semesta ini.

قَالَ فِرْعَوْنُ وَمَا رَبُّ الْعَالَمِينَ
“Fir'aun bertanya: "Siapa Tuhan semesta alam itu?" (QS 26:23)

Inilah ilmu essensial yang harus dipelajari oleh setiap manusia, agar dengan mengenal Tuhannya maka manusia dapat melangkah kedepan untuk menapaki jalan hidup berikutnya dengan berdasarkan Tauhid.

وَاذْكُرْ عِبَادَنَا إبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ أُوْلِي الأَيْدِي وَالأَبْصَارِ
“Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq dan Ya'qub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi.” (QS 38:45)

Ilmu yang tinggi yang dimaksud dalam ayat di atas tidak lain adalah ilmu Tauhid, yaitu ilmu pengetahuan yang mengantarkan manusia untuk dapat mengenal siapa Tuhannya. Bukan ilmu lainnya.

Sehingga pada langkah-langkah perjalanan hidup manusia berikutnya, maka tatkala dia dihadapkan dengan berbagai macam ujian dan cobaan hidup, manusia telah siap karena manusia yang telah mengenal Tuhannya maka dia memiliki pegangan hidup yang kokoh, karena dia tahu kepada siapa dia harus meminta pertolongan. Ujian dalam hidup itu bisa berupa mara bahaya maupun ujian berupa kenikmatan hidup di dunia.

فَإِذَا مَسَّ الإِنسَانَ ضُرٌّ دَعَانَا ثُمَّ إِذَا خَوَّلْنَاهُ نِعْمَةً مِنَّا قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَى
عِلْمٍ بَلْ هِيَ فِتْنَةٌ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لاَ يَعْلَمُونَ

“Maka apabila manusia ditimpa bahaya ia menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan kepadanya nikmat dari Kami ia berkata: "Sesungguhnya aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepintaranku". Sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka itu tidak mengetahui.” (QS 39:49)

Hingga setelah melewati beberapa kali ujian dalam hidupnya, sampailah manusia di usia yang tua. Dimana kemudian Allah sudah bisa menentukan apakah seseorang itu tergolong orang yang beriman atau bukan orang beriman (orang yang berdusta).

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لاَ يُفْتَنُونَ
وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS 29:2-3)

Begitulah kira-kira rangkuman perkembangan seorang manusia itu untuk bisa mencapai derajat insan kamil, yaitu mahluk Allah yang sempurna. Yaitu hendaknya setiap manusia mempelajari ilmu Tauhid, karena ini adalah ilmu yang wajib untuk dipalajari agar supaya manusia mengenal siapa Tuhan yang disembahnya.

Karena tidak berguna ibadah dan pekerjaan yang dilakukan oleh seseorang apabila dia tidak mengenal Tuhannya.

Ilmu-ilmu lainnya seperti ilmu Syariat Islam, ilmu Fiqh, ilmu hukum, ilmu sosial, ilmu kedokteran dan pengobatan, ilmu teknik, sains dan sebagainya adalah ilmu-ilmu cabang yang bersifat fardhu kifayah. Tidak wajib setiap manusia untuk mempelajarinya.

Ini adalah hal yang perlu difahami, sehingga setiap kali diadakan pengajian, atau pun pesantren kilat, maka sadarilah: bahwa tidak semua orang wajib untuk menjadi ahli Fiqh, ahli hukum agama atau ahli Syariat. Yang paling utama untuk diperiksa adalah apakah seseorang sudah menguasai ilmu Tauhid dengan sempurna atau belum, itu yang paling penting untuk dipastikan. Selain dari itu sebenarnya bukanlah hal yang penting bagi perjalanan hidup manusia. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 02.29