Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Senin, 10 Oktober 2016

Ibadah Yang Paling Utama

Setiap agama di dunia ini mengenal apa yang dinamakan dengan ibadah, yaitu pekerjaan ritual seorang hamba kepada Tuhannya dalam rangka untuk mengabdikan dirinya. Khususnya dalam ajaran agama Islam, maka ibadah ini banyak sekali macamnya. Dimulai dari ibadah yang bersifat umum sampai kepada ibadah dalam artian khusus, seperti ibadah sholat, puasa, berzakat, naik haji atau melaksanakan umroh, bersedekah sampai dengan berjihad di jalan Allah.

Akan tetapi dari keseluruhan jenis ibadah-ibadah tadi, maka sesungguhnya yang paling utama adalah ibadah mengingat Allah. Dasarnya adalah pernyataan Allah swt berikut ini di dalam al-Quran.

وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ
“.....Dan sesungguhnya mengingat Allah adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS 29:45)

Jadi ibadah mengingat Allah jauh lebih utama ketimbang sholat, puasa atau pergi haji.

Oleh karena sedemikian pentingnya ibadah mengingat Allah ini, maka guru mengajarkan kepada murid-muridnya untuk senantiasa mengingat Allah dalam keadaan apapun dan kapanpun juga. Sebagaimana Allah juga memerintahkan agar kita senantiasa mengingat Allah swt seperti firmanNya berikut ini.

فَإِذَا قَضَيْتُمْ الصَّلاَةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِكُمْ
“Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat, ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring.....” (QS 4:103)

Dalam rangka berzikir dan mengingat Allah ini, guru mengajarkan murid-muridnya untuk melakukannya di dalam lubuk hati yang paling dalam. Jadi tidak perlu dengan cara melafalkannya melalui suara, karena berzikir bukan merupakan perbuatan lidah dan mulut, melainkan hati dan jiwa. Hal ini sesuai dengan firman Allah berikut ini yang mengajarkan bagaimana seharusnya seorang manusia melakukan ibadah mengingat Allah.

وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنْ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالآصَالِ وَلاَ تَكُنْ مِنْ الْغَافِلِينَ
“Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (QS 7:205)

Selanjutnya guru menerangkan murid-muridnya, bahwa yang dimaksud dengan berzikir dalam rangka mengingat Allah ini adalah dengan mewiridkan di dalam hati Syahadat, Istgihfar dan Sholawat kepada Rasul.

Apabila dalam satu hari tertentu Anda lupa atau tidak sempat melaksanakan ibadah mengingat Allah ini, maka bisa dikatakan bahwa pada hari tersebut Anda sudah lalai. Mudah-mudahan Anda segera menyadari keadaan yang seperti ini, dan kemudian segera memperbaikinya di keesokan hari dengan banyak-banyak melaksanakan ibadah mengingat Allah.

Orang yang membiarkan dirinya senantiasa dalam keadaan lalai, merupakan orang yang merugi. Hal ini disebabkan karena Allah akan menjadikan orang tersebut menjadi orang yang lupa kepada diri mereka sendiri.

وَلاَ تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُوْلَئِكَ هُمْ الْفَاسِقُونَ
“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS 59:19)

Orang yang melupakan diri mereka sendiri adalah orang yang di setiap perbuatannya tidak ditujukan untuk mendatangkan kebahagiaan, ketentraman dan ketenangan bagi jiwanya sendiri, yaitu diri sejatinya sendiri.

Mereka senantiasa mengejar ambisinya, melampiaskan hawa nafsunya, meluapkan kesenangan pribadi dan mengejar kenikmatan duniawi, tapi sama sekali tidak mendatangkan kebahagiaan, ketentraman dan ketenangan bagi jiwanya. Apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh dirinya sendiri justru tidak pernah dicari dan didapatkan, mereka benar-benar melupakan dirinya sendiri.

Justru dengan mengejar ambisinya, melampiaskan hawa nafsunya, meluapkan kesenangan pribadi dan mengejar kenikmatan duniawi, yang akhirnya didapatkan adalah kesengsaraan, kegalauan dan kegelisahan jiwa. Mereka itulah yang dinamakan Allah sebagai orang-orang yang fasik.

Awas, coba Anda perhatikan baik-baik keadaan orang-orang di sekeliling kita. Jangan-jangan ternyata banyak sekali orang-orang fasik berkeliaran di sekitar kehidupan kita. Ya, ternyata mereka ada di sekitar kita. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 22.26