YAKDI - Opini Aktual
Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Selasa, 11 Oktober 2016

Tasyabbuh

Tasyabbuh secara etimologis adalah menyerupai orang lain dalam suatu perkara. Sedangkan secara terminologis artinya adalah menyerupai orang-orang kafir.

Sikap tasyabbuh ini diajarkan secara fanatik oleh banyak sekali kalangan ulama-ulama saat ini, bukan hanya terhadap hal-hal yang prinsip dan mendasar, tetapi juga pada hal-hal lainnya seperti cara berpakaian, gaya rambut atau memelihara jenggot. Kita umat Islam dilarang untuk menyerupai kebiasaan, cara berpakaian, cara makan atau pun kebiasaan lainnya dari orang-orang kafir.

Dasar yang dipergunakan sebagai hujjah ini adalah firman Allah swt dalam al-Quran berikut ini:
وَلاَ تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنْ الْحَقِّ
“...Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu...” (QS 5:48)

ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَى شَرِيعَةٍ مِنْ الأَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلاَ تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ لاَ يَعْلَمُونَ
“Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.” (QS 45:18)

Sedemikian kerasnya ajaran tasyabbuh yang diajarkan oleh banyak kalangan ulama saat ini sehingga kita bahkan dilarang untuk merayakan ulang tahun atau pun tahun baru, karena keduanya merupakan kebiasaan dari orang-orang kafir

Gambar di atas pada tulisan ini adalah gambar orang yang sedang mendendangkan Sholawat Nabi. Melantunkan lagu-lagu yang berisi ayat-ayat al-Quran dan termasuk juga mendendangkan Sholawat Nabi sebenarnya adalah juga merupakan tasyabbuh, yaitu menyerupai ibadah yang dilakukan oleh orang-orang Nasrani. Karena orang-orang Nasrani selalu menyanyikan lagu-lagu pujian dalam ibadah mereka.

Demikian juga halnya apabila saat ini banyak artis-artis yang mendendangkan lagu-lagu bernuansa Islam yang banyak kita jumpai di radio dan televisi saat ini, sebenarnya juga merupakan tasyabbuh karena mirip dengan cara orang-orang Nasrani beribadah.

Guru kita mempertanyakan: Mengapa untuk hal yang satu ini tidak ada ulama yang melarangnya? Padahal masalah ibadah adalah hal yang jauh lebih mendasar dan prinsipil dibandingkan dengan sekedar meniru mode rambut atau pun cara berpakaian. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 19.17